RINDU SOSOK ORANG TUA
Di tengah hiruk pikuk pertikaian, hati ini sesungguhnya sedang menangis. Sedih melihat sebuah rumah besar umat bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Badung, yang seharusnya menjadi tempat berteduh, tempat merangkul, tempat mendamaikan, justru ikut terseret dalam pusaran konflik yang berujung pada aroma hukum, saling serang, saling menyalahkan, dan saling membuka luka. Padahal, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bahwa menyelesaikan masalah bukanlah dengan mempertontonkan pertikaian, melainkan dengan menghadirkan hati yang teduh, akhlak yang lembut, dan jalan islah yang penuh kasih sayang.
MUI bukan sekadar organisasi. MUI adalah rumah bersama umat. Tempat para ulama, zu’ama, cendekiawan, dan tokoh umat duduk dalam satu saf ukhuwah. Maka ketika rumah itu ikut retak oleh ego, kepentingan pribadi, atau pertikaian antar kelompok, yang sesungguhnya terluka bukan hanya nama lembaga, tetapi wajah Islam itu sendiri di mata umat.
Bukankah fungsi MUI seharusnya seperti fungsi seorang ayah di dalam keluarga?
Ayah hadir bukan untuk memperuncing pertikaian anak-anaknya. Ayah hadir untuk mendengar dengan hati yang adil, meredam emosi, menjadi penengah, menjadi pelindung, dan menjadi tempat kembali ketika semuanya mulai kehilangan arah. Ayah tidak memihak kepada yang paling kuat, tidak pula membela karena kedekatan pribadi. Ayah berdiri di tengah, memegang keadilan dan kasih sayang sekaligus.
Sebagaimana orang tua memiliki fungsi:
• Menjadi sumber kasih sayang dan keamanan.
• Menjadi pendidik akhlak dan moral.
• Menjadi suri teladan dalam menyelesaikan konflik.
• Menjadi pelindung dari kerusakan dan perpecahan.
Maka demikian pula seharusnya MUI Kabupaten Badung berdiri. Menjadi “ayah umat”, bukan ikut menjadi bagian dari pertikaian umat.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴾
“Innnamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihu baina akhawaikum wattaqullaha la’allakum turhamuun.”
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini begitu jelas. Tugas utama ketika ada pertikaian adalah mendamaikan, bukan memperbesar jurang. Menjadi penengah, bukan menjadi bahan bakar konflik.
Allah SWT juga berfirman:
﴿ وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ﴾
“Wa in thaa-ifataani minal mu’miniinaqtataluu fa ashlihu bainahumaa bil-‘adli wa aqsithuu, innallaha yuhibbul muqsithiin.”
Artinya:
“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Berlaku adillah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Hujurat: 9)
Betapa indah tuntunan Islam. Bahkan ketika umat bertikai sekalipun, Allah tidak memerintahkan untuk saling menghancurkan, melainkan memerintahkan hadirnya keadilan dan perdamaian.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemenangan dalam pertengkaran, melainkan kemampuan menahan amarah.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Laisasy syadiidu bish shura’ah, innamasy syadiidulladzi yamliku nafsahu ‘indal ghadhab.”
Artinya:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hari ini umat merindukan hadirnya sosok “ayah” di tengah MUI Kabupaten Badung. Sosok yang mampu berkata:
“Mari duduk bersama.”
“Mari selesaikan dengan hati.”
“Mari utamakan ukhuwah daripada ego.”
“Mari jaga marwah Islam daripada kepentingan kelompok.”
Karena ketika persoalan internal umat sudah mulai dibawa ke ruang-ruang hukum tanpa mengedepankan islah dan musyawarah, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan lagi akhlak Islam, melainkan kegagalan kita menjaga persaudaraan.
Padahal Rasulullah SAW dikenal dengan kelembutan akhlaknya. Allah SWT berfirman:
﴿ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ﴾
“Fabimaa rahmatim minallahi linta lahum, walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhu min haulika.”
Artinya:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini seakan menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa kekerasan hati, sikap kasar, dan ego hanya akan membuat umat menjauh. Sebaliknya, kelembutan, keadilan, dan keteladanan akan menyatukan hati-hati yang retak.
MUI Kabupaten Badung harus kembali kepada khitahnya:
Sebagai rumah besar umat.
Sebagai pelayan umat.
Sebagai penjaga ukhuwah.
Sebagai penengah.
Sebagai pendamai.
Sebagai “ayah” yang berdiri di tengah tanpa memihak, tanpa terseret arus, tanpa ikut memperuncing konflik.
Karena umat hari ini tidak membutuhkan tontonan pertikaian.
Umat merindukan keteduhan.
Merindukan kebijaksanaan.
Merindukan akhlak.
Merindukan ulama yang mempersatukan, bukan yang ikut dipertentangkan.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita semua, mengembalikan persaudaraan yang retak, dan menjaga MUI Kabupaten Badung tetap menjadi cahaya peneduh umat, bukan medan pertikaian umat.
﴿ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴾
“Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.”
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.