DI BALI UANG YANG DATANG SEBENTAR, LALU PERGI TANPA PAMITAN
Pagi itu Bali bangun seperti biasa.
Matahari naik pelan dari timur, laut masih sabar menunggu, dan para pekerja pariwisata sudah mulai bergerak. Ada yang menyapu halaman hotel, ada yang menyiapkan sarapan, ada yang berdiri rapi di resepsionis dengan senyum yang sudah dilatih bertahun-tahun—bahkan sebelum hatinya siap.
Di Ubud, seorang turis bangun pagi, membuka tirai kamar, lalu berkata dalam hati,
“Wow… this place is magical.”
Ia tidak tahu, keajaiban itu dibangun dari kerja keras banyak orang:
tukang kebun, room boy, chef, satpam, laundry, sopir, dan ibu-ibu yang bangun subuh hanya untuk memastikan sprei wangi.
Turis itu merasa liburannya sempurna.
Hotel bagus. Pelayanan ramah. Harga masuk akal.
Ia pun tersenyum, membuka ponsel, dan mengingat malam sebelumnya—saat ia memesan kamar lewat aplikasi.
📱 Booking.com.
💰 Rp1.000.000 per malam.
Selesai. Mudah. Cepat. Praktis.
Dan di situlah cerita tentang uang Bali yang tidak pernah benar-benar tinggal dimulai.
Uang Itu Masuk… Tapi Tidak Pernah Duduk Lama
Ketika turis menekan tombol “Book Now”, uangnya memang masuk.
Tapi bukan ke hotel di Bali.
Uang itu mampir dulu ke rumah besar bernama OTA—Online Travel Agent.
Rumahnya jauh.
Ada yang di Belanda.
Ada yang di Singapura.
Ada yang di Amerika.
Di sana, uang itu disambut ramah.
Dipersilakan duduk.
Lalu… dipotong.
Pelan-pelan tapi pasti.
“Terima kasih sudah datang,” kata sistem.
“Sebagai tanda cinta, kami ambil sedikit ya… cuma 15 sampai 25 persen.”
Sedikit versi siapa?
Dari Rp1.000.000,
Rp150.000 sampai Rp250.000 hilang seketika.
Bukan hilang ke laut.
Bukan jatuh ke sawah.
Tapi terbang—lewat kabel data, server, dan sistem pembayaran global.
Hotel di Bali akhirnya menerima sisanya.
Rp750.000.
Rp800.000.
Kadang kurang.
Dan semua orang berpura-pura ini normal.
Uang Itu Pergi ke Mana?
Uang yang tidak tinggal di Bali itu sekarang ada di tempat lain.
Sebagiannya berubah jadi:
-
gaji eksekutif berdasi di Eropa,
-
bonus tahunan di Amerika,
-
rapat strategi di gedung tinggi yang bahkan tidak tahu di mana itu Ubud.
Sebagiannya lagi jadi:
-
server raksasa di negara dingin,
-
iklan Google, Meta, TikTok,
-
algoritma yang menentukan hotel mana naik, mana tenggelam.
Dan sisanya?
Tenang… ia tidak hilang.
Ia hanya dibagikan ke pemegang saham internasional—orang-orang yang mungkin tidak pernah menjejakkan kaki ke Bali, tapi menikmati hasil keringatnya.
Bukan ke desa adat.
Bukan ke UMKM.
Bukan ke PAD Bali.
Di Bali, Yang Tinggal Hanya Ramainya
Secara kasat mata, Bali baik-baik saja.
Hotel penuh.
Bandara sibuk.
Pantai ramai.
Tapi uangnya seperti tamu yang datang cuma buat foto, lalu pulang tanpa pamit.
Dalam bahasa ekonomi, ini disebut capital outflow.
Dalam bahasa warung kopi:
“Uangnya numpang lewat doang.”
Tidak mengendap.
Tidak jadi tabungan.
Tidak jadi modal.
Bali kerja keras, tapi dompetnya tetap tipis.
Pajak? Jangan Terlalu Berharap
OTA global itu pintar.
Sangat pintar.
Mereka tahu negara mana pajaknya ramah.
Mereka tahu celah hukum.
Mereka tahu cara untung besar dengan kontribusi kecil.
Akibatnya:
-
Pajak ke Bali nyaris tak terasa.
-
PAD tidak sebanding dengan keramaian.
Sementara Bali:
-
Jalan makin padat.
-
Sampah makin banyak.
-
Air tanah makin dalam digali.
Beban ditanggung di sini.
Uangnya mengalir ke sana.
Hotel Lokal Mulai Sesak Napas
Di balik senyum hotel-hotel Bali, ada napas yang mulai berat.
Komisi tinggi membuat margin makin tipis.
Pilihan mereka terbatas:
-
menekan gaji,
-
memperbanyak kontrak,
-
menunda renovasi,
-
menunda mimpi.
Tidak ada ruang untuk:
-
energi mandiri,
-
pangan lokal,
-
investasi jangka panjang.
Semua habis untuk bertahan.
Yang Paling Sakit: Bali Kehilangan Kendali
Yang menentukan:
-
hotel mana muncul di atas,
-
harga mana dianggap “mahal”,
-
tamu datang ke mana,
bukan orang Bali.
Bukan desa adat.
Bukan pemerintah daerah.
Bukan pelaku lokal.
Bali hanya jadi lokasi indah dalam sistem orang lain.
Seperti rumah sendiri, tapi kuncinya dipegang orang lain.
Kesimpulan yang Tidak Enak, Tapi Fakta
Bali ramai, tapi miskin kendali.
Bali indah, tapi bocor uang.
Bali bekerja keras, tapi global yang menikmati.
Pariwisata Bali hari ini kaya di foto,
tapi rapuh di fondasi.
Dan kalau suatu hari dunia kembali goyah—
pertanyaannya sederhana:
Siapa yang benar-benar punya tabungan?
Cerita ini bukan untuk menyalahkan.
Tapi untuk menyadarkan kita semua
Karena Bali tidak kekurangan keindahan.
Yang kurang adalah keberanian untuk menjaga hasil keringatnya sendiri.