KETIKA CINTA MENEMUKAN JALAN DI TENGAH PERBEDAAN
(Refleksi Dalam Melewati 6 Tahun Ombak Kehidupan)
Kadang cinta datang di waktu yang tak kita rencanakan. Ia muncul
diam-diam, tanpa janji, tanpa aba-aba, seperti hujan yang turun di tengah
kemarau panjang. Begitulah kisahku. Setelah sekian tahun hidup sendiri sebagai
duda, menata hati di antara kenangan dan tanggung jawab, Allah mempertemukanku
lagi dengan seseorang yang pernah ada di masa lalu:
Anak Agung Mayun Trisna Wulandari — adik kelasku semasa kuliah,
sekaligus teman kuliah almarhumah istriku, Renny.
Wulan bukan sekadar nama. Ia perempuan Bali berdarah biru dari
Puri Kawan di Klungkung — berwibawa tapi lembut, mandiri tapi penuh kasih,
elegan tapi hangat. Kami bertemu lagi di sebuah reuni kampus. Awalnya hanya
sapaan ringan, sekadar nostalgia masa lalu. Tapi entah bagaimana, pandanganku
terhenti padanya. Bukan karena parasnya semata, tapi karena ada ketenangan di
matanya, ada ketulusan dalam suaranya, dan mungkin, karena dalam hatiku
tersimpan rasa terima kasih atas kehadirannya di masa sulit Renny dulu.
Aku tahu, ini bukan sekadar nostalgia. Hati ini bergetar bukan
karena masa lalu, tapi karena sesuatu yang datang dari arah yang lebih tinggi —
dari Allah.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.
Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Tapi sebelum melangkah, ada satu hati yang harus kutatap lebih
dulu: Namira, putri tunggalku, cahaya hidupku.
Malam itu kami duduk berdua di ruang tamu kecil — tempat yang
penuh kenangan. Dengan suara bergetar aku berkata:
“Nak, kamu sudah besar sekarang… kamu tahu, Mama sudah lama pergi,
dan Ayah... Ayah merasa waktunya tiba untuk tidak sendirian lagi. Bolehkan Ayah
mencari teman hidup lagi?”
Namira menatapku lama. Matanya mulai basah. Lalu tanpa banyak
kata, ia memelukku erat dan berbisik,
“Gak apa-apa, Yah… asal Ayah bahagia, asal bisa jaga Ayah, Namira
ikhlas.”
Pelukan itu menghangatkan hati. Tangis kami pecah — bukan tangis
duka, tapi restu yang turun dari langit. Malam itu, aku tahu Allah sedang
memeluk kami berdua.
Keesokan harinya, aku mendatangi Wulan. Dengan hati-hati aku
sampaikan niat untuk melangkah lebih jauh. Tapi aku tahu, ini bukan hal yang
mudah.
Aku adalah pria Jawa-Madura dari keluarga berakar budaya keraton
Solo, sementara Wulan berasal dari keluarga Bali, dari kasta Ksatria yang
dihormati. Dua dunia yang berbeda. Tapi siapa sangka, Allah sudah menulis kisah
ini jauh sebelum kami bertemu.
Beberapa bulan sebelumnya, Wulan telah memeluk Islam. Ia menjalani
proses itu dengan air mata, perenungan, dan keikhlasan. Mendengarnya membuat
hatiku bergetar.
“Alhamdulillah, ya Rabb… Engkau telah memudahkan jalan ini.”
Langkah berikutnya adalah yang paling menegangkan: berbicara
dengan anak-anak Wulan, Kak Amel dan Kak Dea. Kami bertemu di sebuah kafe
kecil, dengan suasana penuh rasa canggung tapi hangat. Aku bicara dari hati:
“Aku tidak ingin menggantikan siapa pun, hanya ingin menjadi
bagian dari hidup kalian — menemani, mendukung, dan berusaha membahagiakan
Mama.”
Mereka terdiam, lalu Kak Dea tersenyum dan berkata,
“Yang penting Mamaku bahagia.”
Sederhana, tapi kalimat itu seakan menghapus segala ketakutanku.
Dan tibalah waktu yang paling mendebarkan: menghadap keluarga
besar di Puri Kawan, Klungkung.
Rumah megah, adat yang kuat, aura leluhur yang kental. Aku bahkan sempat
bercanda dalam hati, “Aduh Gusti, ini bukan lamaran, ini kayak ujian skripsi
adat.”
Tapi begitu kami masuk, suasananya hangat. Kami disambut Oom
Kadek Sugita, sosok yang dituakan. Ia bercerita panjang tentang nilai-nilai
keluarga, tentang kehormatan dan tanggung jawab. Aku mendengarkan dengan penuh
hormat, lalu dengan suara berat kukatakan:
“Saya datang bukan untuk mengubah siapa pun, tapi untuk memuliakan
putri panjenengan dengan jalan yang diridhai Allah.”
Hening beberapa saat, lalu senyum perlahan muncul di wajah mereka.
Restu pun diberikan.
Sementara di rumahku, Mama sempat terkejut mendengar bahwa calon menantunya
berasal dari keluarga bangsawan Bali. Tapi setelah melihat ketulusan dan proses
Wulan dalam Islam, beliau akhirnya tersenyum dan berkata,
“Kalau Allah sudah mempertemukan, siapa kita yang berani menolak?”
Enam tahun telah berlalu sejak kami mengucap akad.
Enam tahun melewati ombak kehidupan — dan sungguh, ombak itu tidak
selalu tenang.
Kadang perbedaan budaya, ego, cara berpikir membuat kami sibuk
membangun tembok, bukan jembatan. Aku dengan keras kepala ala Jawa, dia dengan
kelembutan tapi ketegasan khas Bali. Kami sama-sama ingin didengar, tapi lupa
saling mendengarkan. Kadang kami terlalu sibuk membenarkan diri, lupa
menenangkan hati.
Kami lupa bahwa rumah tangga bukan ajang adu benar, tapi tempat
untuk saling belajar sabar.
Kami lupa bahwa cinta tak selalu berbentuk tawa, kadang ia hadir dalam bentuk
luka yang membuat kita tumbuh.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)
Kini, di usia pernikahan kami yang KEENAM, kami menatap ke
belakang dengan rasa syukur dan juga penyesalan.
Kami menyadari, kami belum sempurna.
Belum bisa sepenuhnya menyenangkan orang-orang yang paling berjasa dalam hidup
kami — Papa, Mama, Bapak, dan Ibu.
Kami tahu, sering kali masalah kami membuat mereka ikut sedih,
ikut lelah, bahkan ikut berdoa tanpa suara setiap malam.
Maafkan kami yang belum bisa menjadi kebanggaan seutuhnya.
Maafkan kami yang kadang membuat hati mereka cemas karena kabar kami yang tidak
selalu baik.
Maafkan kami yang masih sering jatuh dalam perdebatan kecil, yang seharusnya
diselesaikan dengan pelukan.
“Ya Allah, ampuni dosa kami dan dosa kedua orang tua kami,
kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihi kami sejak kecil.”
(QS. Al-Isra: 24)
Kami tahu, doa mereka adalah jangkar yang menahan perahu rumah
tangga kami agar tidak karam.
Kami hanya ingin berkata dari hati paling dalam:
“Terima kasih, Papa, Mama, Bapak, Ibu… atas cinta, kesabaran, dan
doa yang tak pernah putus. Doakan kami agar tetap saling menjaga, bukan saling
menjauh. Agar kami belajar mencintai bukan dengan kata, tapi dengan sabar.”
Enam tahun mungkin bukan waktu panjang, tapi cukup untuk membuat
kami memahami bahwa pernikahan bukan tentang menemukan yang sempurna, tapi
menjadi sempurna bersama dalam ketidaksempurnaan.
Kini, aku hanya berdoa:
“Ya Allah, satukan hati kami dalam ridha-Mu. Jadikan perbedaan
kami sebagai sebab kami saling melengkapi, bukan memisahkan. Ajarkan kami untuk
mencintai bukan karena kesempurnaan, tapi karena Engkau.”
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

.jpg)