I'M NOT IN LOVE

UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :



Sebut saja Andri, seorang pria muda,  Pagi itu ia bangun dengan alarm yang sudah berisik sejak sepuluh menit lalu. Bukan karena kesiangan—lebih tepatnya karena semalam ia kebanyakan mikir sambil pura-pura nggak mikir. Ia duduk di pinggir ranjang, ngelamun, lalu nyeletuk ke cermin,
“Tenang, Bro. Kamu baik-baik aja.”
Cermin diam. Biasanya orang bijak bilang, kalau cermin sudah nggak membantah, berarti kita yang sedang kalah debat.

Ia bikin kopi. Seperti biasa, kopi pahit tanpa gula. Katanya sih biar maskulin. Padahal aslinya karena gula di rumah habis dan malas ke warung. Ia duduk, membuka ponsel, dan otomatis membuka chat yang namanya sudah hafal di luar kepala—sampai-sampai jarinya bisa ngetik tanpa lihat layar. Chat terakhir masih dari semalam.
“Udah tidur?”
Ia jawab waktu itu: “Belum. Santai aja.”
Santai apanya, jantungnya deg-degan kayak mau ujian susulan.

Ia menghela napas.
“Aku nggak jatuh cinta,” katanya lagi. Kali ini lirih. Seperti doa yang diulang-ulang dengan harapan Tuhan bosan mendengar lalu mengabulkan kebalikannya.

Di kantor, hidup berjalan seperti sandiwara yang cukup meyakinkan. Ia bercanda, ketawa keras, nyengir sok bijak, dan sesekali melempar humor receh. Temannya nyeletuk,
“Lu kenapa akhir-akhir ini sering bengong, sih?”
Ia jawab enteng,
“Kurang vitamin… vitamin U.”
Semua ketawa. Ia ikut ketawa. Dalam hati ia mikir, iya, kurang kamu—eh, maksudnya kurang udara. Udara. Iya, udara.

Siang hari, ponselnya bergetar. Nama itu muncul lagi. Jantungnya refleks olahraga ringan.
“Lagi sibuk?”
Ia balas cepat, terlalu cepat untuk orang yang mengaku “biasa aja”.
“Enggak kok. Kenapa?”
Padahal laporan belum kelar, bos sudah mondar-mandir, dan kopi paginya sudah dingin sejak sejam lalu. Tapi begitulah. Prioritas itu jujur, meski mulut sering bohong.

Mereka janjian ketemu sore. Alasannya klasik: “Ngopi aja, kebetulan searah.”
Kebetulan versi dia itu ajaib—selalu melibatkan waktu senggang yang tiba-tiba tersedia dan jarak yang entah kenapa jadi dekat.

Di kafe kecil itu, ia datang lebih dulu. Duduk di pojokan, pura-pura main ponsel, padahal tiap pintu kebuka ia refleks nengok. Saat orang yang ditunggu akhirnya datang, dunia mendadak jadi lebih terang—atau mungkin lampu kafenya memang bagus.

“Lama nunggu?” tanyanya.
“Nggak. Baru aja,” jawabnya. Padahal pelayan sudah hafal pesanannya.

Mereka ngobrol. Hal-hal ringan. Kerjaan, capek, hidup yang rasanya makin ke sini makin mirip cicilan: panjang dan bikin pusing. Ia melempar candaan. Ia tertawa. Tawa itu selalu punya efek samping: bikin ia lupa alasan kenapa ia harus menjaga jarak.

“Aku tuh kadang bingung sama kamu,” kata orang itu tiba-tiba, sambil ngaduk kopi.
“Bingung kenapa?”
“Kamu deket, tapi kayak jauh.”
Ia nyengir. Jurus lama.
“Aku orangnya emang abstrak.”

Ada jeda. Jeda yang panjang tapi berisik.
“Kita ini sebenernya apa?”
Pertanyaan itu jatuh pelan, tapi rasanya kayak batu.

Ia ingin jawab jujur. Ingin bilang, aku takut. Takut berharap, takut rusak, takut mengulang patah yang dulu. Tapi yang keluar malah,
“Kita ya… jalanin aja.”

Jawaban aman. Jawaban abu-abu. Jawaban yang tidak menyelesaikan apa-apa, tapi cukup untuk menunda luka.

Orang itu mengangguk. Senyum tipis. Senyum orang dewasa yang sudah mulai belajar menerima kenyataan tanpa drama. Dan entah kenapa, senyum itu lebih menyakitkan daripada marah.

Malamnya, ia pulang dengan kepala penuh. Ia rebahan, menatap langit-langit, dan tertawa kecil sendiri.
“Lu jago banget, sih,” katanya pada dirinya. “Jago bikin orang nunggu tanpa janji.”

Hari-hari berikutnya berubah pelan. Pesan masih ada, tapi tidak lagi sehangat dulu. Telepon makin jarang. Dan lucunya, justru di situ dadanya mulai sering sesak.
“Kok sepi, ya?” gumamnya suatu malam.
Ia sadar, kehilangan itu bukan selalu tentang pergi. Kadang tentang perubahan ritme.

Ia ingin protes, tapi pada siapa? Ia sendiri yang memilih aman. Ia sendiri yang menaruh cinta di wilayah abu-abu lalu heran kenapa warnanya tidak pernah jelas.

Suatu malam, ia hampir menelpon. Jarinya sudah di layar. Tapi ia berhenti. Untuk pertama kalinya, ia jujur pada dirinya sendiri.
“Aku kangen,” katanya pelan. Tidak dikirim. Hanya diakui.

Dan di situ ia paham: menjadi pria dewasa bukan soal menahan perasaan, tapi berani mengakuinya. Bahwa humor itu indah, tapi bukan tempat sembunyi selamanya. Bahwa menunggu tanpa kejelasan bukan romantis—itu melelahkan.

Ia tidak tahu apakah cerita ini akan berakhir dengan bersama atau berpisah. Tapi malam itu, sambil menatap kopi yang lagi-lagi dingin, ia tersenyum kecil.
“Aku jatuh cinta,” katanya akhirnya.
Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi jujur.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih utuh—meski belum tentu bahagia. Karena pada akhirnya, menjadi manusia itu bukan soal selalu selamat, tapi soal berani hidup dengan jujur, meski risikonya patah lagi.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN