Postingan

ELECTRIC YOUTH

Gambar
5 Februari 2026 Hari ini aku duduk berhadapan dengan seorang anak muda bernama Ethan —pemuda asal Karibia dengan mata yang menyala-nyala oleh ide. Ia mempresentasikan Discussion on Bali Caribbean Carnival bukan sekadar sebagai acara, tapi sebagai panggung identitas, perayaan lintas budaya, dan keberanian generasi muda untuk berkata, “Kami ada, dan kami siap.” Saat ia berbicara, aku merasakan energi itu menular—energi yang tidak dibuat-buat, tidak dibungkus jargon, tapi lahir dari keyakinan. Dan entah bagaimana, energi itu menarikku mundur ke lorong waktu, ke awal 90-an, ke masa ketika jiwa mudaku pernah bergetar oleh suara yang sama-sama lantang menyebut masa depan: “Electric Youth.” Lagu Debbie Gibson itu—ditulis dan diproduseri olehnya sendiri—bukan sekadar pop ceria. Ia adalah pernyataan. Sebuah anthem yang menyentil generasi muda agar berani berdiri, didengar, dan dipercaya. Kritik memujinya sebagai tanda kedewasaan artistik; produksi musiknya liar dan futuristik, penuh synth ...

KHIDMAT HMI UNTUK INDONESIA

Gambar
  “Khidmat HMI untuk Indonesia” bukanlah sekadar kalimat manis yang enak dibaca, enak didengar, lalu selesai setelah acara usai. Ia bukan hiasan spanduk yang dilipat rapi setelah forum, bukan pula slogan pidato yang tepuk tangannya meriah tapi cepat dilupakan. Kalimat ini adalah cermin—kadang jujur, kadang menampar—tentang bagaimana HMI sejak awal berdiri memilih jalan sunyi: jalan pengabdian. Jalan yang tidak selalu ramai, tidak selalu terlihat, dan sering kali tidak diberi panggung. HMI hadir bukan karena ingin dipuji, tapi karena merasa bertanggung jawab. Hadir saat umat butuh arah, hadir saat bangsa bingung memilih jalan, hadir saat negara goyah dan akal sehat perlu dijaga. Khidmat itu sendiri bukan pekerjaan instan. Ia tidak lahir dari niat viral, tidak tumbuh dari ambisi jabatan, apalagi dari keinginan sekadar “terlihat aktif”. Khidmat adalah kerja panjang, kerja sabar, kerja yang kadang tidak dicatat sejarah, tapi tercatat rapi oleh nurani. Mengajar adik-adik dengan fasili...

GO GREEN TARUPARWA: Ketika Lukisan Mengajak Kita Pulang ke Bumi

Gambar
SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Sahabat lamaku ini bernama Sam Sianata —atau Liem Sian An —usianya kini sudah melewati setengah abad, tapi anehnya semangatnya masih seperti anak muda yang baru jatuh cinta pada mimpi. Di raut wajahnya tergambar jelas kelelahan yang jujur: lelah merawat idealisme, lelah menjaga api yang sering kali ingin padam oleh realitas, tapi justru dari situ terlihat betapa jiwanya masih utuh dan hidup . Wajahnya bukan wajah orang yang capek menyerah, melainkan wajah orang yang capek tapi tidak mau berhenti . Sebagai seniman berdarah Tionghoa yang tumbuh dan berakar di Yogyakarta, Sam adalah contoh hidup bagaimana identitas tidak harus dipertentangkan. Jiwa seninya sangat kentara, tapi yang membuatnya istimewa adalah caranya menjiwai budaya Jawa bukan sebagai topeng, melainkan sebagai napas —halus, tepo seliro, penuh rasa, dan selalu mencari harmoni. Ia tidak sekadar melukis persatuan, ia menghidupinya : dalam bahasa tubuhnya yang tenang, dalam t...

GELAS, EMBER, DAN KOLAM

Gambar
  Tentang Kedewasaan, Isi Diri, dan Cara Hidup Mengalir Suatu hari—entah kenapa hari itu rasanya panjang—aku terlibat diskusi yang bukan diskusi biasa. Lewat telepon. Lama. Dalam. Dan berulang-ulang. Lawan bicaraku bukan orang sembarangan. Ia sahabat, sekaligus guru kehidupan. Tipe orang yang kalau ngomong nggak pakai teriak, tapi kalimatnya bisa nyangkut berhari-hari di kepala. Kami ngobrol soal manusia. Tentang watak. Tentang sifat. Tentang bagaimana latar belakang membentuk cara berpikir, lalu cara berpikir membentuk cara bersikap. Dari sana obrolan melebar ke motif—apa sih yang sebenarnya menggerakkan seseorang untuk begitu aktif, begitu bersemangat, atau justru begitu tenang tapi mengena? Lalu muncul satu fenomena klasik yang sering kita lihat tapi jarang kita renungkan. Ada orang yang tampilannya gagah . Jabatannya mentereng. Posisi tinggi. Casing-nya kinclong. Dari luar kelihatan “wah”. Tapi begitu bicara… kok rasanya kosong. Cara menyikapi masalah dangkal. Nada suara ti...

RUN TO ME - by BEE GEES

Gambar
SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :  Lagu “Run to Me” – Bee Gees ini terasa seperti bisikan lembut dari seseorang yang tidak datang dengan janji berlebihan, tapi dengan kehadiran . Narasinya sederhana namun dalam: tentang seseorang yang melihat luka di hati orang lain—luka yang ditinggalkan oleh hujan panjang bernama kecewa, pengkhianatan, dan kesepian—lalu bertanya dengan jujur, “Apakah aku bodoh jika mengajakmu percaya lagi pada cinta?” Dalam liriknya, cinta tidak digambarkan sebagai letupan gairah, melainkan ruang aman . “If ever you got rain in your heart” adalah metafora indah tentang hati yang basah oleh kesedihan. Penyanyinya tidak menyangkal bahwa pendengarnya pernah disakiti, bahkan “torn apart”. Namun ia tidak memaksa. Ia hanya membuka pintu: jika lelah, jika dingin, jika tak punya siapa-siapa, run to me . Datanglah, bukan untuk diselamatkan secara dramatis, tapi untuk dipegang agar tidak jatuh sendirian . Makna terdalam lagu ini ada pada kalimat: “Now ...

40 TAHUN, TAPI TAWA KITA MASIH UMUR 10

Gambar
SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Matursuksme, sahabat-sahabat kecilku tercinta. Sungguh… ini bukan sekadar temu kangen. Ini semacam peristiwa hidup yang bikin dada hangat, mata agak basah, dan hati senyum sendiri. Empat puluh tahun, loh. Empat puluh. Angka yang kalau manusia sudah mulai rajin minum vitamin, tapi anehnya… rasa kita tetap sama seperti bocah SD dulu—yang bedanya sekarang cuma: ketawanya lebih keras, ceritanya lebih panjang, dan capeknya datang lebih cepat. Hari itu rasanya luar biasa. Bahagia. Bangga. Campur aduk. Bangga karena pernah satu angkatan dengan kalian semua. Pernah satu kelas, satu halaman buku tulis, satu barisan upacara, dan satu masa kanak-kanak yang—ternyata—nggak pernah benar-benar pergi. Kekonyolan sebenernya sudah dimulai dari menit pertama. Bayangin… acara reuni 40 tahun, tapi aku belum booking tempat. Bukan lupa. Bukan lalai. Tapi terlalu semangat. Ini pelajaran hidup ya, kawan-kawan: semangat itu penting, tapi jangan sampai ngal...

JAGUNG BAKAR, ANGKOT MM, DAN RINDU LINGKARAN HIDUP YANG MEMBESARKANKU

Gambar
SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Dari hari pertama kita tiba di planet ini, kata Elton John, kita seperti bayi yang baru melek—kedip-kedip, silau, lalu belajar berdiri di bawah matahari. Dan entah kenapa, setiap kali lirik itu terngiang di kepalaku, wajah Kota Malang selalu muncul duluan. Udara dingin yang nyelip di jaket tipis, bau bakso di setiap sudut, dan rasa “hidup” yang sederhana tapi penuh makna. Malang bukan sekadar kota persinggahan. Ia adalah sekolah kehidupan. Tempat aku belajar jatuh, ketawa, lapar, patah hati, jatuh cinta, kehilangan, dan pelan-pelan menemukan tempatku sendiri di lingkaran hidup. Jagung Bakar dan Perut yang Selalu Lapar Masa Depan Di Malang, makan jagung bakar itu bukan sekadar ngemil. Itu ritual. Sekali nongkrong bisa lima sampai sepuluh jagung. Jangan tanya rasanya—yang jelas, perut kenyang tapi hati tetap lapar. Lapar mimpi. Lapar masa depan. Kami duduk melingkar, asap jagung naik ke langit Malang yang dingin. Obrolan ngalor-ng...