BELAJAR DARI FRANCHISE: BISNIS, HARAPAN, DAN REALITA DI BALIK PELUANG

   UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :



Pernah nggak sih kamu lagi jalan-jalan di kota, terus tiba-tiba kayak kena “serangan visual”? Deretan gerai baru bermunculan di setiap sudut jalan. Dari kedai kopi kekinian yang antreannya bikin kita pengen bawa tenda, sampai ayam krispi level dewa yang aromanya bisa bikin perut langsung ngeluh, hingga minuman boba yang bikin antreannya kayak mau beli tiket konser. Kadang kita cuma bisa melongo sambil bilang, “Wah, gampang banget ya ini… tinggal beli franchise, jalan deh usahanya. Duit ngalir, hidup makmur.”

Eh tapi, tunggu dulu… kalau bisnis itu semudah itu, mungkin semua orang udah jadi Sultan ya. 

Faktanya, industri franchise di Indonesia memang sedang naik daun banget. Data dari berbagai sumber menyebutkan pertumbuhannya bisa mencapai 10–15% per tahun. Bayangkan, di tengah ekonomi yang kadang naik-turun kayak roller coaster, sektor ini masih bisa konsisten tumbuh dan bahkan nyumbang hampir 2% dari PDB nasional. Hebat, kan? Yang paling mendominasi tentu sektor makanan dan minuman, sampai 58%, disusul ritel 15%. Wajar sih, kita ini bangsa yang kalau stres ya makan, kalau bahagia pun ya makan juga. Makanan selalu jadi alasan paling manusiawi untuk bertahan hidup dan bahagia. 

Tapi di balik angka-angka menggiurkan itu, ada cerita lain yang jarang dibahas. Cerita tentang manusia, harapan, perjuangan, bahkan kekecewaan yang kadang tersembunyi di balik senyum manis spanduk “Grand Opening”.

 

Dua Sisi yang Saling Membutuhkan

Franchise itu ibarat mata uang dua sisi. Di satu sisi, ini berkah bagi UMKM dan pebisnis pemula. Mereka bisa belajar sistem usaha yang terstruktur: manajemen stok, standar pelayanan, branding. Semua ada panduannya.

Di sisi lain, ini juga ladang emas bagi pemilik brand alias franchisor. Mereka bisa memperluas jangkauan bisnis, menambah modal, dan memperkuat merek. Dua kepentingan berbeda, tapi saling membutuhkan. Yang satu butuh peluang, yang satu butuh ekspansi.

Masalahnya, nggak semua yang rapi di atas kertas berjalan mulus di lapangan. Banyak pebisnis pemula masuk dunia franchise dengan harapan besar, tapi mentalnya belum siap. Mereka kira beli sistem itu sama dengan beli kesuksesan instan. Padahal bisnis nggak bisa di-“auto pilot” kayak pesawat.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)

Dalam bisnis pun, kita harus hadir, bukan sekadar punya. Kita harus menyentuh, berinteraksi, memahami pelanggan, melibatkan hati — bukan cuma kalkulator. Sayangnya, banyak franchisee lupa hal ini.

 

Ketika “Auto Pilot” Menjadi Perangkap

Aku pernah dengar cerita tentang seorang teman yang buka usaha franchise minuman. Modalnya nggak kecil, sistemnya katanya “terbukti sukses”. Tapi baru dua tahun berjalan, kiosnya tutup. Alasannya? Sepi.

Setelah dicermati, ternyata bukan karena produknya jelek, tapi karena dia nggak pernah turun langsung. Semua diserahkan ke karyawan. Dia pikir sistemnya akan jalan sendiri.

Padahal bisnis, sebagus apapun sistemnya, tetap butuh “rasa manusia” — empati, perhatian, ketekunan, dan doa. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d:11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Kesuksesan nggak datang cuma dari modal atau sistem, tapi dari kesungguhan kita sendiri.

 

Dari Kacamata Pemilik Brand

Bagi franchisor, menambah mitra itu ibarat membuka sayap baru. Tiga keuntungan sekaligus: tambahan modal, perluasan pasar, dan penguatan merek. Wajar kalau mereka berlomba-lomba menarik franchisee baru dengan promosi manis.

Tapi ada sisi gelapnya. Tidak semua franchisor siap dengan support system. Banyak yang fokus cari mitra baru, tapi lupa menyiapkan tim pendampingan dan infrastruktur yang kuat. Akibatnya, franchisee berjuang sendiri di lapangan, sementara franchisornya sibuk cari mitra baru. Ibaratnya, kapal terus dibuat, tapi pelautnya dibiarkan berlayar tanpa peta. 

 

Antara Data, Harapan, dan Realita

Kalau bicara angka, tingkat keberhasilan bisnis franchise bisa mencapai 80%, lebih tinggi dibanding usaha mandiri yang setengahnya gagal dalam 5 tahun pertama. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru senang.

Franchise kecil-kecilan, terutama yang model gerobakan, justru banyak yang tumbang dalam 1–2 tahun pertama. Bisa mencapai 60–80% gagal. Artinya, pertumbuhan itu bukan cuma soal jumlah cabang baru, tapi soal berapa banyak yang bertahan.

Data dari Kemendag menunjukkan ada 311 franchisor aktif di Indonesia — 157 lokal dan 154 luar negeri. Tapi dibandingkan 280 juta penduduk, angka itu kecil banget. Bahkan lebih ngeri, dalam 10 tahun terakhir, 75% franchisor hilang. Bayangkan berapa banyak mimpi yang ikut tenggelam.

Kalau kita hitung secara kasar:

  • Total kontribusi franchise ke PDB: Rp307,8 triliun
  • Potensi pertumbuhan per tahun (12,5%): ± Rp38,5 triliun
  • Potensi kegagalan per tahun (20%): ± Rp61,5 triliun
  • Nilai riil aman: ± Rp284,8 triliun

Rp61,5 triliun per tahun “hilang” karena kegagalan. Angka ini jelas besar, dan mestinya jadi perhatian serius.

 

Jangan Sampai Jadi Gunung Es

Kadang kita terlalu fokus pada pertumbuhan, tapi lupa pada akar. Bisnis bukan cuma soal memperbanyak cabang, tapi memperkuat fondasi. Jangan sampai industri franchise jadi fenomena gunung es — tampak megah di permukaan, tapi rapuh di bawahnya.

Kita butuh keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Kita butuh sistem yang mengedukasi, bukan hanya menjual mimpi. Dan yang paling penting, manusia harus terlibat sepenuh hati — baik franchisor maupun franchisee.

Rasulullah SAW bersabda:

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)

Keberkahan usaha bukan diukur dari omzet, tapi dari prosesnya — kejujuran, ketekunan, dan manfaat yang dibawa.

 

Tentang Harapan dan Kesadaran

Ini bukan untuk mengecilkan semangat kita untuk terus tumbuh, tapi sebagai pengingat agar kita berhati-hati dan tidak menyia-nyiakan data serta pelajaran berharga dari kegagalan yang nyata karena ada Rp61,5 triliun per tahun “hilang” karena kegagalan.. Industri franchise memang akan terus berkembang, tapi di balik gemerlapnya, mari kita pahami bahwa bisnis sejati bukan hanya soal untung semata. Bisnis sejati adalah tentang menumbuhkan nilai — kerja keras yang tulus, kejujuran yang konsisten, keberanian yang bijak, dan kepedulian yang nyata.

Bisnis bukan sekadar menjual produk, tapi menjual kepercayaan dan memelihara harapan. Seperti perjalanan hidup, tidak ada yang bisa berjalan di “auto pilot”. Kita tetap harus berjuang, belajar, dan yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh-Nya.

Yang paling penting, jangan pernah berhenti berproses. Karena setiap langkah, setiap usaha, sekecil apapun, adalah cermin dari ketulusan hati kita — dan di sanalah Tuhan menilai, bukan hanya seberapa besar hasilnya, tapi seberapa tulus kita berjalan.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

BANGKIT LAGI, SEKALIPUN PELAN