Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 28, 2025

21 - DARI LORONG BELAKANG KE PANGGUNG DEPAN

Gambar
  Petualangan Menjadi Ketua Senat Fakultas Ekonomi Ada masanya hidup datang bukan sambil mengetuk pintu, tapi langsung masuk, duduk, dan bilang, “Bro, ini tanggung jawab baru. Siap gak siap, kamu ambil.” Dan hari itu, hidup menemuiku tepat setelah kelas jam 10 bubar. Aku masih bingung mau makan di kantin atau ngutang ke warteg lagi — keputusan besar ala mahasiswa akhir bulan. Tiba-tiba, Mas Arief Adi Wibawa—Ketua Senat FE yang selalu tampil rapi seolah habis difoto majalah kampus—ngajak aku duduk. Serius. Bahkan sendalnya pun rapi lurus. “Nucky…” katanya pelan tapi mantap, “Kamu ini punya potensi. Bantu aku kembangkan Senat, ya?” Aku bengong. Setengah hati melayang. Setengah lagi kayak nanya ke malaikat Raqib: “Are you kidding me?” Aku? Anak non-Senat? Anak UKM Fordimapelar yang dulu cuma tepuk tangan di barisan belakang? Anak kompleks, yang dulu kalau maju presentasi, tangan dingin lebih dingin dari AC ruang seminar? Tapi… aku bukan yang dulu. Aku sudah ditempa. ...

20 - DARI ANAK MIDER KE MEJA FORUM NASIONAL

Gambar
  Perjalanan Bocah Kampus yang (Akhirnya) Gak Bisa Diam Awalnya, hidup kampus buatku itu sederhana: datang tepat waktu, duduk paling pinggir, nyatet paling rajin, dan pulang paling cepat. Pokoknya tipikal mahasiswa yang kalau difoto kelas pasti cuma kelihatan ujung rambut. Waktu OSPEK, aku cuma berharap satu: jangan sampai kakak senior nunjuk aku buat orasi dadakan. Setiap ada momen perkenalan, aku langsung pura-pura sibuk nyari pulpen jatuh—padahal pulpennya mah aman di saku. Temen-temen seangkatanku ada yang udah kayak “manusia PowerPoint”: cara ngomongnya runtut, rapi, ada punchline, ada kesimpulan. Sementara aku? Ya cuma numpang tepuk tangan biar gak terlalu kelihatan inferior. “Wah keren ya…” gumamku setiap ada yang orasi. Dalam hati, ada suara kecil nyinyir: Bro, kamu kapan naik level? Tapi ya sudahlah. Toh waktu itu tugasku cuma kuliah dan memastikan tinta pulpen warna-warni gak habis.   Erry  Nurul dan Sore yang Menampar Satu sore, tiba-tiba Erry, te...

18 - GEMERLAP MALANG DAN DETAK DETAK PENCARIAN JATI DIRI

Gambar
  Hari-hari kuliah akhirnya masuk fase yang bisa dibilang lumayan jinak . Bukan berarti ringan—jangan salah—tetap padat seperti angkot warna biru jurusan Arjosari–Landungsari pas jam pulang kerja. Tapi setidaknya aku sudah hafal iramanya. Aku tahu jam berapa harus berangkat supaya tidak telat, jalan pintas mana yang bisa memotong sepuluh menit hidup, dan waktu paling aman buat antre fotokopi tanpa harus adu tatap mata dengan mahasiswa tingkat akhir yang matanya lebih lelah dari dompetku. Aku juga mulai paham karakter dosen-dosen. Ada yang kalau ngajar rasanya seperti nonton stand-up comedy—materinya berat, tapi cara nyampeinnya bikin ketawa, walau kita tetap nggak lulus kuis dadakan. Ada juga yang ngomongnya datar kayak pembaca berita jam lima pagi, suaranya tenang tapi bikin kepala mengangguk tanpa izin. Dan ada satu dosen favoritku, yang setiap menjelaskan teori sosial selalu diawali dengan kalimat, “Ini penting untuk hidup kalian nanti.” Padahal hidup kami waktu itu cuma mikir...

17 - UNIVERSITAS MERDEKA : KIJANG KELUAR KANDANG - KAMPUS MEGAH YANG MENGINSPIRASI

Gambar
  Hari-hariku berubah total. Kalau sebelumnya aku hidup dalam ritme Bali yang santainya kebangetan—angin pantai yang selalu sok akrab, obrolan warung yang seperti kanal gosip nasional, dan waktu yang berjalan lembut macam tari legong—sekarang aku seperti ditarik masuk ke mesin cuci ukuran jumbo bernama Universitas Merdeka Malang. Dari suasana rumahan jadi keramaian. Dari kompleks kecil jadi lautan manusia. Dari anak SMA jadi… seseorang yang harus pura-pura dewasa demi bertahan hidup. Sungguh, masuk kampus itu rasanya kayak jadi kijang keluar kandang —bebas, tapi bego arah. Lari-lari, mentok tiang, mundur dikit, terus lari lagi. Dan aku? Ya begitu. Kijang pemula.   OSPEK: Dunia Baru Dengan Aturan Lama Hari pertama ospek datang seperti petasan cap badak—meledak tanpa permisi. “Mahasiswa baru, kumpul jam ENAM pagiiii!” Suara senior itu menggelegar, bikin kupikir dia dulu waktu bayi pasti nggak nangis, tapi langsung orasi. Atribut kami ajaib: Topi karto...