21 - DARI LORONG BELAKANG KE PANGGUNG DEPAN
Petualangan Menjadi Ketua Senat Fakultas Ekonomi Ada masanya hidup datang bukan sambil mengetuk pintu, tapi langsung masuk, duduk, dan bilang, “Bro, ini tanggung jawab baru. Siap gak siap, kamu ambil.” Dan hari itu, hidup menemuiku tepat setelah kelas jam 10 bubar. Aku masih bingung mau makan di kantin atau ngutang ke warteg lagi — keputusan besar ala mahasiswa akhir bulan. Tiba-tiba, Mas Arief Adi Wibawa—Ketua Senat FE yang selalu tampil rapi seolah habis difoto majalah kampus—ngajak aku duduk. Serius. Bahkan sendalnya pun rapi lurus. “Nucky…” katanya pelan tapi mantap, “Kamu ini punya potensi. Bantu aku kembangkan Senat, ya?” Aku bengong. Setengah hati melayang. Setengah lagi kayak nanya ke malaikat Raqib: “Are you kidding me?” Aku? Anak non-Senat? Anak UKM Fordimapelar yang dulu cuma tepuk tangan di barisan belakang? Anak kompleks, yang dulu kalau maju presentasi, tangan dingin lebih dingin dari AC ruang seminar? Tapi… aku bukan yang dulu. Aku sudah ditempa. ...