KHIDMAT HMI UNTUK INDONESIA


 


“Khidmat HMI untuk Indonesia” bukanlah sekadar kalimat manis yang enak dibaca, enak didengar, lalu selesai setelah acara usai. Ia bukan hiasan spanduk yang dilipat rapi setelah forum, bukan pula slogan pidato yang tepuk tangannya meriah tapi cepat dilupakan. Kalimat ini adalah cermin—kadang jujur, kadang menampar—tentang bagaimana HMI sejak awal berdiri memilih jalan sunyi: jalan pengabdian. Jalan yang tidak selalu ramai, tidak selalu terlihat, dan sering kali tidak diberi panggung. HMI hadir bukan karena ingin dipuji, tapi karena merasa bertanggung jawab. Hadir saat umat butuh arah, hadir saat bangsa bingung memilih jalan, hadir saat negara goyah dan akal sehat perlu dijaga.

Khidmat itu sendiri bukan pekerjaan instan. Ia tidak lahir dari niat viral, tidak tumbuh dari ambisi jabatan, apalagi dari keinginan sekadar “terlihat aktif”. Khidmat adalah kerja panjang, kerja sabar, kerja yang kadang tidak dicatat sejarah, tapi tercatat rapi oleh nurani. Mengajar adik-adik dengan fasilitas seadanya, mendampingi masyarakat tanpa sorotan kamera, mengkritik kebijakan tanpa harus jadi pembenci negara, dan tetap menjaga akhlak di tengah panasnya perbedaan. Itulah khidmat versi HMI: berpikir jernih, bersikap dewasa, dan bertindak dengan tanggung jawab moral.

Sering kali kita terjebak pada ilusi besar: merasa pengabdian baru sah jika kita memegang jabatan, duduk di kursi strategis, atau berbicara di podium megah. Padahal bangsa ini tidak hanya ditopang oleh mereka yang berdiri di depan mikrofon, tapi juga oleh mereka yang setia bekerja di belakang layar. Oleh kader yang hari-harinya mungkin biasa saja, tapi nilai yang dijaganya luar biasa. Yang memilih jujur ketika bisa curang, memilih peduli ketika bisa acuh, dan memilih tetap berbuat baik meski tidak ada yang bertepuk tangan. Di situlah pengabdian diuji: apakah kita bekerja karena panggilan nilai, atau karena ingin pengakuan.

Sekecil apa pun peranmu hari ini—di komisariat, di kampus, di masjid, di desa, di kantor kecil, atau bahkan di rumah—jangan pernah meremehkannya. Bangsa ini tidak dibangun oleh satu tokoh besar saja, tapi oleh jutaan orang biasa yang tidak berhenti melakukan kebaikan kecil secara konsisten. Ketika niatmu lurus sebagai ibadah, ketika langkahmu sadar sebagai tanggung jawab kebangsaan, maka setiap tindakanmu menjadi bagian dari ikhtiar besar mencintai Indonesia. Tidak selalu heroik, tidak selalu sempurna, tapi jujur dan bernilai.

Maka “Khidmat HMI untuk Indonesia” adalah pengingat agar kita tidak kehilangan arah di tengah hiruk pikuk zaman. Bahwa menjadi kader bukan soal atribut, tapi soal sikap. Bukan soal seberapa lantang bicara, tapi seberapa konsisten bekerja. Dan pada akhirnya, pengabdian sejati memang jarang glamor, tapi justru di sanalah martabat intelektual dan moral seorang kader diuji. Tetaplah mengabdi, di mana pun kamu berdiri hari ini—karena Indonesia tidak kekurangan slogan, tapi selalu membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dalam diam dengan hati yang setia.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN