GELAS, EMBER, DAN KOLAM
Tentang Kedewasaan, Isi Diri, dan Cara Hidup Mengalir
Suatu hari—entah kenapa hari itu rasanya panjang—aku terlibat diskusi yang bukan diskusi biasa. Lewat telepon. Lama. Dalam. Dan berulang-ulang. Lawan bicaraku bukan orang sembarangan. Ia sahabat, sekaligus guru kehidupan. Tipe orang yang kalau ngomong nggak pakai teriak, tapi kalimatnya bisa nyangkut berhari-hari di kepala.
Kami ngobrol soal manusia. Tentang watak. Tentang sifat. Tentang bagaimana latar belakang membentuk cara berpikir, lalu cara berpikir membentuk cara bersikap. Dari sana obrolan melebar ke motif—apa sih yang sebenarnya menggerakkan seseorang untuk begitu aktif, begitu bersemangat, atau justru begitu tenang tapi mengena?
Lalu muncul satu fenomena klasik yang sering kita lihat tapi jarang kita renungkan.
Ada orang yang tampilannya gagah. Jabatannya mentereng. Posisi tinggi. Casing-nya kinclong. Dari luar kelihatan “wah”. Tapi begitu bicara… kok rasanya kosong. Cara menyikapi masalah dangkal. Nada suara tinggi tapi makna rendah. Di titik itu, entah kenapa, rasa hormat pelan-pelan luruh. Bukan karena kita iri, tapi karena isinya tidak sebanding dengan bungkusnya.
Sebaliknya, ada juga orang yang penampilannya biasa saja. Nggak pernah bicara lantang. Nggak doyan pamer. Duduknya di pojok, kadang kayak figuran. Tapi begitu situasi mendesak, begitu diminta pendapat—kalimatnya rapi, tenang, dan… ngena. Sekali bicara, ruangan langsung hening. Bukan karena takut. Tapi karena hormat.
Ada juga tipe ketiga. Yang kelihatannya super sibuk. Bergerak ke sana-sini. Rapat ini, rapat itu. Semangatnya menggebu. Tapi kalau ditanya hasilnya apa… ya… B aja. Capek iya. Heboh iya. Dampak? Tipis.
Di situlah, entah dari mana, kami sampai pada satu analogi sederhana:
gelas, ember, dan kolam.
Sederhana. Tapi kalau direnungi… dalem.
GELAS: KETIKA DIRI CEPAT PENUH, CEPAT TUMPAH
Gelas itu kecil. Sedikit air saja sudah penuh. Kalau dipaksa ditambah, yang terjadi bukan makin bermanfaat, tapi tumpah ke mana-mana.
Dalam hidup, gelas ini seperti orang yang kapasitas hatinya masih sempit. Baru dikasih sedikit tanggung jawab sudah stres. Baru dikasih nasihat sudah defensif. Baru dikasih amanah sudah merasa paling berat bebannya.
Bukan karena dia jahat. Bukan karena dia malas. Tapi karena wadahnya belum siap.
Kadang rezeki datang, tapi bikin gelisah.
Kadang ilmu datang, tapi bikin sombong.
Kadang jabatan datang, tapi bikin lupa diri.
Bukan salah airnya.
Yang perlu dibesarkan… wadahnya.
EMBER: BESAR, TAPI MASIH PERLU TENAGA
Ember itu lebih besar dari gelas. Ia bisa menampung lebih banyak. Tapi ada satu syarat: kalau mau menuangkan, harus diangkat.
Artinya apa?
Semakin besar kapasitas seseorang—ilmu, jabatan, harta—semakin besar pula tenaga, kesadaran, dan tanggung jawab untuk menyalurkannya.
Banyak orang berhenti di fase ember. Isinya ada. Potensinya ada. Tapi sibuk menyimpan. Lelah mengangkat. Atau bahkan lupa kalau ember itu bukan untuk dipajang, tapi untuk dipakai.
Ember mengajarkan satu hal penting:
punya isi itu penting, tapi kemauan untuk menyalurkan jauh lebih penting.
KOLAM: TENANG, DALAM, DAN BERMANFAAT
Kolam itu beda kelas.
Ia menampung banyak air tanpa ribut.
Memberi tanpa harus diangkat.
Airnya mengalir karena jalannya memang disiapkan.
Kolam tidak teriak,
tapi sawah hidup karenanya.
Kolam tidak pamer,
tapi makhluk datang sendiri.
Inilah fase kedewasaan jiwa. Orang yang sudah tidak sibuk membuktikan, tidak panik kehilangan, tidak gelisah saat memberi. Tenang menerima. Lapang berbagi.
Kolam tidak pernah bilang, “Aku dalam.”
Tapi semua tahu.
REFLEKSI PALING JUJUR
Masalah hidup sering bukan karena airnya terlalu banyak,
tapi karena wadahnya belum siap.
Kadang kita memaksa diri jadi kolam, padahal masih gelas.
Kadang kita iri pada kolam, tapi malas ditempa jadi ember.
Padahal hidup itu proses.
Gelas tidak salah.
Ember tidak kurang.
Kolam pun pernah kosong.
Yang penting… mau bertumbuh.
PEGANGAN LANGIT: QUR’AN & HADITS
Allah sudah lama mengingatkan soal kapasitas ini:
﴿لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا﴾
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya, Allah tahu betul wadah kita.
Yang sering lupa… kita sendiri.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
(HR. Ahmad)
Bukan yang paling penuh.
Bukan yang paling sibuk.
Tapi yang paling mengalirkan manfaat.
CATATAN NUCKY : LALU AKU JADI APA HARI INI?
Sekarang pertanyaannya bukan menilai orang lain.
Tapi jujur ke diri sendiri:
Hari ini aku gelas, ember, atau kolam?
Kalau masih gelas, tak apa. Perbesar pelan-pelan.
Kalau sedang jadi ember, kuatkan niat menyalurkan.
Kalau sudah seperti kolam… tetap rendah hati. Jangan kering.
Karena hidup bukan tentang terlihat hebat,
tapi tentang menjadi wadah yang cukup lapang agar rahmat Allah bisa mengalir ke mana-mana.
Dan percaya satu hal:
Allah lebih sibuk membesarkan isi hati,
daripada memoles casing diri.
Pelan-pelan saja.
Air yang tenang… justru paling dalam.