DI BALIK LUKA ADA KUAT YANG TUMBUH: SEBUAH KISAH MELAWAN ANGIN YANG TAK TERLIHAT

  UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :


Hidup ini terasa seperti lapangan perang yang tak ada ujungnya. Bukan karena kita suka bertarung, tapi karena hidup memang mempertemukan kita dengan hantaman-hantaman yang entah datang dari mana. Namun anehnya, dari semua hantangan yang datang bertubi-tubi itu… kok aku malah makin kuat, ya? Makin dibenci, aku makin tangguh. Makin dihina, aku makin tegar. Dan yang lebih lucu—atau mungkin ironis—para pembenciku malah makin compang-camping sendiri, seperti baju bekas habis dicuci pakai mesin cuci tetangga yang rusak pengeringnya.

Dan di titik-titik sunyi antara luka dan tawa itulah aku sadar: rupanya Allah sedang melatih diriku dengan sangat teliti dan terukur. MasyaAllah.

 

Hantaman yang Membuatku Berdiri Lebih Tinggi

Ada hari-hari ketika aku merasa dunia sedang menimbang seberapa kuat tulangku. Masalah datang bukan satu-satu, tapi rombongan. Seperti iring-iringan pesanan go-food yang salah alamat; datang tiba-tiba, bikin pusing, dan nggak ada satu pun yang aku pesan.

Tapi setiap kali aku jatuh, aku bangkit—kadang sambil ngedumel, kadang sambil tertawa kecut, tapi tetap bangkit.

Aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an:

﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Fa inna ma’al ‘usri yusrā.”
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Awalnya aku cuma menghafal ayat ini seperti anak TK menghafal nama-nama warna. Tapi lama-lama, ayat ini bukan cuma kalimat… dia jadi pengalaman.

Tiap kali aku merasa remuk, datang saja kemudahan kecil—entah dalam bentuk teman yang tiba-tiba muncul, pintu rezeki yang nggak terduga, atau damai yang menetes pelan di dada saat malam-malam paling gelap.

 

Ketika Dibenci Justru Menjadi Vitamin Tangguh

Lucu ya hidup ini. Waktu aku berbuat baik, diam-diam ada yang sebel. Waktu aku maju, ada yang nyinyir. Waktu aku gagal, mereka tepuk tangan. Waktu aku bangkit lagi, mereka makin sebal.

Aku sempat merasa konyol.
“Sudahlah Nucky, akhiri saja pertempuranmu,” kata beberapa orang.

Tapi aku tersenyum—agak miris juga sih—dan bilang:
“Pertempuran apanya? Ini perjuangan hidupku. Ini hakku sebagai manusia untuk mempertahankan kemerdekaan batinku… sama seperti bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.”

Dan benar. Hidup memang medan perjuangan. Bukan pertempuran untuk saling hancur, tapi perjuangan untuk mempertahankan nilai, harga diri, dan iman.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

« أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ »
“Asyaddu an-nāsi balā’an al-anbiyā’, tsumma al-amtsalu fal-amtsal.”
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang terbaik setelah mereka.”
(HR. Tirmidzi)

Ketika aku membaca hadist ini, aku cuma bisa geleng kepala.
“Oh… jadi ini semua latihan kelas berat? Pantesan rasanya seperti ikut UFC batin.”

 

Allah Melatihku dengan Sabar, Teliti, dan Penuh Perhatian

Seiring waktu, aku mulai mengerti:
Allah tidak ingin menjatuhkanku.
Allah ingin membentukku.

Setiap benci yang diarahkan padaku justru membuktikan bahwa aku sedang ditempa.
Setiap hinaan menjadi barbel yang menguatkan otot mentalku.
Setiap pengkhianatan membuatku makin mampu membedakan mana wajah tulus dan mana topeng.

Dan pelan-pelan, aku melihat sesuatu yang dulu tak terlihat:
Orang-orang yang membenciku justru terlihat makin lelah, makin compang-camping, makin tidak utuh dalam dirinya sendiri.

Bukan karena aku menginginkan itu—tidak. Tapi karena orang yang sibuk membenci, mereka menghabiskan energi untuk merusak hati sendiri. Sedangkan aku… belajar menyerahkan segalanya pada-Nya.

Allah berfirman:

﴿ وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ﴾
“Waṣbir wa mā ṣabruka illā billāh.”
“Bersabarlah; dan kesabaran itu tidak lain kecuali dengan pertolongan Allah.”
(QS. An-Nahl: 127)

Dan di situ aku baru benar-benar paham:
Ternyata yang membuatku kuat bukan aku…
Tapi Allah yang menanam kekuatan dalam diriku.

 

Dari Pertempuran ke Kemerdekaan Jiwa

Hari itu aku berdiri, melihat hidupku seperti melihat bekas-bekas luka yang tidak lagi menyakitkan, hanya mengingatkan.

Aku tersenyum.
Bukan karena aku menang dari siapa pun—bukan.

Aku tersenyum karena aku merdeka.
Merdeka dari ketakutan.
Merdeka dari pendapat orang.
Merdeka dari genggaman benci mereka.
Merdeka dari versi lama diriku yang mudah runtuh.

Dan aku sadar…
Bahwa setiap manusia punya hak untuk mempertahankan kemerdekaan batinnya sebagaimana bangsa mempertahankan kemerdekaan negerinya—dengan keberanian, kesabaran, dan doa.

Karena pada akhirnya…
Bukan seberapa keras orang menjatuhkanmu yang penting.
Tapi seberapa kuat kamu memilih untuk bangkit lagi, sambil berkata:

“Alhamdulillah… aku masih di sini, masih berdiri, masih berjuang. Dan Allah… selalu dekat.”

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN