Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

MEMIMPIN CARA RASULULLAH DI BALI

Gambar
  Di tengah gemerlap pariwisata dan derasnya arus modernisasi di Pulau Bali , umat Islam menghadapi tantangan besar dalam mencari sosok pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara agama, tetapi mampu menjadi teladan akhlak, perekat persaudaraan, dan penjaga harmoni. Fenomena kepemimpinan hari ini sering kali memperlihatkan kontras yang tajam: banyak pemimpin tampil dengan simbol-simbol religius, namun kehilangan ruh pelayanan, ketulusan, dan keberpihakan kepada umat. Dalam konteks inilah, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW menjadi role model paling sempurna bagi umat Islam di Bali. Rasulullah tidak memimpin dengan ketakutan, tetapi dengan cinta. Beliau tidak membangun jarak dengan umat, tetapi turun langsung memikul beban mereka. Di Bali, di mana umat Islam hidup sebagai minoritas yang berdampingan dengan masyarakat Hindu dalam semangat Nyama Selam (persaudaraan lintas iman), model kepemimpinan Rasulullah sangat relevan: tegas dalam aqidah, lembut dalam muamalah, kuat dalam prinsip, ...

RINDU SOSOK ORANG TUA

Gambar
Di tengah hiruk pikuk pertikaian, hati ini sesungguhnya sedang menangis. Sedih melihat sebuah rumah besar umat bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Badung, yang seharusnya menjadi tempat berteduh, tempat merangkul, tempat mendamaikan, justru ikut terseret dalam pusaran konflik yang berujung pada aroma hukum, saling serang, saling menyalahkan, dan saling membuka luka. Padahal, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bahwa menyelesaikan masalah bukanlah dengan mempertontonkan pertikaian, melainkan dengan menghadirkan hati yang teduh, akhlak yang lembut, dan jalan islah yang penuh kasih sayang. MUI bukan sekadar organisasi. MUI adalah rumah bersama umat. Tempat para ulama, zu’ama, cendekiawan, dan tokoh umat duduk dalam satu saf ukhuwah. Maka ketika rumah itu ikut retak oleh ego, kepentingan pribadi, atau pertikaian antar kelompok, yang sesungguhnya terluka bukan hanya nama lembaga, tetapi wajah Islam itu sendiri di mata umat. Bukankah fungsi MUI seharusnya seperti fungsi ...

KETIKA RINDU TAK PUNYA ALAMAT: CERITA TENTANG CINTA YANG BELAJAR IKHLAS

Gambar
  Aku pernah ada di titik di mana suara seseorang lebih nyata daripada kehadirannya sendiri. Aneh, ya? Padahal dia sudah nggak di sini. Tapi kata-katanya… masih mondar-mandir di kepala, kayak tamu yang lupa pulang. Kadang muncul pas lagi ngopi sendiri, kadang tiba-tiba nyelip di antara suara adzan, bahkan lebih parah—datang pas lagi ketawa sama orang lain. Dan di situ, hati langsung berbisik pelan: "Dulu… kamu nggak ketawa sendirian kayak gini." Dulu, hari-hariku sederhana. Bangun pagi, cek HP, ada dia. Makan siang, cerita ke dia. Malam sebelum tidur, suara dia jadi penutup hari. Nggak mewah. Tapi penuh. Sekarang? HP masih ada. Waktu masih sama. Tapi yang hilang… adalah alasan kenapa semua itu terasa berarti. Aku ingat banget, dia itu tipe orang yang kalau ngomong, kata-katanya bukan cuma masuk ke telinga—tapi nyangkut di hati. Nggak lebay, nggak puitis berlebihan, tapi entah kenapa… kena. Dia pernah bilang, "Kalau nanti kita nggak bisa bareng, setidaknya kita pe...

INILAH YANG TERBAIK

Gambar
Aku pernah ada di fase hidup yang… ya kalau dibilang gelap, nggak juga. Tapi kalau dibilang terang, jauh banget. Lebih tepatnya: remang-remang. Kayak jalan malam tanpa lampu. Jalan sih jalan… tapi tiap langkah tuh penuh nebak. Ini aman nggak ya? Ini jurang nggak ya? Ini masa depan atau cuma belokan buntu? Waktu itu aku ngerasa sudah “hidup”… tapi belum benar-benar menjalani . Hari-hari lewat. Ketawa ada. Nongkrong jalan. Cerita ngalor-ngidul juga lancar. Tapi tiap pulang… ada satu rasa yang selalu ikut masuk ke kamar: “Ini semua mau dibawa ke mana sih?” Kadang aku ketawa sendiri. Bukan karena lucu… tapi karena bingung. Lucu ya… manusia bisa kelihatan paling santai di luar, tapi di dalamnya lagi debat sama dirinya sendiri kayak sidang DPR versi batin. Aku coba cari jawaban ke mana-mana. Ke teman — jawabannya beda-beda. Ke buku — makin banyak teori, makin pusing. Ke diri sendiri — nah ini… paling sering zonk. Karena ternyata… diri sendiri juga belum tentu jujur. Aku jalan… ...