BALI SEPI, ANTARA OKNUM, LUKA PENGALAMAN, DAN HILANGNYA RASA DITERIMA
Akhir tahun 2025 seharusnya menjadi musim panen bagi pariwisata Bali. Libur panjang, Natal dan Tahun Baru, biasanya identik dengan jalanan macet, hotel penuh, pantai sesak, dan senyum ramah yang bertebaran. Tapi kali ini cerita yang beredar justru sebaliknya: Bali terasa sepi, bahkan lebih sepi dibanding masa Tahun Baru saat COVID dulu. Sebuah kondisi yang membuat banyak orang bertanya-tanya—ada apa sebenarnya?
Dari obrolan yang viral dan pengalaman para wisatawan lokal, muncul satu benang merah yang mengusik: rasa tidak diterima. Bukan karena alamnya berubah, bukan karena budayanya pudar, tapi karena perlakuan manusia terhadap manusia. Banyak wisatawan lokal menceritakan pengalaman tidak menyenangkan—diusir dari area publik, diperlakukan kasar, hingga merasakan perbedaan pelayanan yang mencolok dibanding wisatawan asing.
Ada yang sudah membayar tiket pertunjukan, tapi harus mengalah demi turis asing. Ada yang menerima kembalian uang dengan cara dilempar. Ada yang dibentak di pantai hanya karena bertanya soal kelapa muda. Ada pula yang di restoran kelas menengah ke atas, mendapati bill hanya digeletakkan seadanya, sementara meja bule di sebelah dilayani dengan mesin EDC langsung di meja, penuh senyum dan perhatian. Padahal harga makanan sama, pajak sama, kontribusi ekonomi sama.
Yang paling menyayat bukan hanya kejadian satu-dua kali, tapi pola. Pola perlakuan yang membuat wisatawan lokal merasa kecil, tidak dihargai, bahkan insecure di tanah sendiri. Ironisnya, ini sering terjadi di ruang-ruang publik yang justru menjadi wajah Bali di mata dunia: pantai, restoran, pasar seni, dan destinasi ikonik.
Di sisi lain, muncul pula insiden yang viral secara internasional—wisatawan asing dibentak dan diturunkan paksa dari kendaraan online. Bagi banyak orang Bali sendiri, ini memalukan. Karena yang dicari wisatawan ke Bali bukan hanya pantai dan tari, tapi keramahan, rasa aman, dan rasa diterima sebagai tamu.
Memang, tidak semua orang Bali seperti itu. Banyak pedagang, pelayan, dan warga yang tetap ramah, tulus, dan hangat. Bahkan beberapa wisatawan mengakui masih banyak pengalaman baik yang mereka temui. Tapi satu oknum di ruang publik bisa merusak kesan sepuluh kebaikan lainnya. Dan di era media sosial, satu video bisa berkeliling dunia lebih cepat dari klarifikasi apa pun.
Sementara itu, pemerintah tetap berpegang pada data: target wisata tercapai, akses dari Jawa semakin mudah, cuaca menjadi kambing hitam utama. Namun di lapangan, pelaku usaha kecil mengeluh sepi, penjualan tak bergerak, Desember tak lagi “golden moment”. Di titik inilah muncul kegelisahan: apakah kita terlalu sibuk mencari alibi, sampai lupa bercermin?
Beberapa orang Bali sendiri mulai berani bertanya dengan jujur: apakah ada sisa-sisa sikap eksklusif, rasa “kami dan mereka”, yang tanpa sadar masih hidup? Apakah hospitality yang dulu menjadi jiwa Bali perlahan terkikis oleh rasa kuasa, lelah, atau salah kaprah tentang siapa yang “lebih menguntungkan”?
Bali Tidak Kekurangan Wisatawan, Bali Sedang Kehilangan Rasa
Bali tidak sedang kekurangan strategi promosi. Bali tidak kekurangan keindahan alam dan budaya. Yang sedang diuji adalah jiwa hospitality-nya.
Sepinya Bali di akhir 2025 tidak bisa dilihat semata dari angka dan cuaca. Ada faktor pengalaman manusiawi yang tidak tercatat di statistik: rasa dihargai, diperlakukan adil, dan diterima tanpa label “lokal” atau “asing”. Ketika wisatawan lokal—yang selama ini menjadi penyangga utama pariwisata—merasa didiskriminasi, mereka tidak protes dengan demo, mereka memilih cara paling sunyi: tidak datang lagi.
Pariwisata bukan hanya soal mendatangkan orang, tapi soal membuat orang ingin kembali. Dan itu tidak bisa dicapai jika produk hanya dibungkus marketing, sementara dapurnya berantakan.
Seperti yang kamu simpulkan dengan tepat:
Product, People, Sistem, dan Marketing adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Jika People-nya lelah dan kehilangan empati, jika Sistem membiarkan oknum merasa kebal aturan, maka sekuat apa pun Marketing bekerja, hasilnya akan rapuh.
Ini PR bersama—bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk berlapang dada mengevaluasi. Karena Bali yang dicintai dunia bukan hanya karena pemandangannya, tapi karena rasa pulang yang dulu selalu ia berikan pada siapa pun yang datang.