DO YOU STILL WANT ME TO WANT YOU ?

 







SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :



BAB 1. SURAT YANG TIDAK PERNAH DIKIRIM

Tiba-tiba lagu itu muncul...... Lea by TOTO

Bukan karena kucari.
Bukan juga karena algoritma YouTube terlalu pintar.
Lebih seperti… ia datang sendiri. Menyelinap. Duduk. Lalu nyalakan lampu di ruangan yang selama ini kukira sudah kosong.

Lea – Toto.

Aku sedang sendirian.
Kopi sudah dingin.
Laptop menyala tapi isinya cuma tab-tab yang tidak penting.
Jam dinding berdetak pelan, seperti ikut sopan ketika lagu mulai berjalan.

Dan begitu intro-nya masuk, aku tahu:
malam ini aku tidak akan tidur cepat.

Aku tersenyum kecil. Refleks.
Karena sejak dulu—entah sejak kapan—aku selalu memelesetkan satu nama.

Lea.
Vira.

Bukan karena bunyinya mirip.
Tapi karena rasanya sama.

Here's to the few.
Who fared, my love
Only for you, I cared, my love

Dadaku menghangat.
Bukan perih. Bukan nyeri.
Lebih seperti menemukan jaket lama di lemari—sudah agak lusuh, tapi masih pas.

Vira.

Gadis manis terbaik pada masanya.
Dan anehnya… juga pada masaku.

I've given it hope, and I know it's only you
Encased in silence

Aku tertawa kecil sendiri.
“Encased in silence,” kataku lirih.

Ah, Toto.
Kalau kalian tahu, seberapa banyak cintaku dulu yang memang dikemas rapi dalam diam.

Aku bukan tipe lelaki yang berani bilang,
“Eh, aku suka kamu.”
Aku tipe yang berharap kamu sadar… tanpa pernah diberi petunjuk.

Dan Vira…
dia tipe yang terlalu baik untuk menebak.

Here's to the you, who saved, my love
Only to you, I gave, my love

Diselamatkan—tanpa sadar sedang menyelamatkan.
Begitulah dia.

I've given it thought, and it's not all that appears

Aku menatap layar.
Bayanganku sendiri terpantul samar. Rambut sudah tidak sama. Mata juga tidak.
Tapi ada sesuatu yang tetap:
cara hatiku selalu diam-diam.

Lea / Vira, how long will you still want me to want you
In and around you

Aku berhenti bernapas sebentar.

Kalimat itu…
itu bukan sekadar lirik.
Itu pertanyaan yang tidak pernah kukirim.

Lea / Vira, my concertina
Will you still want me to want you

Concertina.
Alat musik kecil yang ditekan dan ditarik.
Seperti dadaku waktu itu—antara ingin mendekat dan takut terlalu dekat.

Here's to the you, who dared, my love
Only with you, I shared, my love

Aku berbagi…
tanpa pernah benar-benar memberi tahu apa yang kubagi.

I've given it though, and it's not all that appears

Dan aku tahu:
tidak semua cinta harus muncul di permukaan.

Who cares, what the cynics say
I care, if only you're on your way

Aku peduli.
Aku selalu peduli.

Lea / Vira, don't let the same be true
Lea / Vira, do you still want me to want you

Di situ.
Di kalimat terakhir itu, aku akhirnya mengaku—meski cuma ke diri sendiri.

“Do you still want me to want you?”

Pertanyaan yang absurd.
Egois.
Dan sangat manusiawi.

Karena siapa sih yang ingin berhenti mencintai,
kalau cintanya belum pernah benar-benar diminta untuk pergi?

 

 

 

 

Malam itu, setelah lagu selesai, notifikasi muncul.

Putu Wahyuni.

Sahabatku sejak SD.
Dan—takdir memang suka bercanda—sahabat Vira saat SMA.

“Tu, masih inget Vira?”

Aku senyum.
Tentu saja ingat.

Kami chatting pelan. Tidak dramatis. Tidak meledak-ledak.
Seperti dua orang dewasa yang membuka album lama sambil duduk di lantai.

Dari Putu, aku tahu hal-hal yang dulu tidak pernah kutanya.
Dari Putu, aku mendapatkan jawaban… atas pertanyaan yang tidak pernah kuajukan.

Vira ternyata juga diam.
Vira ternyata juga menyimpan.
Vira ternyata… manusia pada umumnya

Tidak ada pengakuan besar.
Tidak ada adegan hujan.
Tidak ada “andai dulu.”

Hanya satu kesadaran tenang:

Kadang, cinta paling jujur
adalah cinta yang tidak pernah dipaksa berubah bentuk.

 

Aku bangkit.
Membuka laci lama.

Foto-foto kusam.
Tiket pentas seni Smansa.
Kertas yang seharusnya dibuang, tapi entah kenapa disimpan.

Dan di situ aku paham:

Ada cinta yang tidak pernah diminta untuk jadi apa-apa.
Tidak jadi pacar.
Tidak jadi istri.
Tidak jadi masa depan.

Dan justru karena itu…
ia abadi.

Aku menutup laci.
Menyesap kopi yang sudah benar-benar dingin.

Malam itu aku tidak mengirim surat.
Tidak menulis pesan.
Tidak menanyakan apa pun.

Karena untuk pertama kalinya,
aku mengerti:

Beberapa cinta tidak ingin dijawab.
Ia hanya ingin dikenang—
dengan jujur.

Dan dengan itu,
aku siap melanjutkan hidup.

Dan Aku ingat banget masa SMP itu.

Zaman ketika hidup masih diukur dari jam pulang sekolah dan bunyi klakson bis yang kadang datang tepat waktu, kadang lebih sering PHP. Setiap sore, aku berdiri di pinggir Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, dengan seragam SMP yang warnanya sudah nggak jelas: putih keabu-abuan atau abu keputih-putihan, tergantung nasib kena debu hari itu.

Denpasar lagi panas-panasnya. Panas yang bukan cuma dari matahari, tapi dari aspal, dari knalpot, dari hidup yang rasanya ribet banget padahal umur baru belasan. Tapi entah kenapa, aku betah nongkrong. Bukan karena angin sepoi-sepoi—nggak ada. Bukan karena romantis—jauh. Tapi karena ada kedai bakso kecil di sebelah sekolah Cipta Dharma.

Baksonya murah. Murah meriah. Pas buat kantong anak SMP yang uang sakunya cuma cukup buat nambah mie sama es teh manis. Itu pun kadang harus mikir: hari ini nambah mie atau nambah tahu?

Aku duduk di bangku kayu yang sudah setia menampung pantat ratusan anak sekolah sebelum aku. Sambil ngunyah bakso yang teksturnya kadang lebih kenyal dari karet gelang, mataku—seperti punya kehendak sendiri—selalu melirik ke seberang jalan.

Di sana, hampir setiap sore, ada mobil sedan putih parkir rapi.

Mobilnya biasa aja. Bahkan cenderung jadul. Tapi pintunya… pintunya selalu membawa kejutan kecil.

Setiap kali pintu itu kebuka, terlihatlah seorang cewek putih manis. Manis banget. Rambutnya lurus. Seragam SMP-nya rapi. Senyumnya… aduh. Tapi senyumnya bukan ke arahku

Senyumnya kayak sinar matahari pagi. Silau, tapi bikin pengen lihat lagi. Bikin mata perih, tapi hati hangat.

Aku nggak tau namanya.
Nggak tau sekolahnya.
Nggak tau dia siapa.

Yang aku tau cuma satu:
“Ya Allah… dunia ini ternyata ada orang semanis secantik ini, ya?”

Dan sejak hari itu, nunggu bis sekolah bukan lagi hukuman.

Bis telat? Santai.
Hujan? Nggak papa.
Bakso habis? Masih bisa nunggu.

Karena ada “gadis misterius” yang tiap siang muncul sebentar, lalu hilang, tapi ninggalin bekas aneh di dada.

Teman-temanku mulai sadar.

“Nuk, kamu lagi ngeliatin apaan sih?” kata salah satu sambil nyenggol siku.
“Bakso mu meleleh tuh!”

Aku kaget, ngelap mulut. “Oh… itu. Liat mobil bagus.”

Bohong.
Mobil apaan yang bikin jantung deg-degan kayak habis lari 400 meter tanpa pemanasan?

Hari demi hari, ritual itu berulang. Dan seperti semua hal indah yang nggak kita pahami, aku cuma menikmatinya dari jauh. Tanpa rencana. Tanpa harap. Tanpa berani mendekat.

Lalu waktu bergerak.

Hingga akhirnya masa SMP selesai. Tanpa kenangan gadis manis itu
SMA dimulai.

Dan hidup… upgrade level.

 

Masuk SMA, dunia rasanya lebih ribut. Teman makin banyak. Drama makin kompleks. Ego makin gede. Aku masuk OSIS. Gabung tim penggembira—bukan karena cita-cita mulia, tapi karena kakak kelas tetangga rumah: Mbak Tiwi.

Cewek energik. Cerewet. Rumahnya deket banget sama rumahku di Perumahan Bandara. Tipe orang yang kalau masuk ruangan, ruangan langsung rame.

Suatu hari, di sela-sela kesibukan ngurus acara sekolah, Mbak Tiwi nyeletuk sambil nyengir jail,
“Dik… dik dapet salam dari Mbak Fitri, loh.”

Aku berhenti.
Otak loading.

“Mbak Fitri?”
“Iya.”
“Salam apaan?”
“Salam kenal katanya.”

Aku bengong. “Aku kenal?”
Mbak Tiwi cuma geleng-geleng sambil ketawa. Belum “Ada-ada aja mbak.”

Dan hidup, pelan-pelan, mulai menghubungkan titik-titik.

Selidik punya selidik, Mbak Fitri itu… pemilik mobil sedan putih tua itu.

Dan adiknya?

Vira.

Ya Allah.

Dunia langsung connect kayak WiFi gratisan yang tiba-tiba sinyalnya full bar.

Ternyata Vira sekolah di SMA 2. Sahabatan sama Putu Sriwahyuni dan Benny Setyawan—teman SD-ku. Informasi langsung lengkap, kayak CV yang tiba-tiba dikirim tanpa diminta.

“Ini pasti settingan Tuhan,” gumamku waktu itu.

Kami mulai sering interaksi. Main ke rumah Mbak Fitri. Suatu sore, aku datang, dan pertama kali ketemu Vira secara langsung.

Dia lagi bantu-bantu di dapur. Rambutnya dikuncir dua. Sama persis. Bau sampo Sunsilk hijau nyebar pelan.

Dadaku? Lupa cara napas.

“Halo,” katanya sambil senyum.

Aku panik. “H-halo,” jawabku sambil pura-pura sibuk angkat piring yang sebenernya nggak perlu diangkat.

Sejak hari itu, hidupku berubah.

Pelajaran yang biasanya bikin pusing, mendadak enteng.
Matematika? Bisa.
Fisika? Nggak nangis.

Bahagia itu energi super.

Aku yang biasanya cuek soal penampilan, mendadak rajin. Baju disetrika licin. Rambut dikasih minyak wangi—baunya campur aduk antara toko sepatu dan bedak bayi.

Papa sampai curiga.
“Nuk, kamu kenapa hari ini? Lagi ada apa?”

Aku nyengir. “Nggak ada, Pa. Pengen rapi aja.”

Padahal hatiku lagi ribut pesta.

 

Malam pentas seni di Gedung Ksirarnawa jadi puncaknya.

Aku baru bisa nyetir. Itu pun versi “lulus teknis, praktik doain dulu”.

Tapi aku nekat. Pinjem Citroën tua Papa.

Pas dinyalain, bunyinya kayak kakek batuk sambil protes. Tapi di kepalaku, itu limusin.

Persiapan?
Mandi sejam.
Rexona Sport disemprot sampai bauku kayak iklan deodorant berjalan.

Depan cermin aku latihan senyum.
“Tenang, Nuk. Ini cuma nonton P5.”

Bohong.
Ini misi cinta level beginner.

Vira keluar rumah pakai dress biru muda. Rambutnya diterpa angin malam Denpasar.

“Kok bisa nyetir mobil antik gini? Keren!” katanya.

Aku ketawa. “Spesial.”

Dalam hati: kalau kamu tau remnya kadang mikir dulu sebelum ngerem…

Di lokasi, aku beli dua es teh. Satu tumpah ke celana karena tanganku gemeter.

Kami duduk. Lampu redup. Musik mengalun. Tangan kami hampir bersentuhan.

Nggak nyentuh.
Nggak menjauh.

Hampir.

Dan jarak sekecil itu… berisik banget di dada.

Malam itu pulang, dunia terasa indah.

 

Seminggu kemudian, aku nekat.

Telepon rumahnya.

“Halo… ini Nucky. Aku… sebenarnya suka sama kamu.”

Hening.

Lalu suaranya pelan,
“Aku senang temenan sama kamu… tapi sekarang mau fokus sekolah dulu ya. Maaf.”

Nggak ada drama.
Nggak ada tangis.

Aneh—hatiku malah ringan.

Kami tetap nyapa. Tetap senyum.

Cinta itu ternyata nggak selalu minta jadi.

Tahun berlalu. Vira hilang dari radar.

Sampai suatu hari, bertahun kemudian, kami bertemu di line telp

Dewasa. Tenang.

“Aku sering ingat kamu,” kataku

“Aku juga.”

Tanpa harap.

Pulang malam itu, aku nulis surat yang nggak pernah dikirim.

Kita nggak jadi apa-apa.
Tapi itu juga sebuah keberhasilan.

Dan aku paham.

Ada cinta yang tidak jadi.
Tapi tidak pernah pergi.

Ia tinggal.
Seperti kursi tua di sudut hati.
Nggak dipakai lagi.
Tapi juga nggak pernah dibuang.

 

BAB 2. KETIKA KITA BERTEMU LAGI, TAPI BUKAN LAGI KITA

Ada pertemuan yang tidak membawa ledakan.
Tidak ada jantung yang berlari.
Tidak ada tangan gemetar.

Yang ada justru jeda.

Dan anehnya, jeda itu hangat.

Aku bertemu Vira lagi bukan sebagai “yang dulu”,
tapi sebagai dua manusia dewasa
yang sudah sama-sama patah, tumbuh, lalu belajar berdiri dengan cara masing-masing.

Waktu itu aku masih berkabung.
Bukan berkabung yang dramatis, bukan yang penuh tangis di depan orang.
Tapi berkabung yang sunyi.
Yang tiba-tiba membuat pagi terasa lebih panjang,
dan malam seperti lorong tanpa ujung.

Renny sudah pergi.
Istriku.
Perempuan yang mengajarkanku bahwa cinta bukan soal rasa berbunga,
tapi soal bertahan saat bunga gugur satu per satu.

Di fase itulah Vira muncul kembali.

Bukan sebagai kejutan.
Lebih seperti surat lama yang tiba-tiba jatuh dari rak buku saat kita sedang mencari tisu.

Tidak dicari.
Tapi juga tidak dihindari.

Kami masih menjaga silaturahmi.
Sesekali menyapa.
Sesekali bertanya kabar.
Seperlunya. Sewajarnya. Sewarna kedewasaan.

Lalu suatu hari, ia mengabari akan ke Malang.
Mengantar Aldi—putra laki-lakinya—ke Jatim Park 3.

“Aku numpang ketemu sebentar, ya,” katanya.
Tidak ada nada istimewa.
Tidak ada emotikon berlebihan.
Tidak ada titik-titik harapan.

Dan justru itu yang membuatnya terasa aman.

Kami bertemu di parkiran.
Bukan kafe romantis.
Bukan tempat penuh kenangan.
Hanya parkiran biasa, dengan bau aspal hangat dan suara anak-anak tertawa.

Vira kujemput di Hotelnya, aku tunggu di parkiran
Aku tersenyum.
Ia tersenyum.

Kami tidak saling menatap terlalu lama,
karena kami tahu—
beberapa masa lalu tidak perlu ditatap terlalu dalam agar tetap utuh.

“Ini Om Nucky,” katanya pada Aldi.

Aldi menatapku seperti anak laki-laki menatap dunia:
tanpa prasangka, tanpa sejarah.

“Om,” katanya polos.

Dan entah kenapa, aku langsung suka anak ini.

Kami berjalan bertiga.
Aku lebih banyak ngobrol dengan Aldi.
Tentang dinosaurus.
Tentang wahana mana yang paling “nggak bikin jantung copot”.

Vira berjalan di samping, sesekali tertawa.

Tidak ada pembicaraan masa lalu.
Tidak ada “ingat nggak dulu…”.
Tidak ada luka yang dibuka ulang demi nostalgia murahan.

Kami bicara seperti sahabat lama
yang sudah sepakat bahwa tidak semua kenangan harus dihidupkan kembali.

Di mobil, saat aku menyetir,
radio memutar lagu.

Lea.
Toto.

Aku refleks mengecilkan volume, lalu berhenti.
Kupikir, biarlah.

Vira menatap jalan.
Aldi tertidur di kursi belakang.

Aku tahu Vira mungkin hanya mendengar lagu cinta biasa.
Lagu tua.
Lagu radio.

Tapi buatku, lagu itu adalah rumah sejarah.
Rumah yang tidak kutinggali lagi,
tapi masih kutahu letak pintunya.

Dan di antara lirik yang mengalir,
satu pertanyaan itu muncul lagi—
pelan, nyaris berbisik:

“Do you still want me to want you?”

Aku tersenyum kecil.
Bukan karena sedih.
Justru karena sudah tidak sakit.

Aku menoleh sebentar ke arah Vira.
Ia tampak tenang.
Utuh.
Bahagia dengan hidupnya kini.

Dan di momen itu, aku sadar sesuatu yang penting:

Aku bahagia karena dia bahagia.
Bukan meski.
Bukan walaupun.

Tidak ada penyesalan.
Tidak ada “seandainya”.
Hanya penerimaan.

Kami tidak lagi “kita”.
Dan itu tidak menyedihkan.

Justru membanggakan.

Karena cinta, ternyata, tidak selalu meminta untuk dimiliki.
Kadang ia hanya ingin diakui pernah ada,
lalu diletakkan dengan rapi
di rak kehidupan
tanpa debu,
tanpa dendam.

Saat kami berpisah,
kami berjabat tangan singkat.
Hangat.
Sopan.
Manusiawi.

“Aku senang kamu baik-baik aja,” katanya.

“Aku juga,” jawabku.
Dan untuk pertama kalinya,
kalimat itu benar-benar jujur.

Mobil melaju lagi.
Lea masih terdengar samar.

Dan aku tahu:
beberapa lagu tidak pernah pergi.
Mereka hanya berhenti meminta jawaban.

Dan mungkin,
itu bentuk cinta yang paling dewasa.

Setelah Kopi: Hidup Jalan Terus, Rasa Ikut Dewasa

Setelah pertemuan itu, hidup nggak langsung berubah jadi film dengan kredit penutup yang dramatis. Nggak ada hujan turun pas kami pisah. Nggak ada slow motion. Bahkan nggak ada lagu mellow yang tiba-tiba pas di kafe.

Aku pulang, angin kota Malang malam itu biasa saja. Tapi di dalam kepala, kenangan muter kayak playlist lama yang ke-reset ulang.

Lucunya, setelah bertemu Vira versi dewasa Bersama anak laki semata wayangnya, aku nggak sedih. Nggak juga Bahagia, kita sudah punya kehidupan masing2 yg harus kita jaga, gak ada rasa yg berlebihan. Rasanya… utuh. Kayak buku yang akhirnya ditutup, bukan karena ceritanya jelek, tapi karena halamannya memang sudah habis.

Beberapa hari setelah itu, aku jadi sering senyum sendiri. Bukan senyum orang jatuh cinta. Lebih ke senyum orang yang akhirnya paham kenapa dulu semesta bilang “nanti” terus.

Di kantor, temanku nyeletuk,
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini kayak orang dapet pencerahan?”

Aku jawab santai,
“Baru sadar kalau cinta pertama itu bukan buat dimiliki, tapi buat ngajarin.”

“Ngajarin apa?”
“Ngajarin sabar. Sama nerima.”

Dia nyengir,
“Berat amat hidup mu.”

Aku ketawa.
“Iya. Tapi lucu.”

 

BAB 3. CINTA YANG TIDAK DIMILIKI, TAPI MEMBENTUK KITA

 

Ada cinta yang tidak pernah benar-benar kita punya.
Tidak kita genggam.
Tidak kita pamerkan.
Tidak juga kita perjuangkan sampai berdarah-darah.

Tapi anehnya, justru cinta macam itu yang paling lama tinggal.

Aku baru sadar hal itu bertahun-tahun kemudian. Bukan waktu SMA, tentu saja. Waktu SMA, aku masih sibuk mikir gimana caranya kelihatan keren padahal keringat di ketiak tembus seragam. Masih sibuk salah tingkah tiap dia lewat. Masih mengira cinta itu soal dimiliki, bukan dipelajari.

Cinta SMA-ku—yang namanya masih sering kusebut pelan dalam doa, tapi jarang berani kusebut keras di dunia nyata—tidak pernah jadi pacar. Tidak pernah ada status. Tidak ada foto berdua. Tidak ada tanggal jadian yang bisa diperingati tiap bulan.

Yang ada cuma:
tatapan singkat,
obrolan receh,
dan satu lagu yang entah kenapa selalu muncul tiap aku mencoba lupa.

“She’s got a smile that it seems to me…”

Lagu itu—Lea—tidak pernah benar-benar aku dengarkan sampai habis waktu itu. Ia cuma lewat. Seperti dia. Seperti kami.

 

Cinta yang Tidak Ramai

Di sekolah, cinta kami tidak pernah ramai. Tidak ada teman yang menggoda. Tidak ada gosip. Tidak ada drama cemburu. Kalau pun ada yang curiga, mungkin mereka pikir aku dan dia cuma sama-sama aneh.

Aku terlalu pendiam.
Dia terlalu tenang.

Kami lebih sering duduk bersebelahan tanpa banyak kata. Kadang cuma saling lempar komentar soal guru yang menjelaskan seperti kaset rusak.

“Pak itu kalau ngajar kayak kaset nyangkut ya,” bisikku.

Dia menutup mulut, menahan tawa.
“Itu namanya konsisten,” katanya.

Aku jatuh cinta di situ.
Bukan karena cantik.
Tapi karena humor yang tidak berisik.

Cinta SMA-ku mengajarkanku satu hal yang baru kusadari sekarang:
tidak semua rasa perlu diumumkan.

Ada rasa yang cukup hidup di dalam. Tumbuh diam-diam. Menghangatkan tanpa ribut.

 

Kenapa Kita Tidak Pernah Jadi “Kita”?

Pertanyaan itu sering muncul belakangan ini, terutama saat usia sudah dewasa dan keberanian sering datang terlambat.

Kenapa aku tidak pernah bilang?

Jawabannya sederhana, dan menyedihkan:
aku takut.

Takut kehilangan sebelum memiliki.
Takut merusak sesuatu yang bahkan belum dinamai.
Takut kalau ternyata perasaanku lebih besar dari miliknya.

Jadi aku memilih aman.
Menjadi teman.
Menjadi penonton.
Menjadi orang yang pura-pura kuat padahal sedang belajar menahan.

Waktu itu aku pikir itu pengecut.
Sekarang aku tahu: itu versi awalku belajar menghormati perasaan orang lain.

 

Cinta yang Tidak Kita Miliki, Tapi Membentuk Kita

Tahun-tahun berlalu. Aku bertemu orang lain. Mencintai orang lain. Bahkan hampir memiliki beberapa.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam caraku mencintai sejak SMA itu:
aku menjadi lebih lembut.

Aku tidak pernah bisa mencintai dengan cara memaksa.
Aku tidak pandai menuntut.
Aku selalu percaya bahwa cinta harus memberi ruang bernapas.

Aku tidak suka membuat orang merasa terpojok oleh rasa.

Dan itu semua—aku sadar—datang dari dia.
Dari cinta yang tidak pernah jadi milikku.

Karena dulu aku belajar:
kalau kamu benar-benar sayang, kamu tidak akan memaksa seseorang menjadi milikmu hanya supaya egomu tenang.

 

Percakapan dengan Diri Sendiri (Dewasa)

Suatu malam, bertahun-tahun setelah SMA, aku duduk sendiri. Playlist lama menyala. Dan lagu itu muncul lagi.

“And the world just turns when she’s there…”

Aku tersenyum.
Bukan karena sedih.
Tapi karena akhirnya mengerti.

“Terima kasih,” kataku pelan. Entah pada siapa. Mungkin pada dia. Mungkin pada versi diriku yang dulu.

Terima kasih sudah mengajarkanku mencintai tanpa menggenggam.
Terima kasih sudah membentuk caraku memperlakukan orang lain dengan lebih manusiawi.
Terima kasih karena tidak pernah jadi milikku—karena justru di situlah pelajarannya.

 

Penutup yang Tidak Dramatis

Cinta SMA itu tidak pernah kembali.
Tidak juga perlu.

Ia sudah selesai tugasnya.

Ia tidak datang untuk dimiliki.
Ia datang untuk membentuk.

Dan mungkin, itu bentuk cinta paling jujur yang pernah ada.

Karena pada akhirnya,
tidak semua cinta harus berakhir bersama untuk berhasil.
Ada yang cukup berakhir di hati—dan tinggal sebagai cara kita menjadi manusia yang lebih baik.

 

Tentang Waktu yang Selalu Lebih Pintar

Kalau dipikir-pikir, versi SMP-ku nggak akan sanggup sama versi Vira hari ini. Dan versi SMA-ku—dengan deodorant overdosis dan mobil nyaris mogok—juga belum tentu bisa jadi partner hidup yang baik.

Kami ketemu di waktu yang tepat… untuk tidak jadi.

Dan itu seringkali lebih berharga.

Aku jadi paham, ada orang-orang yang hadir bukan untuk menemani kita sampai akhir, tapi untuk membentuk kita sebelum kita ketemu orang lain.

Vira ngajarin aku satu hal penting tanpa pernah bilang langsung:

 

Walaupun hingga kinipun aku belum pernah mendapat jawaban dari Vira, tapi cukup dari signal2 indah aku bisa membacanya, bukan GR sih

Bahwa mencintai itu bisa tanpa memiliki.
Bahwa perhatian nggak harus berubah jadi tuntutan.
Bahwa perasaan bisa disimpan tanpa jadi beban.

Dan itu, buat anak laki-laki yang dulu nunggu bis sambil makan bakso murah, pelajaran besar.

 

Percakapan Terakhir yang Tak Pernah Terjadi

Ada banyak percakapan yang nggak pernah kami lakukan.

Tentang “gimana kalau dulu…”
Tentang “andai waktu bisa diulang…”
Tentang “apa kamu pernah nunggu juga?”

Tapi anehnya, aku nggak menyesal percakapan itu nggak pernah terjadi.

Karena beberapa jawaban memang nggak perlu didengar untuk dimengerti.

Kadang, diam itu bentuk paling jujur dari keikhlasan.

 

Putu, Saksi Sejarah yang Terlalu Banyak Tahu

Beberapa puluh tahun kemudian, aku ketemu Putu sahabatku dan Vira juga

Dia ngeliat aku lama, lalu nyeletuk,
“Kamu udah berdamai ya?”

“Kelihatan ya?”
“Banget. Biasanya kamu mikir kebanyakan. Sekarang kelihatannya… selesai.”

Aku ngangguk.

“Vira bahagia?” tanyaku.
Putu senyum. “Iya. Dan dia selalu ngomong satu hal tentang kamu dulu.”

“Apa?”

“Katanya, kamu itu cinta yang aman.”

Aku diem.

“Aman gimana?”
“Kamu nggak bikin dia takut. Nggak maksa. Nggak nyeret. Cuma ada.”

Aku tarik napas panjang.

“Kalau aku lihat dulu vira juga suka ama kamu ki sering dia cerita tapi aku nggak tahu kenapa nggak berlanjut” ucap Putu

Di dunia yang sering mengira cinta itu harus gaduh, posesif, dan penuh klaim—ternyata menjadi aman itu sebuah keindahan yang jarang dihargai.

 

BAB 4. BAHAGIA TIDAK SELALU BERSAMA

Puncak pemaknaan: cinta sebagai doa, bukan tuntutan. Melepaskan tanpa menghapus.

 

 

Tentang Cinta yang Tidak Jadi, Tapi Membentuk

Sekarang, setiap kali lewat Jalan Hayam Wuruk dan Renon rumah Vira, aku masih bisa membayangkan diriku yang dulu.

Anak SMP dengan seragam kusut.
Bakso murah.
Es teh manis.
Dan mata yang selalu nyangkut ke seberang jalan.

Aku pengen nepuk pundaknya dan bilang:

“Tenang, Nuk. Cerita ini nggak gagal. Ini cuma nggak berakhir seperti yang kamu kira.”

Karena cinta yang tidak jadi itu bukan cinta yang kalah.

Ia cuma berubah bentuk.

Menjadi kenangan yang lembut.
Menjadi standar bagaimana memperlakukan perasaan orang lain.
Menjadi alasan kenapa hari ini aku lebih pelan, lebih hati-hati, dan lebih manusiawi.

 

Penutup yang Tidak Menutup

Aku nggak tau sekarang Vira bagaimana.
Aku juga nggak perlu tau.

Yang aku tau, setiap orang punya satu cerita cinta yang tidak selesai—tapi justru itu yang paling lama tinggal.

Dan mungkin, di suatu sudut kota, ada seseorang lain yang juga pernah jadi “kursi tua di sudut hati” seseorang.

Tidak dipakai lagi.
Tidak dibuang.
Hanya disimpan—dengan hormat.

Karena pernah muda bersama, walau sebentar, itu sudah lebih dari cukup.

Cinta yang Tidak Jadi (Tapi Tidak Pernah Pergi)

Ada cinta yang tidak berakhir bersama.
Tidak juga berakhir dengan air mata.

Ia hanya tinggal.

Aku paham itu bukan belakangan, tapi setelah waktu cukup lama mengajariku cara membaca ulang hidup tanpa tergesa-gesa. Setelah aku berhenti bertanya kenapa tidak jadi, dan mulai bertanya untungnya jadi apa.

Dulu, aku mengira cinta selalu soal memiliki. Soal sampai. Soal sah. Soal akhir yang bisa dipamerkan. Padahal, ada cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk tinggal lama—ia hanya singgah sebentar, lalu pergi setelah meninggalkan rumah yang lebih rapi di dalam diri kita.

Vira adalah cinta seperti itu.

Ia tidak pernah menjadi pacarku.
Tidak pernah menjadi kekasih yang kuterjemahkan ke masa depan.
Ia hanya pernah menjadi alasan aku belajar bersikap lembut pada perasaan orang lain.

Dan itu, ternyata, jauh lebih penting.

Aku masih bisa mengingat detail-detail kecil yang seharusnya sudah dilupakan: kuncir dua, bau sampo hijau, tangan yang hampir bersentuhan, dan suara pelan di ujung telepon yang memilih jujur tanpa melukai. Semua itu tidak menuntut untuk diingat, tapi selalu muncul saat aku sedang diam.

Beberapa kenangan memang begitu.
Ia tidak minta dibuka.
Ia muncul sendiri.

Aku pernah berharap cerita ini berakhir berbeda. Pernah membayangkan versi hidup di mana aku dan dia duduk di masa depan yang sama. Tapi semakin dewasa, aku sadar: tidak semua hal indah harus dipeluk lama-lama. Ada yang cukup dipandangi, lalu dilepas, agar keindahannya tetap utuh.

Kami bertemu lagi sebagai orang dewasa. Tidak ada gemetar. Tidak ada harap yang disembunyikan. Hanya dua manusia yang saling mengerti bahwa dulu mereka pernah saling menjaga—tanpa pernah saling mengikat.

Dan itu tidak kecil.

Putu pernah bilang, aku adalah “cinta yang aman” bagi Vira. Waktu itu aku belum sepenuhnya paham. Sekarang aku mengerti: aman bukan berarti lemah, bukan berarti setengah-setengah. Aman adalah keberanian untuk tidak memaksa dunia mengikuti kemauan kita.

Aman adalah mencintai tanpa menuntut takdir berutang.

Hari ini, aku bisa mencintai dengan lebih tenang karena pernah mencintai tanpa hasil. Aku bisa hadir tanpa menguasai, memberi tanpa menarik kembali, dan pergi tanpa membakar jembatan. Semua itu aku pelajari dari satu cerita yang tidak pernah resmi dimulai.

Cinta yang tidak jadi itu tidak sia-sia.
Ia bekerja diam-diam.
Ia membentuk kita dari dalam.

Dan jika suatu hari aku kembali melewati Jalan Hayam Wuruk, melihat anak SMP duduk di bangku bakso, menunggu bis sambil menatap ke seberang jalan—aku ingin mengatakan padanya satu hal sederhana:

“Tenang. Cerita ini tidak gagal.
Ia hanya tidak berakhir seperti yang kamu bayangkan.”

Karena ada cinta yang tidak jadi,
tapi justru itulah yang paling lama tinggal.

Ia tidak pergi ke mana-mana.
Ia hanya berubah menjadi bagian dari cara kita menjadi manusia.

 

CATATAN NUCKY

Lea/Vira “Do you still want me to want you?”
Jika aku masih menyebut namamu dalam diam,
apakah itu undangan…
atau sekadar sisa rindu yang belum berani pamit?

Aku tak meminta kamu kembali.
Aku hanya ingin tahu—
apakah aku masih boleh mencintaimu
tanpa harus memilikimu.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN