GO GREEN TARUPARWA: Ketika Lukisan Mengajak Kita Pulang ke Bumi
Ada satu momen dalam hidup ketika manusia tiba-tiba merasa kecil. Bukan karena gagal, bukan karena kalah, tapi karena sadar: bumi yang selama ini diinjak, diperas, ditebang, dan dilupakan… ternyata sedang lelah. Di titik kesadaran itulah karya Go Green Taruparwa milik Sam Sianata hadir, bukan sebagai lukisan yang sok cantik minta dipuji, tapi sebagai suara pelan yang menegur dengan sopan, “Hei, kita ini masih satu rumah, lho.”
Sam Sianata—atau Liem Sian An—bukan tipe seniman yang puas kalau karyanya cuma digantung rapi, difoto, lalu dipamerkan di Instagram dengan caption bijak tapi hidupnya tetap biasa-biasa saja. Baginya, seni itu harus menghidupi, bukan sekadar menghiasi. Dari situlah lahir Trinity Art, sebuah jalan sunyi tapi bernyali besar: lukisan yang bisa dilihat, musik yang bisa dirasa, dan maskot yang bisa diajak ngobrol lintas usia. Tiga elemen itu bukan tempelan gaya-gayaan, tapi satu tarikan napas yang sama—seperti hidup manusia itu sendiri: ada pikiran, ada rasa, ada simbol harapan.
Dan di antara banyak karyanya, Go Green Taruparwa berdiri seperti pohon tua yang akarnya dalam, daunnya rindang, dan diam-diam menaungi banyak orang tanpa ribut minta tepuk tangan. Ini bukan sekadar lukisan tentang hijau-hijauan. Ini adalah doa visual. Tentang bumi yang sabar. Tentang manusia yang sering lupa diri. Tentang relasi yang retak tapi masih bisa diperbaiki—kalau mau.
Di kanvas Taruparwa, alam tidak digambarkan sebagai objek mati. Ia hidup. Bernapas. Seolah berkata, “Aku bukan warisan nenek moyangmu, tapi titipan anak cucumu.” Ada getaran spiritual di setiap warna, ada filsafat sunyi di setiap garis. Dan lucunya, makin lama dipandangi, makin terasa seperti sedang bercermin. Kita melihat hutan, tapi yang tampak justru diri sendiri—rapuh, serakah, tapi sebenarnya rindu untuk kembali jujur.
Sam tidak berhenti di lukisan. Ia tahu, pesan besar tidak cukup disampaikan dengan satu bahasa. Maka lahirlah musik yang mengiringi Taruparwa—bukan musik yang teriak-teriak, tapi musik yang pelan, masuk ke sela-sela kesadaran, lalu tinggal lama. Seperti lagu masa kecil yang tiba-tiba teringat ketika kita dewasa dan capek jadi orang penting. Musik itu mengajak diam, lalu bertanya: kapan terakhir kita benar-benar menghormati bumi?
Lalu muncullah POHIN, maskot Pohon Indah. Jangan remehkan maskot. Kadang pesan paling dalam justru sampai lewat simbol yang sederhana. POHIN itu seperti anak kecil yang polos tapi jujur—ia tidak menghakimi, hanya mengingatkan. Dengan senyum kayunya, POHIN seakan berkata, “Kalau kamu sayang aku hari ini, aku akan jagain kamu besok.” Sesederhana itu. Dan justru karena kesederhanaannya, ia menembus lintas generasi. Anak paham, orang dewasa tersentil.
Ketika Go Green Taruparwa dipamerkan di panggung internasional seperti BGAAD di Denpasar, karya ini tidak berdiri sebagai wakil ego seniman, tapi sebagai suara kolektif. Suara bangsa. Suara bumi. Ia membuktikan bahwa seni Indonesia bukan hanya kaya motif, tapi juga kaya nurani. Bahwa pesan lingkungan tidak harus marah-marah, tidak harus menakut-nakuti, tapi bisa disampaikan dengan cinta—walau cintanya pedih.
Sam Sianata sering dijuluki “Pelukis Satu Triliun”. Tapi kalau mau jujur, nilai satu triliun itu terasa kecil dibanding pesan yang ia titipkan. Karena nilai sejati Taruparwa bukan di harga, tapi di kesadaran yang ditinggalkannya. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Bahwa harmoni sosial tidak mungkin tercapai kalau relasi kita dengan alam rusak. Bahwa nasionalisme sejati bukan cuma soal bendera dan upacara, tapi tentang bagaimana kita menjaga tanah tempat bendera itu ditancapkan.
Go Green Taruparwa akhirnya bukan hanya tentang hijau. Ia tentang kembali. Kembali menjadi manusia yang tahu diri. Tahu batas. Tahu terima kasih. Di tengah dunia yang serba cepat, karya ini mengajak kita melambat sebentar—menarik napas, menaruh tangan di dada, dan bertanya dengan jujur: “Kalau bumi bisa bicara, apakah ia masih mau memanggil kita anak?”
Dan di situlah seni Sam Sianata bekerja. Tidak menggurui. Tidak menghakimi. Ia hanya membuka pintu. Selebihnya, terserah kita—mau masuk, atau tetap berlalu sambil pura-pura tidak mendengar.