JAGUNG BAKAR, ANGKOT MM, DAN RINDU LINGKARAN HIDUP YANG MEMBESARKANKU
SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Dari hari pertama kita tiba di planet ini, kata Elton John, kita seperti bayi yang baru melek—kedip-kedip, silau, lalu belajar berdiri di bawah matahari. Dan entah kenapa, setiap kali lirik itu terngiang di kepalaku, wajah Kota Malang selalu muncul duluan. Udara dingin yang nyelip di jaket tipis, bau bakso di setiap sudut, dan rasa “hidup” yang sederhana tapi penuh makna. Malang bukan sekadar kota persinggahan. Ia adalah sekolah kehidupan. Tempat aku belajar jatuh, ketawa, lapar, patah hati, jatuh cinta, kehilangan, dan pelan-pelan menemukan tempatku sendiri di lingkaran hidup. Jagung Bakar dan Perut yang Selalu Lapar Masa Depan Di Malang, makan jagung bakar itu bukan sekadar ngemil. Itu ritual. Sekali nongkrong bisa lima sampai sepuluh jagung. Jangan tanya rasanya—yang jelas, perut kenyang tapi hati tetap lapar. Lapar mimpi. Lapar masa depan. Kami duduk melingkar, asap jagung naik ke langit Malang yang dingin. Obrolan ngalor-ng...