Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

SEMUA ORANG PERNAH SINGGAH, TAPI TIDAK SEMUA HARUS TINGGAL

Gambar
Hidup itu aneh ya… kadang kita ketemu orang yang baik banget, sampe kita mikir, “Ya Allah, ini orang kok kayak dikirim langsung buat bahagiain aku ya?” Eh, gak lama kemudian, datang juga orang yang bikin kita mikir, “Ini ujian apa hukuman sih?” Lucunya, dua-duanya sama-sama punya peran penting dalam hidup kita. Aku pernah ada di titik itu. Titik di mana aku ngerasa hidup gak adil. Kenapa harus ketemu orang yang nyakitin? Kenapa harus kecewa berkali-kali? Kenapa harus belajar dari hal yang rasanya… gak pengen aku pelajari? Sampai akhirnya aku sadar… ternyata hidup itu bukan soal siapa yang datang, tapi apa yang mereka tinggalkan dalam diri kita. Orang baik… mereka ngajarin kita arti bahagia. Mereka kayak hujan di tengah kemarau. Datangnya gak banyak, tapi cukup buat bikin hati kita hidup lagi. Orang jahat… jangan buru-buru dibenci. Mereka itu kayak guru killer di sekolah. Nyebelin, bikin stress, tapi justru dari mereka kita jadi kuat. Mereka ngajarin kita arti sabar, arti bangkit, dan a...

MEMILIH TENANG: SAAT JARAK MENJADI BENTUK CINTA DIRI

Gambar
Di tengah kehidupan yang terus menuntut kita untuk selalu terhubung, sering kali kita lupa satu hal yang paling penting: menjaga diri sendiri. Kita terbiasa berpikir bahwa semakin banyak orang yang ada di sekitar kita, semakin lengkap hidup ini terasa. Padahal, tidak semua kedekatan membawa ketenangan. Tidak semua kehadiran memberikan makna. Ada fase dalam hidup di mana kita mulai menyadari bahwa energi kita terbatas. Bahwa tidak semua orang layak mendapatkan waktu, perhatian, dan ruang di dalam hidup kita. Dan di titik itulah, kita belajar sesuatu yang sederhana namun sulit dilakukan: menjaga jarak. Menjaga jarak bukan tentang membenci siapa pun. Bukan pula tentang merasa lebih baik dari orang lain. Ini tentang memahami bahwa tidak semua orang tahu cara menghargai kita. Ada orang-orang yang hadir hanya untuk menguras, membuat lelah, bahkan tanpa sadar merampas kedamaian yang sudah kita bangun dengan susah payah. Sering kali kita bertahan terlalu lama di lingkungan yang salah, hanya...

KEMBALIKAN ISU SAMPAH BALI KE AKAR MASALAHNYA—BUKAN DI RUMAH WARGA, TAPI DI UJUNG SISTEM

Gambar
  Di tengah gencarnya kampanye pemilahan sampah yang digaungkan ke masyarakat, ada satu pertanyaan mendasar yang justru belum terjawab dengan jujur: ke mana sebenarnya sampah Bali akan berakhir? Pertanyaan ini penting, karena di situlah letak inti persoalan yang selama ini seolah bergeser. Masalah Utama: Bukan di Hulu, Tapi di Hilir Narasi publik belakangan ini cenderung menempatkan masyarakat sebagai titik awal sekaligus titik tekan solusi—memilah, mengurangi, mengolah. Namun fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: Bali sedang kekurangan—bahkan kehilangan—titik akhir pengelolaan sampahnya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini menjadi tulang punggung sudah tidak lagi mampu menampung beban. Penutupan dan keterbatasan kapasitas bukan sekadar isu teknis, tetapi menandakan bahwa: sistem hilir Bali sedang rapuh. Dan ketika hilir rapuh, seluruh sistem ikut goyah—seberapa rapi pun hulu dikelola. Ketika Beban Bergeser ke Masyaraka...