KANGEN

 




Sekali lagi… nada dan lirik lagu ini membawaku menembus ruang dan waktu. Seolah kaset yang berputar di dalam Walkman Sony itu bukan sekadar memutar musik, tetapi juga memutar kembali kenangan—kenangan yang tersimpan rapat di sudut hati.

Tahun 1992. Lagu “Kangen” dari Dewa 19 baru saja hadir lewat album debut mereka, 19, dinyanyikan oleh Ari Lasso dengan suara yang begitu jujur dan dalam. Saat itu aku memutarnya berkali-kali, seolah setiap nada dan kata mewakili sesuatu yang tak mampu kuucapkan sendiri.

Aku masih ingat jelas… di atas KM Kinambui, kapal yang membawaku menyeberang dari Surabaya menuju Banjarmasin. Laut terbentang luas, angin asin menyapu wajah, dan di telinga… lagu itu terus mengalun dari Walkman kecil yang menjadi teman perjalanan.

Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan biasa. Aku berangkat menjalankan tugas sebagai Ketua Senat Ekonomi, bersama sahabat-sahabat seperjuangan:
Sony Bachtiar sebagai Sekretaris Umum, dan Samsurizal, Ketua BPM. Kami menuju sebuah pertemuan penting—Kongres ISMEI (Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia) di Universitas Lambung Mangkurat tahun 1994.

Di perjalanan itu, hatiku penuh rasa yang aneh sekaligus indah. Ada semangat, ada harapan, ada rasa ingin tahu tentang dunia baru yang akan kutemui. Dan benar saja—Banjarmasin menyambutku dengan begitu hangat.

Budayanya terasa baru bagiku,
masakannya memanjakan lidah,
alamnya mempesona,
dan penduduknya ramah serta bersahaja.

Namun di balik semua pengalaman baru itu… ada satu rasa yang tetap tinggal di dada: rindu.

Rasa itu kadang datang diam-diam, seperti ombak kecil yang menyentuh lambung kapal di malam hari. Dan setiap kali rasa itu muncul, aku kembali menekan tombol play pada Walkman-ku.

Lagu itu kembali mengalun:

Kut'rima suratmu
T'lah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya
Dirimu akan hadirnya diriku…

Setiap kalimatnya seperti menelusup ke dalam hati. Seolah lirik itu ditulis bukan hanya oleh Ahmad Dhani, tetapi oleh perasaan yang saat itu juga sedang tumbuh di dalam diriku.

Saat lagu itu berkata:

"Percayalah padaku, aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam…"

aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan angin laut membawa perasaanku entah ke mana.

Perjalanan itu akhirnya selesai. Kongres berlalu, pengalaman bertambah, kenangan tersimpan. Namun hingga hari ini, setiap kali lagu “Kangen” itu terdengar kembali… aku seperti kembali berdiri di dek KM Kinambui, dengan Walkman Sony di tangan, memandang laut luas, dan merasakan satu hal yang begitu manusiawi:

rindu yang sederhana, tapi begitu dalam.


Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

SETAHUN SETELAH RETAK, AKU KINI BELAJAR UTUH