ELECTRIC YOUTH
5 Februari 2026 Hari ini aku duduk berhadapan dengan seorang anak muda bernama Ethan —pemuda asal Karibia dengan mata yang menyala-nyala oleh ide. Ia mempresentasikan Discussion on Bali Caribbean Carnival bukan sekadar sebagai acara, tapi sebagai panggung identitas, perayaan lintas budaya, dan keberanian generasi muda untuk berkata, “Kami ada, dan kami siap.” Saat ia berbicara, aku merasakan energi itu menular—energi yang tidak dibuat-buat, tidak dibungkus jargon, tapi lahir dari keyakinan. Dan entah bagaimana, energi itu menarikku mundur ke lorong waktu, ke awal 90-an, ke masa ketika jiwa mudaku pernah bergetar oleh suara yang sama-sama lantang menyebut masa depan: “Electric Youth.” Lagu Debbie Gibson itu—ditulis dan diproduseri olehnya sendiri—bukan sekadar pop ceria. Ia adalah pernyataan. Sebuah anthem yang menyentil generasi muda agar berani berdiri, didengar, dan dipercaya. Kritik memujinya sebagai tanda kedewasaan artistik; produksi musiknya liar dan futuristik, penuh synth ...