DARI BICARA UNTUK DIDENGAR, KE BICARA UNTUK MEMAHAMI
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : (Sebuah Kisah dari Lorong Belakang Hingga Panggung Aula Utama) Ada masa dalam hidupku—masa yang penuh idealisme, penuh ego muda, penuh ambisi ala mahasiswa yang baru menemukan “suara”—ketika aku percaya bahwa menjadi pembicara berarti harus tampil keren. Harus bikin ruangan diam. Harus bikin orang takjub waktu aku buka mulut. Pokoknya, kalau bisa, aura-aura “tokoh inspiratif” muncul otomatis begitu langkahku naik panggung. Tapi hidup, seperti biasa, punya cara halus untuk menepuk kepalaku dan bilang, “Eh, bukan begitu.” Karena makin banyak aku bicara, makin aku sadar… Ternyata pembicara sejati bukan yang membuat orang mendengarkan, tapi yang membuat orang merasa didengar. Aneh ya? Tapi justru itu yang akhirnya menghantamku paling keras. Karena aku pernah jadi anak yang tidak pernah benar-benar didengar. Anak yang suaranya pelan. Yang kalau gugup, tangan bingung mau ngapain. Yang w...