IKHTIAR BALI MENJAGA UANG, MARTABAT, DAN MASA DEPAN
Pada suatu titik, Bali harus jujur bercermin. Pulau ini indah, dunia mengakuinya. Wisatawan datang jutaan, kamar hotel berjejer rapi, okupansi berdenyut seperti nadi ekonomi. Tapi ada satu pertanyaan sunyi yang jarang dibahas dengan suara lantang: uangnya tinggal di Bali atau hanya mampir sebentar lalu pulang ke luar negeri? Dari kegelisahan itulah gagasan Strategi Subsidi Hotel untuk melawan dominasi OTA (Online Travel Agent) asing lahir—sebuah ide yang terdengar heroik, sedikit nekat, dan jelas tidak murah. Secara akademis, ini bukan sekadar soal diskon kamar, tapi tentang bagaimana sebuah daerah berjuang menjaga kedaulatan ekonomi di tengah arus digital global yang deras, licin, dan sering tak terasa menggerus dari dalam. Jika kita turunkan diskusi ini ke meja angka, realitasnya langsung terasa berat. Bali memiliki sekitar 160.000 kamar hotel. Dengan asumsi okupansi rata-rata 60%, maka dalam setahun ada kurang lebih 35 juta malam kamar terjual. Bayangkan jika pemerintah memberi s...