MEMAHAMI GEOPOLITIK IRAN YG SYIAH, AMERIKA, ISRAEL… DAN INDONESIA YANG JADI BIDAK DI BOARD OF PEACE

 


Kali ini aku pengin nulis agak sedikit sok pintar, karena geram sama sikap masyarakat kita sendiri, Kadang saya mikir begini… tiap kali buka berita soal konflik Iran vs Amerika Serikat vs Israel, rasanya kayak nonton serial politik yang season-nya nggak tamat-tamat. Tokohnya itu lagi, dramanya makin panas, dan yang jadi korban? Ya rakyat biasa. Yang nggak pernah duduk di meja negosiasi. Yang nggak pernah tanda tangan kesepakatan. Tapi selalu kena dampaknya.

Makanya, sebelum kita pro atau kontra, sebelum kita share-share berita sambil emosi, satu hal penting: pahami dulu petanya.

Ini bukan “perang Islam”. Ini perang kepentingan.

Kalau kita mundur sedikit ke belakang, tahun 1970-an Iran itu justru dekat dengan Barat. Program nuklirnya didukung. Bahkan dalam skema “Atoms for Peace”, Barat membantu pengembangan teknologi nuklir sipil. Waktu itu Iran sahabat. Semuanya tenang.

Lalu 1979 meledak Revolusi Islam. Rezim berubah. Arah politik berubah. Peta pertemanan berubah. Yang dulu didukung, tiba-tiba dianggap ancaman.

Sejak saat itu, hubungan Iran dan Amerika membeku. Israel, yang sejak lama melihat Iran sebagai ancaman eksistensial, makin waspada. Apalagi ketika retorika politik di kedua sisi makin keras. Tokoh seperti Benjamin Netanyahu sudah bertahun-tahun menyuarakan bahwa Iran tidak boleh punya kemampuan nuklir militer.

Tahun 2015 sempat ada harapan. Lahir kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai JCPOA, di era Presiden Barack Obama. Intinya sederhana: Iran membatasi pengayaan uranium, dunia mencabut sebagian sanksi. Seolah badai mereda.

Tapi politik global itu bukan dongeng sebelum tidur.

Tahun 2018, di era Donald Trump, Amerika keluar dari kesepakatan. Sanksi kembali diperketat. Iran merasa dikhianati. Amerika merasa perlu menekan. Israel tetap merasa terancam.

Dan sejak itu, ketegangan naik turun seperti grafik saham yang lagi panik.

Yang lucu sekaligus tragis adalah ini: ketika masih ada proses negosiasi, serangan bisa saja terjadi. Lalu pihak yang diserang membalas. Dan dunia kembali terjebak di narasi klasik: siapa duluan? siapa membela diri? siapa melanggar?

Kalau kita jujur, ini bukan soal agama. Ini soal power balance.

Negara manapun, kalau merasa terancam eksistensinya, dia akan bertindak. Iran bilang, “Kalau saya diserang, masa saya nggak boleh mempertahankan diri?” Israel bilang, “Kami tidak boleh menunggu sampai ancaman itu nyata.” Amerika bilang, “Kami menjaga stabilitas dan sekutu kami.”

Semua merasa benar dari sudutnya masing-masing.

Sementara rakyat di Teheran, Tel Aviv, Gaza, atau bahkan di pelosok negeri kita sendiri cuma bisa nonton sambil berharap harga minyak nggak naik lagi.

Kadang saya ketawa miris. Di belahan dunia lain orang lagi sibuk main catur geopolitik, di negeri tercinta kita masih debat soal “Board of Peace”. Mau bicara perdamaian, tapi lupa bahwa sejarah kekuatan besar memang dipenuhi intervensi dan perang. Amerika lahir dari perang. Israel lahir dari konflik wilayah yang sampai hari ini belum selesai. Itu fakta sejarah, bukan opini.

Tapi di titik ini kita harus jernih: menyadari sejarah bukan berarti membenci. Memahami kepentingan bukan berarti membenarkan kezaliman.

Allah sudah mengingatkan:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Wa tilkal ayyāmu nudāwiluhā bainan-nās
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 140)

Kekuatan itu berputar. Imperium naik, imperium turun. Yang hari ini dominan, besok bisa goyah. Sejarah Romawi, Persia, Ottoman, semua jadi bukti.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Ittaquzh-zhulma fa inna zh-zhulma zhulumatun yaumal qiyāmah
“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)

Kezaliman itu bisa dalam bentuk bom. Bisa dalam bentuk sanksi ekonomi yang mencekik rakyat kecil. Bisa juga dalam bentuk standar ganda: satu pihak bebas, pihak lain dibatasi.

Dan yang paling berbahaya… kezaliman bisa dalam bentuk kebodohan kolektif. Ketika kita ikut-ikutan narasi tanpa paham sejarah.

Makanya saya selalu bilang: jangan cuma share berita. Pahami peta.

Ini konflik puluhan tahun. Ada trauma 1979. Ada perang Iran-Irak yang dulu juga didukung Barat. Ada ketakutan Israel soal survival. Ada kepentingan Amerika soal pengaruh di Timur Tengah. Ada faktor energi, jalur perdagangan, aliansi militer.

Ini permainan besar.

Tapi di balik semua itu, ada anak kecil yang kehilangan ayahnya. Ada ibu yang kehilangan rumahnya. Ada generasi yang tumbuh dalam ketakutan.

Dan Allah mengingatkan lagi:

لَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Lā tahsabannallāha ghāfilan ‘ammā ya‘maluzh-zhālimūn
“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”
(QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini seperti rem bagi hati kita. Supaya kita tidak putus asa. Supaya kita tidak ikut jadi benci buta.

Lalu apa pelajarannya buat kita di Indonesia?

Pertama, jangan gampang terprovokasi narasi agama untuk konflik yang akar utamanya adalah geopolitik dan kepentingan negara.

Kedua, belajar dari mereka. Dunia sedang main catur. Jangan mau jadi bidak. Bangun ekonomi kita. Kuatkan ilmu. Perkuat persatuan. Karena kekuatan sejati bukan cuma di senjata, tapi di kemandirian.

Ketiga, jangan kehilangan empati. Karena kalau hati kita ikut keras, kita kalah bahkan sebelum perang itu menyentuh kita.

Kadang hidup memang absurd dan sedikit funny. Negara besar ribut soal nuklir, kita ribut soal timeline dan trending topic. Tapi di tengah semua keanehan dunia ini, kita masih punya pilihan:

Mau jadi penonton emosional…
atau jadi umat yang cerdas membaca sejarah.

Karena pada akhirnya, dunia boleh terus main catur.
Tapi kita tetap memilih untuk jadi manusia.
Berpikir jernih. Berhati lembut. Dan berdiri di atas nilai, bukan sekadar narasi.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

SETAHUN SETELAH RETAK, AKU KINI BELAJAR UTUH