KETIKA KESALAHAN TAK SELALU SALAH, TAPI BERHENTI MENCOBA—ITULAH KESALAHAN
SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :
Ada satu fase dalam hidup yang sering kita lewati sambil menunduk: fase salah. Salah ngomong, salah milih jalan, salah percaya orang, salah ngatur waktu, salah berharap. Pokoknya salah. Dan lucunya, kita sering merasa hidup ini seperti lomba lari—siapa yang paling sedikit salah, dia yang menang. Padahal kenyataannya, hidup ini bukan lomba lari, tapi lebih mirip jalan kampung yang penuh lubang. Kalau nggak pernah nyemplung ke lubang, biasanya bukan karena jago, tapi karena belum jalan jauh.
Aku juga begitu. Berkali-kali jatuh di lubang yang sama. Bahkan kadang sambil sadar, “Ini lubang, lho,” tapi tetap saja dilangkahi dengan percaya diri… lalu bruk. Di titik itu biasanya muncul dialog batin yang sok bijak tapi telat: “Harusnya tadi aku belok.” Ya iyalah, sekarang kaki sudah lecet. Tapi justru dari lecet-lecet itulah aku belajar satu hal penting: kesalahan itu bukan musuh, dia guru yang cara ngajarnya agak kasar.
Kesalahan sering kita anggap sebagai tanda kegagalan. Padahal, sering kali dia cuma penanda bahwa kita sedang bertumbuh. Bayi belajar jalan pasti jatuh. Kalau bayi takut jatuh dan memilih diam di kasur seumur hidup, mungkin dia aman—tapi dia nggak akan pernah sampai ke pintu. Hidup juga begitu. Kita jatuh bukan karena bodoh, tapi karena berani melangkah. Dan keberanian itu sendiri sudah prestasi kecil yang sering kita lupa syukuri.
Ada masa di hidupku ketika rasa malu karena salah lebih besar daripada semangat untuk bangkit. Rasanya dunia berhenti, padahal yang berhenti cuma aku. Orang lain tetap jalan, matahari tetap terbit, dan waktu tetap berjalan sambil senyum tipis, seolah berkata, “Kalau kamu mau nyusul, ayo. Kalau mau diam, ya silakan.” Di situ aku sadar: dunia tidak sekejam itu, yang sering kejam justru pikiran kita sendiri.
Kesalahan tak selalu salah. Kadang ia adalah jalan memutar yang ternyata membawa kita ke pemandangan yang lebih indah. Rencana yang gagal bisa jadi sedang menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar. Hubungan yang kandas mungkin sedang memberi ruang agar kita belajar mencintai diri sendiri dulu. Usaha yang bangkrut sering kali adalah sekolah kehidupan paling mahal, tapi juga paling jujur.
Dan di tengah semua itu, humor kecil jadi penolong setia. Menertawakan diri sendiri adalah bentuk penerimaan paling dewasa. Ketika kita bisa bilang, “Oke, ini kacau… tapi setidaknya aku belajar,” di situlah hati mulai ringan. Hidup memang serius, tapi tidak harus selalu tegang. Kadang Tuhan mengizinkan kita salah bukan untuk dihukum, tapi supaya kita berhenti sok sempurna.
Yang benar-benar salah itu bukan gagal. Yang salah adalah berhenti mencoba. Berhenti berharap. Berhenti bergerak hanya karena satu dua luka. Sebab selama kita masih mau melangkah, meski tertatih, kita masih hidup. Dan selama kita masih hidup, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki arah.
Aku percaya, manusia bukan dinilai dari seberapa jarang ia salah, tapi dari seberapa jujur ia belajar. Dari seberapa rendah hati ia mengakui, dan seberapa gigih ia bangkit. Luka akan sembuh, malu akan pudar, tapi pelajaran akan tinggal lama—menjadi bekal di perjalanan berikutnya.
Jadi kalau hari ini kamu sedang berada di titik salah, tarik napas sebentar. Jangan buru-buru menghakimi diri sendiri. Lihat kesalahan itu baik-baik. Dengarkan apa yang ingin ia ajarkan. Lalu bangkit pelan-pelan. Tidak perlu sempurna. Cukup maju satu langkah saja hari ini.
Karena pada akhirnya, kita tidak tumbuh dari keberhasilan yang mulus. Kita tumbuh dari proses yang berantakan, penuh salah, tapi dijalani dengan hati yang tidak menyerah. Dan selama kamu masih mau mencoba, percayalah—kamu sedang berada di jalan yang benar.