TENTANG CINTA, KESETIAAN, DAN KETABAHAN - NUANSA BENING
Namun kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang Vidi. Ini juga tentang kita semua. Sebab kematian selalu datang seperti lirik lagu itu: awalnya terasa “biasa saja”, seperti perkenalan hidup yang sederhana, lalu tiba-tiba meninggalkan bayang-bayang yang tak mau pergi. Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kematian bukan soal tua atau muda.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Kullu nafsin dzāiqatul maut
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran)
Ayat ini sederhana, tetapi menampar kesadaran kita: tidak ada satu pun manusia yang memiliki kontrak umur panjang. Ada yang dipanggil di usia senja, ada pula yang dipanggil ketika hidupnya masih sedang berbunga.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar manusia tidak terlena dengan waktu yang terasa masih panjang:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ،
وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ،
وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَIghtanim khamsan qabla khams:
syabābaka qabla haramik, wa shihhataka qabla saqamik,
wa ghināka qabla faqrika, wa farāghaka qabla syughlik,
wa hayātaka qabla mautika.“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)
Ketika mendengar kembali lirik lagu itu—“akan ku kembangkan kasih yang kau tanam di dalam hatiku…”—rasanya seperti pesan yang lebih luas: bukan hanya cinta antar manusia, tetapi juga amal yang kita tanam selama hidup. Sebab pada akhirnya, yang tetap tinggal setelah kita pergi hanyalah tiga hal: doa, amal, dan jejak kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ،
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُIdzā māta al-insānu inqaṭa‘a ‘anhu ‘amaluhu illā min tsalāth:
ṣadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa‘u bih, aw waladin ṣāliḥ yad‘ū lah.“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim ibn al-Hajjaj)
Maka ketika kita mengucapkan:
إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah)
kalimat itu sebenarnya bukan hanya doa untuk orang yang telah pergi. Itu juga pengingat untuk kita yang masih tinggal.
Karena pada akhirnya hidup ini memang seperti lagu itu:
awal perkenalan terasa biasa saja…
lalu perlahan muncul kenangan yang tak mau pergi…
hingga suatu hari jarak itu menjadi nyata.
Dan saat seseorang telah pergi, kita baru benar-benar merasakan:
“Kini terasa sungguh… semakin engkau jauh… semakin terasa dekat.”
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Selamat jalan, Vidi. 🤍
Semoga Allah menerima segala ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan untuk kita yang masih diberi napas hari ini, pertanyaan yang tersisa hanya satu:
kalau panggilan itu datang malam ini… sudah berapa bekal yang kita bawa pulang?