KETIKA RINDU TAK PUNYA ALAMAT: CERITA TENTANG CINTA YANG BELAJAR IKHLAS
Aku pernah ada di titik di mana suara seseorang lebih nyata daripada kehadirannya sendiri. Aneh, ya? Padahal dia sudah nggak di sini. Tapi kata-katanya… masih mondar-mandir di kepala, kayak tamu yang lupa pulang. Kadang muncul pas lagi ngopi sendiri, kadang tiba-tiba nyelip di antara suara adzan, bahkan lebih parah—datang pas lagi ketawa sama orang lain. Dan di situ, hati langsung berbisik pelan: "Dulu… kamu nggak ketawa sendirian kayak gini." Dulu, hari-hariku sederhana. Bangun pagi, cek HP, ada dia. Makan siang, cerita ke dia. Malam sebelum tidur, suara dia jadi penutup hari. Nggak mewah. Tapi penuh. Sekarang? HP masih ada. Waktu masih sama. Tapi yang hilang… adalah alasan kenapa semua itu terasa berarti. Aku ingat banget, dia itu tipe orang yang kalau ngomong, kata-katanya bukan cuma masuk ke telinga—tapi nyangkut di hati. Nggak lebay, nggak puitis berlebihan, tapi entah kenapa… kena. Dia pernah bilang, "Kalau nanti kita nggak bisa bareng, setidaknya kita pe...