Postingan

Menampilkan postingan dari November 16, 2025

DARI BICARA UNTUK DIDENGAR, KE BICARA UNTUK MEMAHAMI

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : (Sebuah Kisah dari Lorong Belakang Hingga Panggung Aula Utama)   Ada masa dalam hidupku—masa yang penuh idealisme, penuh ego muda, penuh ambisi ala mahasiswa yang baru menemukan “suara”—ketika aku percaya bahwa menjadi pembicara berarti harus tampil keren. Harus bikin ruangan diam. Harus bikin orang takjub waktu aku buka mulut. Pokoknya, kalau bisa, aura-aura “tokoh inspiratif” muncul otomatis begitu langkahku naik panggung. Tapi hidup, seperti biasa, punya cara halus untuk menepuk kepalaku dan bilang, “Eh, bukan begitu.” Karena makin banyak aku bicara, makin aku sadar… Ternyata pembicara sejati bukan yang membuat orang mendengarkan, tapi yang membuat orang merasa didengar. Aneh ya? Tapi justru itu yang akhirnya menghantamku paling keras. Karena aku pernah jadi anak yang tidak pernah benar-benar didengar. Anak yang suaranya pelan. Yang kalau gugup, tangan bingung mau ngapain. Yang w...

SAAT YANG PERGI MENGAJARI KITA BERTAHAN

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : (sebuah kisah kehilangan yang diam-diam membentuk hati kita jadi lebih kuat) Kadang hidup itu kayak komedian yang nggak pernah tampil di TV, tapi jagonya nge-prank hati orang. Pelan, halus, tapi nyelekitnya itu lho… kayak sambel rawit yang keliatan jinak, tapi begitu kena lidah langsung bikin mata berair. Kita lagi asik-asiknya pegang sesuatu yang bikin nyaman—orang yang kita sayang, momen yang bikin hangat, rencana masa depan yang udah kita susun rapi—eh, tiba-tiba semesta kayak nyeletuk, “Udah ya, jatahnya segini aja.” Dan di situ kita cuma bisa bengong. Menarik napas panjang. Sambil mikir, “Loh… kok cepet banget?” Dulu, setiap kali ada yang “hilang”, rasanya dunia tuh kayak mau roboh. Drama air mata? Sering. Ngambek sama takdir? Ya iyalah, manusiawi. Kadang sampe tanya ke Allah, “Ya Allah… kenapa harus aku? Apa aku kurang baik?” Tapi makin dewasa, kita pelan-pelan sadar… bahwa kehilangan it...

ISLAMIC.BALI — KETIKA KEHADIRAN MENJADI PELAYANAN, DAN PELAYANAN MENJADI DOA

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :   Kadang cerita besar itu lahir dari obrolan yang kelihatannya receh—sekedar nongkrong sambil ngeteh, saling lempar ide, dan tiba-tiba… klik! Ada sesuatu yang menggugah hati. Begitu juga hari itu, waktu aku dan teman-temanku ngobrol santai tentang satu hal: kebutuhan . Bukan kebutuhan kita saja, tapi kebutuhan semua orang yang datang ke Bali. Sebuah pulau yang sejak lama jadi panggung dunia—tempat di mana semua manusia datang dengan harapan, rasa takjub, dan tentu… rasa ingin dilayani dengan baik. Dan tanpa kita sadari, percakapan itu membuka jalan untuk perjalanan panjang.   Ketika Bali Berubah, Dunia Pun Menatap Pertumbuhan industri pariwisata di Bali bukan lagi sekadar berita—itu kenyataan sehari-hari. Dari tahun ke tahun, pintu bandara semakin ramai, koper-koper makin penuh, dan wajah-wajah baru muncul sepanjang jalan. Wisatawan Timur Tengah meningkat hingga ratusan ribu orang, wis...

“KETIKA BANYAK BAJU, TAPI TAK SATU PUN PAS – (Sebuah Catatan Harapan untuk Organisasi Islam di Bali)

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :   Kadang hidup itu suka ngasih kita adegan-adegan kecil yang bikin kita garuk-garuk kepala sambil senyum miris. Kayak momen ketika kita berdiri di depan lemari pakaian yang penuh sesak… tapi tiap baju yang kita coba terasa nggak pas . Entah kepanjangan, kependekan, kegedean, atau warnanya bikin kita kelihatan kusut. Nah, persis kayak itulah rasanya ketika melihat banyaknya organisasi Islam di Bali. Benderanya banyak, logonya keren-keren, visi misi tertulis rapi, postingan Instagramnya estetik banget… tapi pas “dicoba dipakai” oleh ummat, kok ya pas-nya itu cuma di kertas, bukan di kehidupan nyata. Awalnya kita berpikir: “Wah, lengkap banget ini! Ummat pasti aman banget.” Tapi setelah ikut turun lapangan, ikut rapat, ngopi sama para pengurus, denger keluhan sama keluhan… tibalah kesadaran pahit itu: “Lho… kenapa semua ini terasa kayak toko baju besar… tapi ruang nyatanya kosong?” Padahal oran...