TITIK TERENDAH JUSTRU MENJADI PINTU MENUJU TITIK TERINDAH
GPS Tuhan dan Kesempatan Kedua Ada masa dalam hidup ketika manusia merasa dirinya paling tahu arah. Ia berjalan dengan keyakinan penuh, membuat keputusan berdasarkan logika, keinginan, dan ambisi. Namun sering kali, justru pada saat itulah ia mulai menjauh dari tujuan yang sebenarnya. Percakapan sore itu menghadirkan sebuah analogi sederhana namun sangat dalam: GPS. Ketika kita berkendara menuju suatu tempat yang belum pernah kita datangi, kita mempercayakan arah kepada GPS. Saat salah belok, GPS tidak marah. Ia tidak menghukum. Ia hanya berkata, “putar balik jika memungkinkan,” lalu menghitung ulang jalur terbaik menuju tujuan. Begitu pula Tuhan. Saat manusia keluar jalur, Tuhan tidak serta-merta menghukumnya. Dia tetap menunjukkan jalan pulang, menunggu hamba-Nya kembali ke arah yang benar. Namun manusia sering merasa lebih tahu daripada petunjuk yang diberikan. Tubuh sudah memberi sinyal, kesehatan mulai menurun, pikiran lelah, tekanan darah melonjak, tetapi semua diabaika...