SEMANGATKU MASIH SAAT INI: KISAH TENTANG JANJI YANG TIBA-TIBA SUNYI
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :
Ketika menunggu seseorang di warung kopi pinggir jalan—yang katanya
“bentar lagi sampai,” tapi entah kenapa jam terus berputar, kopi sudah dingin,
tapi orangnya tetap tak datang. Begitulah kisah ini dimulai. Dari seseorang
yang pernah bilang, “Kamu yang paling penting. Aku cinta mati sama kamu.”
Ucapan yang dulu bikin dada hangat, tapi kini justru berubah jadi pertanyaan
yang nggak ada jawabannya.
Cerita:
Menunggu di Tempat Biasa
Sore itu,
langit seperti diseka perlahan. Warnanya jingga lembut, seperti hati seseorang
yang sedang menahan rindu. Ia duduk di bangku kayu tempat biasa—bangku yang
sudah jadi saksi tawa mereka, debat receh mereka, sampai janji-janji manis yang
kini rasanya pahit sedikit-sedikit.
Ia
memandangi layar ponselnya yang gelap. Bukan karena baterainya habis, tapi
karena pesan yang dikirim sejak berhari-hari lalu tetap centang satu. "Apa
kau dapat pesanku?" gumamnya, setengah bertanya pada angin, setengah
memohon pada semesta.
Dulu, orang
itu selalu bilang,
“Aku nggak
bakal ninggalin kamu. Kamu penting banget buat aku.”
Dan ia
percaya. Dengan polos. Dengan penuh hati.
Tapi kini?
Orang yang katanya cinta mati tiba-tiba hilang begitu saja. Tidak ada kabar.
Tidak ada suara. Tidak ada alasan. Yang tersisa hanya sepi yang duduk seperti
teman baru, tanpa permisi.
Tetap saja,
ia menunggu. Menunggu sampai hatinya sendiri antara kuat dan rapuh, seperti
kain tipis yang sering dicuci. Hanya ingin memeluknya seerat mungkin. Hanya
ingin memastikan bahwa cinta itu masih di tempat yang sama.
“Ku
Menanti.”
Ada sesuatu
yang tidak ia sampaikan kemarin-kemarin. Sesuatu yang disimpannya rapat—bukan
karena tidak percaya, tapi karena ingin melihat wajah orang itu ketika ia
mengatakannya.
Sore itu ia
duduk dengan napas sedikit lebih berat dari biasanya. Ada semangat yang mulai
menipis, seperti lilin yang tinggal sedikit lagi sebelum padam. Tapi ia tetap
memaksa datang ke tempat biasa.
Karena ia
ingin mengatakan,
“Aku takkan
bisa kalau kamu nggak datang… semangatku tinggal saat ini.”
Itu bukan
ancaman.
Bukan paksaan.
Bukan drama.
Itu adalah
sejujur-jujurnya perasaan seseorang yang sedang melawan banyak hal dalam
diam—yang hanya ingin ditemani oleh satu orang yang pernah bilang bahwa dirinya
penting.
Cinta
yang Dibalas
Ia
mencintainya karena selama ini ia merasa dicintai balik. Karena seseorang itu
pernah membuatnya percaya bahwa dunia ini tidak sesepi itu. Bahwa mencintai
tidak harus menuntut apa-apa, cukup hadir.
Lalu ia
berkata dalam hati,
“Aku
mencintaimu karena kau pernah balas mencintaiku. Dan aku percaya itu… dulu,
sekarang, dan mungkin sampai nanti.”
Ia terus
menunggu. Meski lampu-lampu di sekitar mulai menyala. Meski dingin mulai
menggigit ujung jarinya. Meski suara kendaraan makin jarang lewat. Ia tetap
bertahan.
Karena ia
percaya satu hal…
kalau seseorang sungguh mencintai, dia akan datang.
Tempat
Biasa yang Tak Lagi Sama
Bangku kayu
itu kini terasa lebih keras. Waktu terasa berjalan pelan seperti sengaja
menyiksa. Dan hati… ya, hati mulai berdesir, mulai mengerti bahwa terkadang
seseorang yang paling kita tunggu justru adalah seseorang yang tidak bisa lagi
datang.
Atau
mungkin…
belum siap datang.
Atau
mungkin…
tidak tahu bahwa waktu kita terbatas.
Dan pada
akhirnya ia berbisik pada dirinya sendiri,
“Kalau dia
benar-benar sayang, dia akan datang. Tapi kalau tidak… biarlah.”
Ada tawa
kecil keluar dari bibirnya—tawa getir yang menyembunyikan luka.
“Gila, aku masih aja percaya sama janji orang yang bahkan hilang begitu aja.”
Namun ia
tetap saja duduk.
Tetap menunggu.
Karena semangatnya… tinggal saat ini.
Dan ia
berharap. Walau hanya sedikit:
“Tuhan,
kalau dia memang untukku, tolong arahkan langkahnya ke bangku ini… sebelum
semuanya terlambat.”
Tentang
Menunggu dan Menerima
Kisah ini
bukan hanya tentang seseorang yang hilang. Bukan tentang pesan yang tidak
dibalas. Bukan tentang janji yang menguap.
Kisah ini
adalah tentang:
- keberanian untuk mencintai meski tahu bisa
sakit,
- ketulusan untuk menunggu meski tidak pasti,
- dan kekuatan untuk menerima bahwa beberapa orang
hanya hadir untuk mengajarkan arti kehilangan.
Dan pada
akhirnya, kita semua pernah berada di posisi itu—di bangku kayu kehidupan,
menunggu seseorang yang pernah bilang kita penting… sambil bertanya dalam hati:
“Apakah
ia akan datang… sebelum semangatku benar-benar habis?”