KEMBALIKAN ISU SAMPAH BALI KE AKAR MASALAHNYA—BUKAN DI RUMAH WARGA, TAPI DI UJUNG SISTEM

Di tengah gencarnya kampanye pemilahan
sampah yang digaungkan ke masyarakat, ada satu pertanyaan mendasar yang justru
belum terjawab dengan jujur:
ke mana sebenarnya sampah Bali akan berakhir?
Pertanyaan ini penting, karena di situlah letak inti
persoalan yang selama ini seolah bergeser.
Masalah Utama: Bukan di
Hulu, Tapi di Hilir
Narasi publik belakangan ini cenderung menempatkan
masyarakat sebagai titik awal sekaligus titik tekan solusi—memilah, mengurangi,
mengolah. Namun fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mendasar:
Bali sedang kekurangan—bahkan kehilangan—titik akhir
pengelolaan sampahnya.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini menjadi tulang
punggung sudah tidak lagi mampu menampung beban. Penutupan dan keterbatasan
kapasitas bukan sekadar isu teknis, tetapi menandakan bahwa:
sistem hilir Bali sedang rapuh.
Dan ketika hilir rapuh, seluruh sistem ikut goyah—seberapa
rapi pun hulu dikelola.
Ketika Beban Bergeser
ke Masyarakat
Dalam kondisi seperti ini, penekanan berlebihan pada
pemilahan sampah memunculkan persepsi yang tidak bisa diabaikan:
- masyarakat
diminta berubah cepat
- tetapi
sistem belum siap
- infrastruktur
belum tersedia
- dan
hasilnya sering tidak konsisten
Bahkan tidak sedikit warga yang merasakan ironi:
sudah memilah, tetapi pada akhirnya tetap tercampur.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih jujur:
apakah ini solusi sistemik, atau sekadar memindahkan beban
ke masyarakat?
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Penting untuk ditegaskan:
pengelolaan sampah adalah tanggung jawab sistem, bukan semata perilaku
individu.
Masyarakat adalah bagian dari rantai, tetapi:
- mereka
bukan pengelola akhir
- bukan
pemilik infrastruktur
- dan
bukan penentu sistem
Di sinilah posisi pemerintah daerah menjadi krusial.
Karena pada akhirnya:
yang menentukan ke mana sampah itu pergi, bukan rumah
tangga—tetapi sistem yang disiapkan oleh pemerintah.
Inti Persoalan yang
Harus Diakui
Jika diringkas secara jujur, maka inti isu sampah di Bali
adalah:
1. Tidak jelasnya titik akhir pengelolaan
Sampah dikumpulkan setiap hari, tetapi sistem akhirnya belum
kokoh.
2. Keterlambatan pembangunan infrastruktur
TPA, TPST, atau teknologi pengolahan belum mampu mengejar
volume sampah.
3. Ketergantungan pada solusi lama
Model “angkut dan buang” masih dominan, tanpa transformasi
menyeluruh.
Tanggung Jawab yang
Tidak Bisa Digeser
Pemilahan sampah adalah penting.
Edukasi masyarakat juga penting.
Namun keduanya tidak boleh dijadikan substitusi dari
tanggung jawab utama:
menyediakan sistem dan infrastruktur pengolahan sampah yang
layak, terintegrasi, dan berfungsi.
Apapun bentuk solusinya:
- TPA
modern
- waste-to-energy
- desentralisasi
pengolahan
- atau
kombinasi sistem
Itu adalah wilayah kebijakan dan tanggung jawab pemerintah
daerah.
Mengembalikan Arah
Diskusi
Sudah saatnya arah diskusi dikembalikan ke titik yang lebih
jujur dan proporsional:
Bukan:
“mengapa masyarakat belum disiplin memilah?”
Tetapi:
“ke mana sampah yang sudah dikumpulkan ini akan dikelola
secara nyata?”
Karena tanpa jawaban atas pertanyaan itu:
- pemilahan
kehilangan makna
- partisipasi
melemah
- dan
kepercayaan publik terkikis
Keberanian
Mengakui Masalah
Krisis sampah di Bali bukan sekadar krisis perilaku, tetapi
krisis sistem.
Dan setiap krisis sistem membutuhkan satu hal yang paling
mendasar:
keberanian untuk mengakui inti masalahnya.
Bahwa persoalan utama hari ini bukan hanya pada apa yang
dilakukan masyarakat di rumah,
melainkan pada apa yang belum sepenuhnya disiapkan oleh sistem di ujungnya.
Karena pada akhirnya, sampah tidak berhenti di tempat kita
membuang—
ia selalu berakhir di tempat yang disediakan oleh sistem.
Dan di situlah tanggung jawab utama seharusnya berdiri.