Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

KETIKA SAMPAH BUKAN LAGI SEKADAR SISA - untuk Baliku Tercinta

Gambar
  Disaat gabut kok aku tergelitik berpikir tentang sampah. Bukan soal plastik berserakan di pantai, tapi “sampah” dalam arti yang lebih luas — termasuk cara pikir kita yang kadang mandek di pola saling menyalahkan. Seharusnya, elit pimpinan daerah tidak sibuk saling serang, tapi berlomba menciptakan solusi. Karena sejatinya, krisis sampah Bali bukan sekadar bencana lingkungan — ini adalah peluang ekonomi yang belum dimanfaatkan. Krisis sampah Bali seharusnya tidak membuat kita pesimis, tapi justru membuka ruang inovasi. Ketika dunia sedang mencari model ekonomi hijau, Bali punya kesempatan emas untuk menjadi “Green Island of Asia” — bukan hanya destinasi wisata, tapi destinasi solusi. Bayangkan jika dari Pulau Dewata ini lahir model baru ekonomi sirkular tropis: tempat di mana limbah tidak lagi dibuang, tetapi diolah; di mana pariwisata tidak sekadar konsumsi, tetapi juga kontribusi. Di tengah tumpukan masalah, justru ada potensi “emas hijau” yang bisa menjadi sumber pertumbuhan...

PURBAYA YUDHI SADEWA: ANTARA ANGKA, NURANI, DAN HARAPAN DI TENGAH BADAI

Gambar
  Menarik melihat sosok Pak Purbaya Yudhi Sadewa — sang teknokrat yang meniti jalan dari dunia teknik ke panggung ekonomi nasional. Kini, ia memikul tanggung jawab besar sebagai penerus sekaligus pengganti sang begawan fiskal, Bu Sri Mulyani. Perpindahan tongkat estafet ini bukan sekadar pergantian jabatan, tapi juga ujian: mampukah seorang insinyur berpikir dengan presisi yang sama di medan penuh dinamika bernama fiskal negara? Kalau ada satu hal yang menarik dari sosok Purbaya Yudhi Sadewa, mungkin itu adalah perpaduan antara dinginnya logika dan hangatnya hati. Di wajahnya, orang bisa melihat kombinasi yang jarang: seorang teknokrat yang tak kehilangan sisi manusianya, dan seorang pejabat publik yang bicara lugas tanpa kehilangan kesantunan. Ia bukan tipe politisi yang sibuk pencitraan, tapi juga bukan teknokrat kaku yang tenggelam di balik tabel dan rumus. Ia—dalam banyak hal—adalah jembatan antara dua dunia: dunia idealisme ekonomi dan dunia realita sosial. Latar belakangn...

KOMPLEKS BANDARA: DUNIA KECIL YANG PENUH WARNA

Gambar
Hidup di kompleks perumahan karyawan Bandar Udara Tuban bukan cuma soal punya rumah dekat tempat kerja orang tua. Itu cuma bonus. Yang sebenarnya terjadi adalah: kami hidup di dunia kecil yang penuh warna, tawa, dan cerita yang rasanya nggak akan pernah habis diceritakan, meski sudah puluhan tahun berlalu. Bayangkan, di masa itu—saat televisi masih cuma punya dua channel (dan itu pun sering burem kalau antena miring dikit), ketika bioskop masih jadi barang mewah—pihak bandara malah memfasilitasi kami nonton film layar lebar di area kompleks! Proyektor gede dipasang di lapangan terbuka, tikar digelar, anak-anak berlarian rebutan tempat paling depan. Filmnya? Kadang Superman , kadang E.T. , kadang The NeverEnding Story . Begitu lampu dipadamkan, kami semua langsung diam, matanya berbinar, seolah sedang terbang ke dunia lain. Rasanya kayak punya bioskop pribadi—tanpa popcorn, tapi penuh rasa kagum dan kegembiraan yang jujur. Tapi kompleks bandara bukan cuma soal hiburan. Di sana, kami...

KETIKA KATA TAK SAMPAI

Gambar
  Kadang hidup ini bukan tentang apa yang kita katakan, tapi tentang bagaimana kita mengatakannya. Kalimat itu pertama kali kudengar dari seorang teman lama—orang yang tak lagi sering kutemui, tapi setiap katanya seolah menancap di ingatan, seperti bekas luka yang tidak menyakitkan, hanya membuatmu berhenti sejenak dan berpikir. Kami bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Di sebuah warung kecil di sudut kota, tempat yang aroma kopinya masih sama seperti dulu, hanya saja waktu sudah banyak berubah. Ia tersenyum kecil, dan setelah obrolan ngalor-ngidul tentang kehidupan, ia menatapku dan berkata pelan, “Kamu tahu, kadang yang bikin orang saling jauh itu bukan karena mereka salah bicara… tapi karena mereka nggak tahu bagaimana harus bicara.” Aku diam. Entah kenapa kalimat itu terasa berat sekali. Karena aku sadar, mungkin itu juga yang sering terjadi dalam hidupku. Berapa kali aku berniat baik, tapi berakhir dengan salah paham? Berapa kali aku ingin menjelaskan sesuatu dengan...

TOMORROW IS A PROMISE, NOT A GUARANTEE

Gambar
  Kadang kita terlalu sibuk merencanakan hari esok sampai lupa menikmati hari ini. Kita memikirkan target, jadwal, dan impian seolah esok sudah pasti datang, seolah waktu akan selalu sabar menunggu kita siap. Padahal, hidup ini tidak pernah memberikan jaminan apa pun selain detik yang sedang kita hirup saat ini. Aku ingat betul, beberapa waktu lalu aku duduk sendirian di teras rumah, menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara anak-anak bermain di kejauhan. Di momen itu, entah kenapa, aku teringat seseorang yang dulu sangat dekat—seorang sahabat senior masa Kuliah yang selalu bilang, “Kita kejar mimpi bareng, ya, besok-besok pasti seru!” Tapi “besok” itu tak pernah datang untuknya. Kabar kepergiannya datang tiba-tiba, seperti hujan di musim kemarau. Dunia mendadak hening, dan aku merasa seperti ditampar kenyataan. Semua rencana, semua janji untuk bertemu lagi, berubah jadi kenangan yang menggantung di udara. ...

78 : PENYINTAS STROKE ITU TIDAK BUTUH DIKASIHANI, MEREKA HANYA INGIN DIMENGERTI

Gambar
  Aku masih hidup, dan aku masih ingin berarti. Kalimat sederhana itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, tapi bagi seorang penyintas stroke, itu adalah bentuk perlawanan paling jujur terhadap nasib. Bukan sekadar melawan penyakit, tapi juga melawan stigma, belas kasihan, dan pandangan miring yang kerap datang dari lingkungan sekitar. Menjadi penyintas stroke bukanlah pilihan siapa pun. Tidak ada satu pun dari kita yang bangun pagi dan berkata, “Hari ini aku ingin separuh tubuhku lumpuh.” Tidak ada. Tapi hidup kadang punya caranya sendiri untuk mengetuk kita dengan keras, bahkan menjatuhkan, agar kita belajar arti menerima — bukan menyerah, tapi menerima dengan sepenuh hati. Bagi seorang penyintas stroke, hari-hari setelah badai itu datang bukanlah hal mudah. Bayangkan saja, hal kecil yang dulu tak pernah dipikirkan—seperti menggerakkan jempol, menyisir rambut, atau sekadar meneguk air—tiba-tiba menjadi perjuangan yang luar biasa berat. Bukan karena mereka malas atau ti...

BAKBUKBAK DI TAMAN GUNUNGAN, kisah lama

Gambar
  Siang ini, suasana hatiku ringan dan hangat. Rasanya seperti langit biru yang tanpa awan. Aku baru saja bertemu dua sahabat lama—Bli Gede Kirtana Udaya dan Harris. Kami bertiga bersahabat sejak TK, dan walau kini usia sudah jauh melangkah, tiap kali bertemu, rasanya seperti waktu berhenti sebentar hanya untuk kami. Harris kini tinggal jauh, di negeri Kangguru. Sudah bertahun-tahun ia merantau ke sana bersama keluarga, meniti rezeki dan kehidupan baru. Tapi setiap kali pulang ke tanah air, ia tak pernah lupa mampir menemuiku. Siang ini, kami duduk di teras rumah, ditemani segelas es cokelat dingin yang pelan-pelan mencair di tangan. Suasana cair, tawa pecah di sela-sela cerita tentang hidup, keluarga, dan masa kecil. Lalu, entah siapa yang memulai, obrolan tiba-tiba berbelok ke satu kenangan yang membuat kami tertawa lepas—cerita legendaris masa SD yang sampai sekarang masih kami sebut dengan bangga: Bakbukbak di Taman Gunungan.   Waktu itu, aku—Nucky kecil—masih duduk ...

ROAD TO SUSTAINABLE GROWTH: Sumbangsih untuk Kota yang Telah Membentukku

Gambar
  Kali Ini aku  memberi Kontribusi Buat Kota Malang , rasanya seperti menanam pohon di tanah tempat aku dulu belajar tumbuh. Ada getar yang tidak bisa dijelaskan — antara nostalgia dan tanggung jawab moral. Di kota inilah aku dulu belajar tentang nilai, tentang kerja keras, dan tentang arti kebersamaan. Dan kini, setelah melewati perjalanan panjang di dunia profesional, aku kembali dengan satu tekad: ikut membangun ekosistem ekonomi daerah yang berkelanjutan, melalui peran kecilku kepada PERUMDA TUNAS. Bagi sebagian orang, BUMD mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari birokrasi ekonomi daerah. Tapi bagi saya, BUMD adalah laboratorium peradaban lokal. Di sanalah konsep bisnis, pelayanan publik, dan nilai kemanusiaan bertemu dalam satu wadah. Dan Malang — dengan segala dinamikanya — punya peluang besar untuk menjadi contoh kota yang bukan hanya produktif, tapi juga bermartabat. Makna “Bermartabat” dalam Perspektif Bisnis dan Kehidupan Visi Kota Malang “Bermartabat” ser...

TRANSFORMING TRADITIONAL TRADERS INTO MLIJO INTEGRATED TRADERS THROUGH DIGITAL MOBILE MINIMART

Gambar
  SEKALI AKU INI MEMBERI KONTRIBUSI BUAT UMKM Sekali ini aku memberi kontribusi buat UMKM, rasanya seperti menyalakan lilin kecil di tengah ruang yang gelap. Mungkin cahayanya belum cukup untuk menerangi seluruh negeri, tapi setidaknya bisa jadi tanda bahwa masih ada harapan—bahwa ekonomi rakyat bisa bangkit kalau kita mau turun tangan. Di tengah hingar-bingar ekonomi digital, startup miliaran dolar, dan jargon transformasi industri 5.0, sering kali kita lupa: perekonomian Indonesia sesungguhnya berdiri di atas pundak para pelaku UMKM. Dari tukang bakso di gang sempit, penjahit rumahan di pinggiran kota, sampai pedagang sayur keliling—semuanya adalah denyut nadi ekonomi yang menjaga dapur bangsa tetap mengepul. Dan di antara mereka, ada satu kelompok yang sering luput dari perhatian: para Mlijo—penjual sayur keliling yang setiap pagi menyapa rumah-rumah dengan senyum sederhana dan tawaran penuh makna: “Sayur segar, Bu?”   Di banyak sudut Indonesia, setiap pagi kita b...