JAGUNG BAKAR, ANGKOT MM, DAN RINDU LINGKARAN HIDUP YANG MEMBESARKANKU

SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :



Dari hari pertama kita tiba di planet ini, kata Elton John, kita seperti bayi yang baru melek—kedip-kedip, silau, lalu belajar berdiri di bawah matahari. Dan entah kenapa, setiap kali lirik itu terngiang di kepalaku, wajah Kota Malang selalu muncul duluan. Udara dingin yang nyelip di jaket tipis, bau bakso di setiap sudut, dan rasa “hidup” yang sederhana tapi penuh makna.

Malang bukan sekadar kota persinggahan. Ia adalah sekolah kehidupan. Tempat aku belajar jatuh, ketawa, lapar, patah hati, jatuh cinta, kehilangan, dan pelan-pelan menemukan tempatku sendiri di lingkaran hidup.

Jagung Bakar dan Perut yang Selalu Lapar Masa Depan

Di Malang, makan jagung bakar itu bukan sekadar ngemil. Itu ritual. Sekali nongkrong bisa lima sampai sepuluh jagung. Jangan tanya rasanya—yang jelas, perut kenyang tapi hati tetap lapar. Lapar mimpi. Lapar masa depan.

Kami duduk melingkar, asap jagung naik ke langit Malang yang dingin. Obrolan ngalor-ngidul: tentang kuliah, cinta, uang kos, dan cita-cita yang kelihatannya masih jauh banget. Tapi seperti kata lagu itu, there’s more to do than can ever be done. Bahkan di sela-sela jagung bakar murahan, hidup diam-diam sedang membesarkan kami.

Angkot MM dan Doa yang Tak Pernah Turun

Setiap pagi, angkot MM jadi saksi perjuangan mahasiswa kere tapi berani mimpi. Naik angkot ke Kampus Unmer itu rasanya campur aduk: kadang semangat, kadang capek, kadang mikir, “Ini beneran jalan hidup gue?”

Angkot tua itu berisik, panas, dan sering ngetem kelamaan. Tapi di sanalah aku belajar sabar. Belajar bahwa hidup nggak selalu langsung jalan. Kadang harus ngetem dulu, nunggu penuh, baru bergerak lagi.

Wendit: Ikan Cupang, Buku Murah, dan Pelajaran Murah Hati

Pasar Burung Wendit itu surga kecil. Aku hunting ikan cupang, kagum sama warna-warnanya, lalu mikir: hidup itu aneh ya—ikan sekecil ini bisa secantik itu.

Di tempat yang sama, aku hunting buku murah. Buku-buku bekas, bau apek, halaman menguning, tapi isinya sering lebih jujur daripada buku baru mahal. Dari sana aku belajar: nilai hidup nggak selalu ditentukan dari tampilan luar. Kadang yang paling membekas justru yang paling sederhana.

Bakso, Pecel Kawi, dan Rasa yang Setia

Bakso Malang itu nggak ada yang gagal. Mau makan di mana pun, rasanya selalu “pulang”.

Lalu ada Pecel Kawi—legendaris, lintas generasi. Dari dulu sampai sekarang rasanya tetap sama. Pecel ini ngajarin aku satu hal: konsistensi itu mahal. Bertahan jadi diri sendiri di tengah perubahan zaman, itu prestasi.

Comboran dan Seni Bertahan Hidup

Pasar loak Comboran itu keras tapi jujur. Barang bekas, harga ditawar sampai serak. Di sana aku belajar tawar-menawar bukan cuma soal uang, tapi soal keberanian. Hidup seringkali menaruh kita di pasar loak: nggak rapi, nggak ideal, tapi penuh peluang buat yang mau nyari.

LK 1 HMI di Batu: Ditempa, Bukan Dimanja

LK 1 HMI di Batu Malang jadi titik balik. Dingin, capek, mental diguncang. Tapi di sanalah aku ketemu mentor dahsyat, almarhum Bang Munir.

Beliau bukan cuma ngajarin berpikir kritis, tapi juga bertanya jujur ke diri sendiri: kamu mau jadi apa untuk orang lain?

Di situ aku paham, hidup memang bergerak through despair and hope, through faith and love. Semua ada fasenya.

Ketua Senat: Puncak dan Ujian Ego

Terpilih jadi Ketua Senat Mahasiswa Ekonomi—ini puncak karier mahasiswa versiku. Rasanya kayak berdiri di atas bukit, lihat dunia dari atas. Amazing.

Tapi di puncak itu juga aku belajar: jabatan itu titipan. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Yang tersisa cuma jejak sikap kita pada orang lain.

Sales PABX, Fax, dan Makian yang Menguatkan

Kerja jadi sales PABX dan Fax itu keras. Ketemu klien galak, dimaki-maki, ditolak mentah-mentah. Tapi justru di situ mental ditempa.

Setiap makian mengajarkan rendah hati. Setiap penolakan melatih tahan banting. Matahari tetap berputar tinggi di langit biru—keeps great and small on the endless round.

Aneka Electronic dan Arti Kebersamaan

Teman-teman kantor pertamaku saat kuliah di Aneka Electronic bukan cuma rekan kerja. Mereka keluarga sementara yang mengajarkan arti saling menguatkan di tengah hidup yang pas-pasan.

Forum Nasional: Gemetar tapi Melangkah

Jadi pembicara di Seminar Nasional Mahasiswa Ekonomi di Brawijaya—forum nasional pertamaku. Deg-degan? Banget.

Tapi di situ aku belajar: takut itu bukan tanda berhenti. Takut itu tanda kita sedang bertumbuh.

Renny dan Kota yang Disusuri Bersama

Keliling Kota Malang bareng Renny. Jalan kaki, naik motor, ketawa receh. Di kota itu aku memilih pendamping hidupku. Bukan karena sempurna, tapi karena terasa pulang.

Cinta itu bukan soal siapa paling hebat, tapi siapa yang mau tumbuh bareng di lingkaran yang sama.

Kehilangan Motor dan Belajar Melepaskan

Yamaha Alfa 2R-ku hilang dicuri. Sakit. Kesal. Tapi hidup mengajarkan: kehilangan adalah bagian dari lingkaran.

Kadang yang dicuri bukan cuma barang, tapi rasa aman. Tapi justru dari situ kita belajar ikhlas.

Lion King, Debbie, dan Bakso Oro-Oro Dowo

Nonton film Lion King bareng Debbie—wanita Chinese dari Bali yang dekat denganku sebelum Renny.

Makan bakso di depan rumahnya, di depan Pasar Oro-Oro Dowo. Momen sederhana, tapi membekas. Karena hidup memang sering memberi kenangan lewat hal kecil.


Dan akhirnya aku paham. Semua ini—jagung bakar, angkot MM, Wendit, bakso, cinta, kehilangan—adalah satu lingkaran besar.

’Til we find our place, on the path unwinding, in the circle… the circle of life.

Malang mengajarkanku bahwa hidup tak harus sempurna untuk bermakna. Kita tumbuh bukan karena tak pernah salah, tapi karena berani terus berjalan.

Dan setiap kali lagu itu terdengar, aku tahu: aku pernah hidup sepenuh ini. Di kota dingin bernama Malang, di lingkaran hidup yang membesarkanku.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN