KISAH DI BALIK HUJAN: TENTANG CINTA, WAKTU, DAN KEIKHLASAN
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :
Ada sesuatu yang ajaib dari Kota Malang. Entah karena udaranya
yang selalu dingin tapi menenangkan, atau karena kenangan yang ia simpan di
setiap sudut jalannya. Dari pertama kali aku mengenal kota ini, ada semacam
rasa yang langsung nyantol — seperti lagu lawas yang nggak sengaja terdengar di
radio, tapi tiba-tiba bikin dada hangat dan mata agak berkaca.
Malang bukan sekadar kota. Ia seperti buku harian yang mencatat
setiap fase hidupku: dari belajar jatuh cinta, belajar kehilangan, sampai
belajar tersenyum lagi setelah semuanya selesai. Ada aroma tanah basah yang
mengingatkanku pada masa-masa itu — masa di mana aku masih percaya bahwa cinta
bisa menyembuhkan semua luka. Tapi ternyata, kadang cinta justru hadir untuk
mengajarkan cara bertahan.
Dan sekarang, di luar sana, hujan turun lagi. Rintiknya halus tapi
bandel — kayak dia yang dulu. Datang tiba-tiba, nggak diundang, tapi
meninggalkan basah yang susah hilang meski sudah lama berhenti. Aku duduk di
tepi jendela, memperhatikan butir-butir air yang menabrak kaca. Suaranya
seperti lagu lama yang nggak sengaja kepencet “repeat.” Tenang, tapi juga
menyesakkan.
Lucu ya, hujan itu seperti hidup. Kadang deras banget sampai bikin
kita basah kuyup tanpa sempat siap-siap. Kadang cuma gerimis kecil, tapi cukup
bikin hati menggigil. Tapi di tengah semua itu, aku belajar satu hal penting:
nggak semua yang bikin basah harus disesali. Ada hujan yang justru
membersihkan, menenangkan, bahkan menyembuhkan.
Aku masih ingat waktu dia bilang pelan, “Jangan nangis lagi, ya.”
Dan aku, dengan gaya sok kuat yang kebangetan, cuma bisa jawab, “Aku nggak
nangis kok, cuma kelilipan air mata.”
Padahal malam itu, aku benar-benar menangis. Tapi bukan karena kehilangan dia.
Aku menangis karena takut kehilangan kenangan tentang kami. Tentang tawa
yang pecah di warung bakso depan kampus, tentang obrolan receh di pinggir jalan
sambil makan jagung bakar, tentang malam-malam panjang yang diisi debat absurd:
siapa yang lebih sayang siapa, siapa yang duluan suka, siapa yang paling sering
ngambek tapi paling cepat minta maaf.
Tapi seperti biasa, hidup selalu punya cara elegan untuk bilang,
“Sudah, cukup sampai di sini.” Dan di titik itu, aku belajar berhenti di tepi.
Karena ternyata tidak semua perahu harus kita kejar. Kadang cukup melambaikan
tangan, melihatnya berlayar ke laut lepas, dan percaya bahwa meski sudah jauh,
perahu itu pernah membawa kita ke tempat terindah yang pernah ada.
“Pejamkan mata, dan kamu bisa bersamaku,” suaranya seperti gema
yang masih menggantung di kepalaku.
Aku pun mencoba. Dalam mimpi, aku bisa melihat kami — duduk di bawah langit
jingga sore itu, bercanda tentang hal-hal sepele. Tentang kenapa Indomie rasa
kari ayam tetap menang telak dibanding rasa soto. Tentang siapa yang duluan
jatuh cinta, siapa yang lebih sering ngambek gara-gara hal kecil, seperti telat
balas chat tiga menit.
Tapi begitu aku membuka mata, yang tersisa hanya suara hujan dan
bayangan samar di kaca jendela.
Anehnya, kali ini rasanya tidak lagi menyakitkan.
Mungkin memang begitu cara waktu bekerja. Ia tidak buru-buru, tapi
pasti. Ia menyembuhkan pelan-pelan, tanpa kita sadar. Ia mengambil sedikit demi
sedikit rasa sakit itu, menggantinya dengan ketenangan yang entah kenapa
terasa... damai.
“Close the window, calm the light,” kata lagu itu, samar terdengar
dari radio di sudut kamar.
Aku tersenyum kecil. Baiklah, aku tutup jendelanya. Aku matikan lampu. Aku
duduk diam. Tidak ada air mata, tidak ada drama. Hanya aku, hujan, dan hati
yang akhirnya bisa berdamai.
Kau tahu, cinta itu seperti bunga mawar.
Indah banget saat mekar — wangi, memikat, bikin siapa pun yang melihat ikut
tersenyum. Tapi seiring waktu, kelopaknya satu-satu jatuh. Dan kalau kita
terlalu sibuk mengeluh soal kelopak yang hilang, kita lupa bahwa mawar itu
pernah membuat kita bahagia.
Suatu hari nanti, di tengah hujan yang turun tanpa henti, aku
akhirnya bisa bilang dengan tulus,
“Terima kasih, ya. Sudah pernah mekar dengan indah.”
Setiap kisah yang pernah diceritakan pasti akan menua. Bukan
karena cintanya berkurang, tapi karena waktu terus berjalan. Dan seperti musim
yang berganti, ada hal-hal yang memang harus dilepaskan ke angin. Supaya tangan
ini kosong, dan siap menerima yang baru — entah itu cinta, kesempatan, atau
sekadar ketenangan yang dulu sempat hilang.
“Let it out. Let it all begin,” begitu kata lagu itu.
Dulu aku nggak paham maksudnya. Tapi sekarang aku tahu — maksudnya adalah:
lepaskan semua yang menyesakkan. Jangan simpan tangis terlalu lama. Jangan
tahan rindu sampai mengeras di dada. Biarkan semuanya keluar, karena dari
sanalah awal yang baru bisa mulai.
Dan malam itu, di tengah suara hujan dan angin yang berdesir
lembut, aku akhirnya belajar sesuatu yang sederhana tapi berharga:
Kadang kita nggak perlu menunggu semua luka sembuh untuk bisa bahagia.
Kadang, bahagia justru datang saat kita berhenti melawan dan mulai menerima.
Kita semua, pada akhirnya, akan “sendiri.”
Bukan karena sepi, tapi karena hidup memang mengajarkan kita untuk berdiri
dengan hati yang tenang — bahkan ketika orang-orang yang dulu kita cintai sudah
berlayar jauh.
Jadi malam ini, aku tutup jendela. Aku tenangkan cahaya. Aku
biarkan hujan menulis puisinya di luar sana, sementara aku duduk diam, menyesap
teh hangat, dan berkata pelan pada diriku sendiri:
“Semua akan baik-baik aja. Yang pergi, biarkan pergi. Yang
tertinggal, cukup disyukuri. Dan yang datang nanti, biarlah datang tanpa
beban.”
Karena ternyata... kita tidak pernah benar-benar sendiri.
Kita hanya sedang belajar menjadi damai dengan diri sendiri.