PUTU, BAKSO, BANDARA, DAN KITA YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI


SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :



Ada cerita-cerita yang rasanya tidak pernah kita rencanakan untuk terulang. Kita pikir sudah selesai, sudah ditutup rapi, disimpan di lemari kenangan paling atas—yang cuma dibuka kalau lagi sendirian atau lagi tiba-tiba mellow tanpa sebab. Tapi hidup, seperti biasa, punya selera humor yang halus. Ia tidak teriak, tidak dramatis. Ia cukup mengirim satu notifikasi kecil: “Grup Alumni SD Negeri 6 Tuban”.

Alumni.
Sekolah Dasar.
Legend.

Begitu nama SD Negeri 6 Tuban muncul—yang dulu kami kenal sebagai SD Ngurah Rai—ada tawa kecil yang lolos tanpa izin. Bukan tawa keras. Lebih ke senyum refleks yang muncul karena tubuh lebih dulu ingat sebelum pikiran sempat menolak. Sekolah itu bukan cuma bangunan. Ia saksi hidup dari masa kami paling jujur, paling apa adanya.

Kami tumbuh di lingkungan perumahan karyawan bandara. Tempat di mana suara pesawat bukan gangguan, tapi irama. Pesawat lepas landas jadi jam weker. Pesawat mendarat jadi penanda sore. Hidup berjalan dengan cara yang sederhana, dan kami menerimanya tanpa banyak bertanya.

Dari obrolan receh khas grup alumni—yang isinya antara nostalgia, foto buram, dan candaan yang kadang tidak jelas—satu nama terasa mendadak dekat: Putu Wahyuni. Teman kecilku. Teman sekolah. Teman main. Teman ribut. Teman yang tanpa sadar ikut mengajarkanku banyak hal tentang hidup, jauh sebelum kami tahu arti kata “hidup”.

Puluhan tahun kami tidak bertemu. Waktu berjalan, lalu berlari. Hidup membawa kami ke jalannya masing-masing. Sampai satu kejadian absurd tapi indah terjadi: aku justru berteman baik dengan rekan kerjaku, Bli Wijaya. Dari obrolan santai yang sama sekali tidak direncanakan, dunia tiba-tiba mengecil. Ternyata beliau adalah suami Putu.

Hidup memang sering bercanda. Tidak kasar. Tidak berisik. Tapi nyentil tepat di titik paling tak terduga.

Kami pun janjian bertemu. Dan Putu, dengan caranya yang khas, memilih tempat yang tidak asal pilih: Bakso Mastok. Bakso legend. Dari zaman aku masih SMP sampai SMA, tempat ini sudah jadi saksi perut kenyang dan obrolan panjang yang sering lebih penting dari makanannya sendiri. Putu memilih tempat ini karena satu hal sederhana tapi dalam: ia menjaga cerita legend-nya.

Saat aku duduk di sana, rasanya seperti masuk lorong waktu. Gerainya hampir tidak berubah. Meja-mejanya, aromanya, bahkan cara berdirinya seperti masih menyimpan sisa-sisa kejayaan masa lalu. Tapi jujur saja, suasananya kini lebih sepi. Zaman sudah berlari jauh, meninggalkan banyak hal di belakang.

Sedih? Iya.
Tapi juga ada rasa hormat yang diam-diam tumbuh.

Pengelolanya kini beda generasi, tapi tetap bertahan. Tidak semua yang bertahan harus ramai. Kadang, cukup setia. Dan Bakso Mastok adalah bentuk kesetiaan yang tidak banyak bicara.

Lalu Putu datang.

Dan di situlah hidup benar-benar terasa lucu.

Cara bicaranya sudah dewasa. Tenang. Penuh pertimbangan. Kata-katanya rapi, matang, seperti orang yang sudah berdamai dengan banyak hal. Rambutnya mulai diselipkan uban-uban kecil yang tampak percaya diri, seolah ingin bilang, “aku sudah hidup cukup lama, dan aku baik-baik saja.”

Tapi begitu bercanda…
Selesai sudah semua kesan dewasa itu.

Tawa lepasnya masih sama. Polos. Jujur. Tanpa beban. Tingkah lakunya tidak berubah sejak kami masih pakai seragam putih merah. Rasanya seperti waktu salah baca jam. Seperti hidup lupa memisahkan masa lalu dan sekarang.

Obrolan kami melompat ke sana ke mari. Dari kenangan sekolah, cerita hidup, kegagalan, keberhasilan, sampai guyonan receh yang sebenarnya tidak lucu tapi tetap ditertawakan. Dan di tengah semua itu, aku sadar satu hal penting: kami tidak berubah dalam hal yang paling esensial.

Putu tetap orang yang menjaga asa. Menjalani hidup dengan ikhlas. Menikmati proses tanpa terlalu banyak drama. Tidak sibuk membuktikan apa-apa, tapi setia hadir sebagai dirinya sendiri.

Terima kasih, Putu.
Di dunia yang menuntut kita cepat dewasa, cepat sukses, cepat kelihatan “jadi”, guyonan rasa kanak-kanak itu justru jadi pengingat bahwa bahagia tidak pernah perlu tumbuh terlalu jauh.

Kami tertawa.
Kami mengenang.
Kami diam sejenak.

Ada rasa haru yang tidak perlu diterjemahkan. Persahabatan ini sudah melampaui ruang dan waktu. Empat puluh lima tahun berteman. Itu bukan angka kecil. Itu bukan hubungan biasa. Ini hubungan yang lolos dari ujian jarak, kesibukan, perubahan hidup, dan ego masing-masing.

Dan di meja bakso sederhana itu, aku akhirnya paham satu hal:

Tidak semua legenda harus besar dan gemerlap.
Ada legenda yang cukup duduk diam, makan bakso, tertawa seperti anak SD, dan saling mengingatkan bahwa hidup—seberat apa pun—tetap layak dinikmati.

Kami berhasil menjaga persahabatan ini.
Kami berhasil bertahan.

Dan entah kenapa, rasanya pantas untuk bilang dengan senyum kecil yang jujur:
kita ini legend.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN