ELECTRIC YOUTH
5 Februari 2026
Hari ini aku duduk berhadapan dengan seorang anak muda bernama Ethan—pemuda asal Karibia dengan mata yang menyala-nyala oleh ide. Ia mempresentasikan Discussion on Bali Caribbean Carnival bukan sekadar sebagai acara, tapi sebagai panggung identitas, perayaan lintas budaya, dan keberanian generasi muda untuk berkata, “Kami ada, dan kami siap.” Saat ia berbicara, aku merasakan energi itu menular—energi yang tidak dibuat-buat, tidak dibungkus jargon, tapi lahir dari keyakinan. Dan entah bagaimana, energi itu menarikku mundur ke lorong waktu, ke awal 90-an, ke masa ketika jiwa mudaku pernah bergetar oleh suara yang sama-sama lantang menyebut masa depan: “Electric Youth.”
Lagu Debbie Gibson itu—ditulis dan diproduseri olehnya sendiri—bukan sekadar pop ceria. Ia adalah pernyataan. Sebuah anthem yang menyentil generasi muda agar berani berdiri, didengar, dan dipercaya. Kritik memujinya sebagai tanda kedewasaan artistik; produksi musiknya liar dan futuristik, penuh synth sci-fi, terompet palsu, dan denyut yang seperti listrik. Ada yang mencibirnya cerewet, terlalu berbuih—tapi justru di situlah nyalanya. Lagu itu begitu hidup hingga melahirkan jejak budaya: parfum Electric Youth dari Revlon, ikon remaja akhir 80-an yang menolak redup. Kesuksesannya menembus tangga lagu, namun warisannya menembus ingatan.
Ketika Ethan berbicara tentang karnaval—tentang warna, irama, tubuh yang bergerak sebagai bahasa—aku mendengar gema lirik itu:
“Don’t underestimate the power of a lifetime ahead.”
Tekanan ada di mana-mana, demam ada di udara, tapi ada daya yang mengalir menembus kita. Electric youth bukan usia; ia adalah sikap. Keyakinan bahwa masa depan memang milik masa depan—dan masa depan itu berdenyut.
Lirik-liriknya terasa seperti surat lintas generasi. “Remember when you were young?” tanyanya, seolah menepuk bahuku hari ini. Aku tersenyum. Ya, aku ingat. Aku ingat betul bagaimana dunia terasa luas, bagaimana mimpi terasa mungkin, bagaimana suara kita—meski belum rapi—terasa penting. Lagu itu mengingatkan: jangan kehilangan pandangan terhadap potensi mastermind yang mungkin sedang tumbuh diam-diam. Jangan remehkan generasi yang “punya waktu paling banyak untuk memutar dunia.”
Di hadapanku, Ethan adalah cermin itu. “Don’t you see a strong resemblance to yourself?”
Aku melihatnya. Dan aku melihat diriku yang dulu—yang percaya bahwa ide bisa menggerakkan orang, bahwa musik, karnaval, dan budaya bukan pelarian, melainkan kendaraan. Bali Caribbean Carnival yang ia bayangkan bukan sekadar pesta; ia adalah pernyataan bahwa perbedaan bisa berdansa bersama, bahwa masa depan bisa dirayakan tanpa menunggu izin.
Hari ini aku pulang dengan satu keyakinan yang diperbarui: energi muda tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu dipantik—oleh pertemuan yang tepat, oleh keberanian yang tulus, oleh lagu yang tepat di saat yang tepat. Seperti lirik itu berulang-ulang mengingatkan, tak bisa dilawan, tak bisa ditunda—live by it.
Karena pada akhirnya,
the future is electric youth.