Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

AHAD PAGI DI AL FATTAH: KETIKA UKHUWAH MENYATUKAN LANGKAH DAN MENDORONG DOA KE LANGIT

Gambar
      UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Ahad pagi itu terasa berbeda. Udara yang biasanya hanya membawa suara angin dan kicau burung, kali ini seperti membawa semangat yang menular. Masjid Al Fattah—yang sejak subuh sudah ramai—hari ini menjadi saksi hangatnya pertemuan para takmir masjid se-Kuta Selatan dalam agenda Silaturahmi Bulanan Ukhuwah Masjid & Musholla. Dari kejauhan saja, wajah-wajah penuh harap itu sudah terlihat: ada tawa, ada pelukan, ada saling sapa, dan ada cerita-cerita kecil yang memecah pagi. Di halaman, suara ibu-ibu Muslimah UMM bersama Muslimah Al Fattah yang dipimpin Bu Eko dan team Bukber yg di komandani Bu Desak Sawitri dan Bu Desy  terdengar saling sahut menyahut: "Bu, sambalnya kurang pedes ya kita tambah dikit?!" "Iya Bu… tapi jangan pedes kayak masalah hidup kita ya!” Mereka tergelak bersama, sementara wajan besar, panci besar, dan loyang berisi hidangan sudah antre untuk ditata demi menyambut ...

6 TAHUN INDAHNYA OMBAK KEHIDUPAN

Gambar
  UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Pagi Minggu ini—30 November 2025—udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Setelah basuhan air wudhu menyentuh wajahku, ada sesuatu yang berbeda. Ada energi yang muncul dari kedalaman hati, semacam semangat yang sudah lama tertidur. Usai sujud terakhir dalam sholat Subuh, ingatanku tiba-tiba melayang jauh… kembali enam tahun ke belakang. Enam tahun lalu, aku memulai perjalanan yang tak pernah kubayangkan: sebuah ujian hidup yang diam-diam ternyata adalah pintu menuju anugerah. Mengapa kusebut “ujian”? Karena aku percaya, ketika Allah mencintai seorang hamba, Ia akan mengujinya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: “إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ” Idza ahabballāhu qawman ibtalāhum — “Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi) Tulisan ini, pagi ini, adalah bentuk sujud syukurku yang paling jujur. Syukur atas takdir, atas luka, atas cinta, atas pertemuan—bahkan atas...

PANGGUNG YANG KEMBALI MENYALA: CATATAN DARI SABTU PENUH HARAPAN

Gambar
    UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Pagi itu, Sabtu 29 November 2025, Denpasar terasa lebih lembut dari biasanya. Angin sejuk seperti baru mandi, matahari muncul malu-malu dari balik mendung tipis, dan aku… berdiri di depan kaca, mengambil napas yang sedikit lebih panjang dari biasanya. “Ya Allah, ini panggung pertamaku setelah stroke…” batinku. Bukan panggung besar, bukan pula acara megah. Tapi bagiku, panggung ini adalah tanda bahwa Allah masih memberiku satu kesempatan lagi untuk menjadi manusia yang berguna. Di saat sebagian besar saudara-saudaraku umat Hindu di Bali sedang mengenakan pakaian terbaik menuju Pura keluarga—merayakan Hari Raya Kuningan dengan khusyuk dan penuh kebahagiaan—aku melangkah ke tempat yang berbeda: Yayasan Kesejahteraan Ukhuwwah, Denpasar Barat. Tempat kecil, tapi penuh nyawa. Penuh harapan. Penuh jiwa-jiwa muda yang ingin belajar, tumbuh, dan melompat lebih jauh. Hari itu aku tidak sendiri. Aku ditemani seor...

NAMIRA RABBANI KERTAPATI: SUARA YANG MENGUBAH LANGIT DALAM DIRI KAMI

Gambar
    UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :   Pagi itu, 28 November 2003, sekitar pukul 10.30, dunia tidak menjerit—tapi menangis pelan . Tangis pertama yang tidak membuatku panik, melainkan membuat seluruh dadaku mekar seperti seseorang baru saja membuka jendela ke ruang hidup yang selama ini gelap. Suara itu… suara tangis yang mengubah segalanya. Dan hari itu, untuk pertama kalinya aku menyebut sebuah nama yang terasa seperti ayat pendek namun bermakna panjang: NAMIRA RABBANI KERTAPATI Nama yang tidak lahir dari daftar Google, bukan dari “nama bayi Islami A–Z,” bukan dari tren atau saran random orang-orang. Nama ini lahir dari perdebatan kecil yang manis, diskusi yang panjang, dan doa yang lebih panjang lagi. Kami ingin ia tumbuh menjadi manusia yang… peka, lembut hatinya, mengerti makna hidup, membawa damai, dan tetap sederhana—seperti kota Nara di Jepang: tenang, penuh sejarah, tidak berisik tapi meninggalka...

CUKUP SUDAH… KINI SAATNYA PULANG KE DIRIMU SENDIRI

Gambar
  UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Ada masa dalam hidup ketika kita akhirnya berhenti, bukan karena kita menyerah, bukan karena kita kalah, tetapi karena kita sadar… kita juga manusia. Ada batas yang tidak boleh dilampaui, ada luka yang tak bisa lagi ditambal, dan ada kelelahan yang selama ini kita pura-pura tidak rasakan. Dan hari itu akhirnya datang: hari ketika kamu menatap cermin, melihat matamu sendiri yang sembab, lalu dengan suara serak berkata pelan, “Cukup. Sampai di sini aku memperjuangkan sesuatu yang tak lagi kembali memelukku.” Toh dia pun sebenarnya tidak lagi layak untuk kau perjuangkan. Semua rumus kehidupan sudah kamu keluarkan—jujur, sabar, ngalah, berpikir panjang, bahkan sampai yang paling berat: Agree to Disagree . Tapi jika titik temu pun tidak disepakati, itu artinya dia ingin berdiri di sisi dunia yang ia pilih sendiri… dengan caranya sendiri… bukan cara “kita”. Padahal cinta bukan tentang “aku”. Kita tidak perna...

PAJAK 40%, DAN SECANGKIR KESADARAN: KETIKA HITUNG-HITUNGAN GOBLOK MALAH MEMBUKA MATA HATI

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :     Siang itu harusnya aku tidur siang kayak manusia normal—atau minimal pura-pura produktif sambil buka laptop biar keliatan sibuk. Tapi nasib berkata lain. Aku duduk bengong, gabut tingkat dewa, dan akhirnya menyeret diri membuka WhatsApp Group—tempat segala bentuk drama, hoaks, debat kusir, dan stiker “Assalamualaikum” dengan bunga mawar plastik hidup damai berdampingan. Tiba-tiba muncul satu share yang bikin alis naik bukan satu, tapi tiga tingkat. Katanya: “MUI menfatwakan pajak barang konsumsi dan tempat tinggal itu haram.” Yang lain nambahin, “Buang sampah ke laut juga haram.” Aku garuk-garuk kepala. Bukan karena gatal… tapi karena otak otomatis bilang, “Lho? Ini menarik juga…” Daripada gabut tak berfaedah, aku pun memutuskan melakukan kegiatan yang sudah jarang kulakukan: berpikir. Dan begitulah… siang yang awalnya kosong, berubah jadi perjalanan merenungi hidup lewat pintu...

MENDARAT DENGAN ELEGAN: KETIKA EXIT PLAN MENGAJARKAN KITA CARA PERGI TANPA LUKA

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Tahukah kita apa itu exit plan ? Banyak orang membayangkannya seperti pintu darurat di pesawat—yang lampunya berkedip hijau, pramugari tersenyum menenangkan, padahal mungkin jantungnya ikut balap lari—dan kita membayangkan skenario mendarat darurat yang… astaghfirullah, semoga saja tidak pernah nyata. Dulu, bicara soal exit plan itu seperti bicara soal kematian di pesta ulang tahun: dianggap tidak sopan, tidak enak didengar, dan bikin orang salah tingkah. Tapi zaman berubah. Hidup berubah. Kesadaran manusia pun ikut bergerak. Dan pelan-pelan, kita mulai paham bahwa yang abadi itu memang hanya perubahan—sebagaimana Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya: “Kullu nafsin dzāiqatul maut” (Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati). (QS. Ali Imran: 185) Jika hidup manusia saja punya siklus, maka bisnis yang kita bangun dengan keringat, kopi sachet, rasa panik klien, dan doa yang tak pernah putus pun...

KETIKA PROFESIONALISME DISERET KE MEJA HIJAU: KISAH YANG MEMBUAT ORANG BAIK TAKUT PULANG

Gambar
   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Ada kalanya hidup memberikan tamparan yang tidak kita duga—tamparan yang tidak berbunyi plak, tetapi berbunyi jauh lebih pedih: “Oh, jadi begini nasib orang baik di negeri sendiri?” Itu bukan tamparan yang merusak kulit, tapi merobek keyakinan pelan-pelan. Kala kita tumbuh besar dengan mimpi mulia: sekolah tinggi, bekerja profesional, kembali ke negeri dan berbuat sesuatu… ternyata kini mimpi semacam itu mulai terasa seperti permainan petak umpet di malam gelap—kita tidak tahu apa yang akan menunggu di tikungan. Dan di tengah kabut kebingungan itu, muncul kisah yang mengguncang: vonis untuk Ira Puspadewi, eks Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry. Kisah yang membuat banyak profesional Indonesia yang sedang tenang bekerja di luar negeri mendadak kirim pesan ke grup WhatsApp alumni: “Bro, kalau mau pulang… pikir 100 kali dulu.” Kalimat yang terdengar bercanda, tapi getirnya lebih pekat daripada kopi ...