PERANG HIBRIDA, APA ITU ?
Dulu, kalau kita bicara perang, bayangannya sederhana: dentuman meriam, suara pesawat tempur, tentara berhelm baja, dan peta dengan panah merah biru yang saling menyerang. Sekarang? Perang bisa terjadi sambil kita duduk ngopi, scroll Instagram, atau nunggu pesanan kopi susu gula aren. Tidak ada suara ledakan, tapi dampaknya bisa bikin ekonomi goyah, pikiran kusut, dan kepercayaan antar manusia retak pelan-pelan.
Inilah ciri khas perang abad ke-21. Perang yang tidak selalu pakai tank dan rudal, tapi juga algoritma, kecerdasan buatan, dan media sosial. Perang yang tidak selalu membunuh secara fisik, tapi pelan-pelan melemahkan dari dalam: rasa aman, kepercayaan, dan nalar manusia.
Amerika Serikat, Rusia, dan China—kalau mau jujur—memang sudah jauh di depan soal ini. Mereka bukan hanya berlomba membuat senjata, tapi juga berlomba menguasai data, AI, satelit, dan ruang maya. Medannya bukan lagi hutan atau gurun, tapi server, kabel bawah laut, dan pikiran publik.
Kasus Iran, misalnya. Banyak analis menduga teknologi tertentu berasal dari China, dipraktikkan oleh Iran, lalu diuji secara tak langsung ketika Amerika dan Israel bermain di level yang sama—bahkan sampai menyentuh urusan satelit seperti Starlink, yang selama ini diiklankan “tak bisa dijamming.” Di titik itu kita sadar: klaim teknologi paling canggih pun ternyata tetap punya celah. Dan celah itu sering kali bukan teknis semata, tapi manusia yang menggunakannya.
Inilah yang disebut perang hibrida—hybrid warfare. Sebuah bentuk konflik modern yang licin, ambigu, dan sering bikin bingung. Tidak ada deklarasi perang resmi. Tidak ada garis depan yang jelas. Tapi dampaknya nyata.
Perang hibrida itu ibarat hujan gerimis berkepanjangan. Tidak langsung banjir, tapi lama-lama meresap ke mana-mana. Ia memadukan serangan fisik dengan serangan siber, tekanan ekonomi dengan propaganda, sabotase dengan permainan narasi. Kadang pelakunya tentara sungguhan, kadang “orang biasa” di media sosial, kadang akun anonim dengan foto profil anime tapi isi postingannya bikin negara ribut.
Tahun 2026, perang jenis ini dianggap sebagai salah satu ancaman keamanan global paling dominan. Kenapa? Karena ia pintar membaca kelemahan manusia. Ia tahu kita mudah marah, mudah takut, dan kadang malas mengecek kebenaran. Maka disinformasi jadi senjata paling murah dan paling efektif.
Rusia, misalnya, dituduh terus memainkan perang hibrida terhadap negara-negara NATO. Bukan dengan invasi besar-besaran, tapi lewat serangan siber ke infrastruktur penting dan manipulasi informasi yang bikin masyarakat saling curiga. Listrik padam sebentar, internet lemot sedikit, lalu muncul narasi: “Pemerintah gagal.” Padahal, bisa jadi itu memang tujuannya.
Indonesia pun tidak kebal. Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan dan TNI di awal 2026 mulai serius memperkuat pertahanan siber dan teknologi drone. Bukan karena mau perang, tapi karena sadar: stabilitas nasional hari ini tidak hanya dijaga di perbatasan, tapi juga di ruang digital.
Yang sering luput dari perhatian adalah sektor yang kelihatannya “damai-damai saja”: pariwisata.
Padahal pariwisata itu sangat rentan. Ia hidup dari rasa aman, kepercayaan, dan citra. Sekali saja muncul kabar palsu—entah soal keamanan, kesehatan, atau isu sosial—dampaknya bisa langsung terasa. Hotel kosong, penerbangan sepi, pedagang kecil yang paling duluan kena imbas.
Di Bali, misalnya. Hingga awal 2026 memang belum ada pernyataan resmi bahwa pariwisata Bali diserang perang hibrida secara langsung. Tapi tanda-tanda kerentanannya jelas. Isu “Bali sepi” yang viral di media sosial, daftar destinasi “no-go” versi media asing, sampai narasi soal overtourism dan sampah yang kadang dibesar-besarkan—semuanya bisa menjadi bagian dari perang informasi. Bukan selalu bohong, tapi dipilih, dipoles, dan disebarkan dengan timing yang pas.
Belum lagi efek domino konflik global. Ketegangan di Timur Tengah bikin jalur penerbangan terganggu, biaya naik, wisatawan ragu. Bali, yang sangat bergantung pada infrastruktur digital dan logistik global, otomatis ikut bergetar. Kabel serat optik bawah laut, sistem reservasi online, bahkan listrik—semuanya bisa jadi target dalam skenario perang hibrida.
Yang paling menyedihkan? Perang hibrida sering memanfaatkan masalah internal kita sendiri. Sampah, macet, krisis air, konflik sosial kecil—semua itu bisa dijadikan bahan bakar narasi negatif. Kadang kita sibuk saling menyalahkan, tanpa sadar sedang membantu pekerjaan pihak yang ingin kita lemah.
Di titik ini, perang tidak lagi soal negara vs negara. Tapi soal manusia vs manipulasi.
Dan di sinilah nilai kehidupan manusia diuji. Apakah kita mau jadi pion yang mudah digerakkan emosi, atau manusia yang tetap waras di tengah banjir informasi? Apakah kita mau langsung percaya dan marah, atau berhenti sebentar, tarik napas, lalu berpikir?
Ada sedikit humor pahit di sini: dunia makin canggih, tapi hoaks masih bisa bikin orang ribut di grup keluarga. AI makin pintar, tapi kita kadang masih malas baca sampai tuntas. Satelit mengorbit bumi, tapi empati sering gagal mendarat di hati.
Mungkin itulah pelajaran terpenting dari perang abad ke-21. Bahwa senjata paling ampuh bukan AI, bukan drone, bukan propaganda—melainkan kesadaran manusia. Kesadaran untuk tidak mudah diadu domba, untuk menjaga kemanusiaan di tengah kecanggihan, dan untuk ingat bahwa di balik setiap konflik, selalu ada manusia biasa yang cuma ingin hidup tenang.
Karena pada akhirnya, perang hibrida boleh saja terjadi di server dan layar, tapi damai—atau hancurnya—selalu dimulai dari pikiran dan hati kita sendiri.