DEMI WAKTU

 



Kita bisa beli hampir semua hal di dunia ini. Mau mobil mewah? Bisa. Mau rumah besar? Bisa. Mau liburan ke mana saja? Tinggal pesan tiket. Bahkan sekarang, makanan pun bisa datang ke rumah hanya dengan sentuhan jari di layar ponsel.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dibeli, tidak bisa ditawar, tidak bisa disimpan, dan tidak bisa diputar ulang.

Namanya waktu.

Lucunya, justru yang paling mahal ini sering kita anggap murah.

Ketika Kita Masih Merasa Punya Banyak Waktu

Waktu muda, kita sering berpikir seperti ini:

“Ah santai saja… aku masih muda.”
“Nanti saja berubahnya.”
“Sekarang having fun dulu.”

Seolah hidup ini seperti baterai ponsel yang bisa di-charge kapan saja. Padahal tidak begitu.

Kalau boleh jujur, sebagian dari kita baru sadar betapa berharganya waktu ketika sesuatu mulai hilang. Ketika rambut mulai memutih. Ketika orang tua mulai berjalan lebih pelan. Ketika teman-teman satu per satu sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Dan yang paling membuat hati tercekat adalah ketika seseorang berada di detik-detik terakhir kehidupannya.

Di saat itu, manusia biasanya tidak meminta mobil baru. Tidak meminta rekening tambahan. Tidak meminta liburan ke luar negeri.

Yang mereka minta cuma satu:

“Tolong… beri saya waktu.”

Permintaan Terakhir Manusia

Al-Qur’an menggambarkan keadaan ini dengan sangat menyentuh.

Ketika seseorang sudah melihat kematian di depan matanya, mereka memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia.

Allah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ
لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ

Hattā idzā jā’a aḥadahumul mautu qāla rabbi irji‘ūn.

La‘allī a‘malu ṣāliḥan fīmā tarakt.

Artinya:

“Sampai apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Bayangkan.

Bukan minta harta.
Bukan minta jabatan.
Bukan minta popularitas.

Mereka hanya minta kesempatan memperbaiki waktu yang dulu disia-siakan.

Waktu Itu Modal Kehidupan

Dalam Islam, waktu bahkan dijadikan sumpah oleh Allah.

Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Wal ‘ashr.

Innal insāna lafī khusr.

Artinya:

“Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Asr: 1-2)

Kenapa Allah bersumpah dengan waktu?

Karena waktu adalah modal hidup manusia.

Kalau modal itu habis… selesai sudah.

Tidak ada top-up.

Tidak ada diskon.

Tidak ada perpanjangan.

Hadist yang Menggugah

Rasulullah ﷺ juga pernah mengingatkan sesuatu yang sangat sederhana, tapi kalau dipikir-pikir… rasanya menampar hati.

Rasulullah bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ni‘matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās:

ash-ṣiḥḥah wal farāgh.

Artinya:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Lucunya memang begitu.

Ketika sehat, kita merasa biasa saja.
Ketika punya waktu luang, kita malah bingung mau ngapain.

Scroll HP.
Nonton yang tidak jelas.
Menunda yang penting.

Padahal kalau dua hal ini hilang, baru kita sadar:

“Ya Allah… ternyata mahal sekali.”

Kisah Kecil yang Sering Terjadi

Ada seorang ayah yang dulu sangat sibuk bekerja. Dari pagi sampai malam. Semua demi keluarga.

Anaknya sering berkata,
“Ayah, main sebentar yuk.”

Tapi ayahnya selalu jawab,
“Nanti ya, ayah lagi kerja.”

Hari berganti tahun.

Anak itu tumbuh besar.

Sekarang giliran ayahnya yang berkata,
“Nak, ngobrol sebentar yuk.”

Anaknya menjawab,
“Nanti ya Yah, aku lagi sibuk.”

Hidup kadang seperti itu.

Bukan karena kita tidak sayang.
Tapi karena waktu tidak pernah menunggu kita siap.

Sedikit Humor dari Realita

Kadang kita ini lucu.

Kalau HP tinggal 5% baterai, kita panik.
Cari charger ke mana-mana.

Tapi kalau hidup sudah lewat 50% umur, kita santai saja.

Seolah masih panjang.

Padahal kita tidak pernah tahu.

Baterai hidup ini kadang tidak ada indikatornya.

Gunakan Waktu Sebelum Waktu Menggunakan Kita

Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat yang sangat dalam.

Beliau bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ
وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ
وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ
وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Ightanim khamsan qabla khams:

syabābaka qabla haramik,
wa ṣiḥḥataka qabla saqamik,
wa ghināka qabla faqrika,
wa farāghaka qabla syughlik,
wa ḥayātaka qabla mautika.

Artinya:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
masa mudamu sebelum masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu,
kayamu sebelum miskinmu,
waktu luangmu sebelum sibukmu,
hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)

Ini seperti alarm kehidupan.

Bangun.

Gunakan waktu.

Karena waktu tidak akan pernah kembali.

CATATAN NUCKY : Detik yang Paling Berharga

Kalau hari ini kita masih bisa membaca cerita ini, itu berarti Allah masih memberi kita satu hal yang sangat mahal.

Waktu.

Mungkin tidak banyak.
Mungkin tidak lama.
Tapi cukup untuk melakukan sesuatu yang berarti.

Untuk memeluk orang tua.
Untuk meminta maaf.
Untuk berbuat baik.
Untuk mendekat kepada Allah.

Karena pada akhirnya…

Ketika manusia berdiri di ambang kematian, mereka tidak berkata:

“Ya Tuhan, beri aku uang.”

Mereka berkata:

“Ya Tuhan… beri aku waktu.”

Dan hari ini…

Kita masih memilikinya.

Jadi jangan tunggu sampai waktu yang tersisa hanya tinggal kenangan.


Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

SETAHUN SETELAH RETAK, AKU KINI BELAJAR UTUH