BALADA MENJADI KEPALA KELUARGA




Dulu, tiap malam aku sering lihat bapak-bapak nongkrong di depan rumah atau dipos ronda, duduk di kursi plastik, nunduk, ngerokok pelan-pelan sambil liatin langit. Wajahnya tenang, tapi matanya kayak lagi berantem sama sesuatu yang cuma dia sendiri yang tahu.

Waktu itu aku mikir, “Kasihan banget, pasti nggak bisa tidur.”

Ternyata… bukan soal tidur. Tapi soal hidup.

Sekarang giliran aku yang duduk di situ.
Tanpa rokok, tapi dengan pikiran yang kadang lebih berasap daripada cerutu Kuba.
Tentang cicilan, anak yang mulai tanya hal-hal susah (“Ayah, kenapa kerja terus?”), dan istri yang dengan lembut tapi tegas bilang, “Bulan ini bayar sekolah ya, Yah.”
Lalu aku ketawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena akhirnya ngerti: begini toh rasanya jadi kepala keluarga — kapal yang harus tetap berlayar, bahkan pas angin tenang pun bahan bakar harus dicari.

Lucunya, dulu aku pikir bapak itu kuat karena nggak pernah ngeluh.
Sekarang aku sadar, kadang justru karena dia pernah hampir nyerah, makanya dia jadi sekuat itu.

Balada menjadi kepala keluarga bukan cuma soal mencari uang, tapi juga menata hati — supaya nggak ikut ambruk tiap kali dunia goyah.
Kadang capek, kadang bangga, tapi yang pasti: selalu belajar untuk tetap berdiri, walau kaki gemetar sedikit.

Dan malam-malam seperti ini, aku akhirnya paham kenapa bapak dulu diam saja sambil menatap langit:
karena di sana, cuma bintang yang tahu beratnya pikiran seorang lelaki yang sedang berjuang untuk orang-orang yang ia cintai.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN