CEMAGI, GERBANG TERAKHIR SEBELUM KITA KEHILANGAN RUMAH
Ada sebuah pertanyaan yang kadang muncul diam-diam ketika saya berjalan melewati desa-desa di Bali: Sebenarnya, sampai kapan Bali bisa tetap menjadi Bali? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Sebab Bali bukan benda mati yang bisa kita masukkan ke dalam etalase, diberi label “Authentic Bali” , lalu kita pastikan tidak berubah. Bali adalah manusia. Ia lahir, tumbuh, beradaptasi, tertawa, marah, bekerja, berdoa, mencintai, kehilangan, lalu mencoba bangkit lagi. Karena itu, ketika saya menulis Paradoks Bali , saya tidak sedang ingin mencari siapa yang salah. Saya hanya sedang mencoba mendengar. Mendengar suara tanah yang perlahan kehilangan ruang. Mendengar petani yang masih mencangkul, tetapi anaknya lebih tertarik bekerja di hotel. Mendengar laut yang tetap datang setiap pagi, meskipun manusia semakin sering datang membawa sampah. Mendengar desa yang masih menjalankan adat, tetapi harus berbagi ruang dengan kepentingan ekonomi yang semakin besar. Dan mungkin yang paling sulit dideng...