40 TAHUN, TAPI TAWA KITA MASIH UMUR 10


SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :






Matursuksme, sahabat-sahabat kecilku tercinta.

Sungguh… ini bukan sekadar temu kangen. Ini semacam peristiwa hidup yang bikin dada hangat, mata agak basah, dan hati senyum sendiri. Empat puluh tahun, loh. Empat puluh. Angka yang kalau manusia sudah mulai rajin minum vitamin, tapi anehnya… rasa kita tetap sama seperti bocah SD dulu—yang bedanya sekarang cuma: ketawanya lebih keras, ceritanya lebih panjang, dan capeknya datang lebih cepat.

Hari itu rasanya luar biasa. Bahagia. Bangga. Campur aduk. Bangga karena pernah satu angkatan dengan kalian semua. Pernah satu kelas, satu halaman buku tulis, satu barisan upacara, dan satu masa kanak-kanak yang—ternyata—nggak pernah benar-benar pergi.

Kekonyolan sebenernya sudah dimulai dari menit pertama.
Bayangin… acara reuni 40 tahun, tapi aku belum booking tempat.
Bukan lupa. Bukan lalai. Tapi terlalu semangat.
Ini pelajaran hidup ya, kawan-kawan: semangat itu penting, tapi jangan sampai ngalahin logika. Untunglah… Tuhan selalu mengirimkan malaikat dalam bentuk sahabat. Namanya Diah.

Diah ini dari dulu memang spesial.
Kalau baca buku nggak pakai koma—kayak kereta api, panjang, cepat, dan nggak berhenti. Cekatan, sat-set, dan tanpa banyak drama. Diah datang bukan cuma menyelamatkan acara, tapi juga menyelamatkan martabat kita sebagai alumni yang katanya sudah dewasa. Terima kasih, Di. Dari dulu sampai sekarang, kamu konsisten: juara.

Dan soal juara… ya memang Diah ini “as always”.
Tebakan juara.
Hadiah juara.
Semua hadiah diborong.
Kalau ini lomba hidup, mungkin Diah sudah level “end game”.

Lalu ada Putu Sriwahyuni




Dengan ide kreatifnya: bagi-bagi souvenir Bless Tea.
Sederhana, tapi kena. Kayak hidup sebenarnya. Kadang yang kita ingat bukan kemewahan, tapi niat baik yang tulus. Terima kasih, Putu. Dari teh itu, kita belajar: kebersamaan itu nggak harus mahal, asal hangat.

Gung Mirah hadir dengan gaya dosennya yang khas.
Penuh selidik.
Informasi harus akurat.
Data harus jelas.
Aura “ini nanti keluar di ujian” masih kuat sekali.
Dan yang bikin aku ketawa kecil (dan terharu juga): beliau memantau aku dengan penuh kekhawatiran. Mungkin naluri dosen—takut muridnya salah langkah. Padahal muridnya ini baik-baik saja, Bu… cuma memang lagi belajar hidup dengan versi tubuh yang baru. Penyintas stroke, katanya. Tapi hati dan semangat? Masih bocah SD.

Putu Liong…
Wah ini mah lain cerita.
Benar-benar menguasai panggung.
Cekatan. Sat-set. Cepat.
Sampai… kebablasan.
Kayak motor tanpa rem, tapi kita semua menikmati. Karena di situlah seninya: panggung bukan untuk sempurna, tapi untuk jujur jadi diri sendiri.

Dan Pak Komandan Benny…
Wah, ini jiwa korsa memang nggak pernah luntur. Dari dulu sampai sekarang. Terima kasih untuk janji anggreknya. Simbol kecil tapi dalam: persahabatan itu dirawat, bukan cuma diingat.

Yang nggak datang? Rugi.
Bukan karena acaranya, tapi karena rasanya.
Rasa pulang.
Rasa jadi diri sendiri tanpa topeng.
Rasa ditertawakan tanpa dihakimi.

Mas Agus…
Semangat tingkat dewa.
Tapi jawabannya… kok salah semua, Gus?
Dan justru di situlah indahnya. Kita tertawa bukan karena mengejek, tapi karena merasa: “Oh, ternyata kita masih manusia.”

Yang paling aku sadari hari itu satu:
persahabatan sejati memang tidak lekang oleh waktu, suku, agama, jabatan, atau status sosial.
Kita datang dengan cerita hidup yang berbeda-beda—ada yang jadi dosen, komandan, pebisnis, pejuang kesehatan, dan pejuang hidup versi masing-masing. Tapi begitu duduk bersama… kita kembali jadi anak-anak yang dulu.

Obrolan di grup ternyata cuma bayangan.
Versi aslinya jauh lebih hidup.
Lebih berisik.
Lebih acak.
Cerita kebolak-balik karena terlalu semangat.
Dan justru di situ kejujurannya.

Empat puluh tahun berlalu, dan kita masih bisa tertawa bersama.
Itu bukan hal kecil.
Itu anugerah.

Jaga kesehatan, sahabat-sahabat kecilku.
Karena kalau Tuhan mengizinkan, aku ingin kita tertawa lagi…
dengan cerita yang lebih banyak,
langkah yang mungkin lebih pelan,
tapi hati yang tetap sama.

Empat puluh tahun, satu tawa yang sama.
Dan semoga… masih panjang ceritanya.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN