JAM KARET
Di pagi yang sibuk itu, jalanan kota masih ramai oleh motor, mobil, dan orang-orang yang terburu-buru. Tapi di dalam rumah Adi, dunia berjalan dengan ritme sendiri. Air mengalir deras dari shower, aroma sabun masih menempel di rambutnya, handuk melingkar di bahu. Adi mengelap wajahnya, sambil setengah bergumam pada dirinya sendiri: “Ya ampun, lagi buru-buru tapi tetap harus rapih. Dunia ini gak bisa nunggu, tapi setidaknya aku bisa nyantai dulu...” Tiba-tiba, WA berbunyi. “Adi… kamu di mana?” Adi menatap layar, senyum tipis muncul. Ia mengetik cepat: “OTeWe broohh…” Lalu berhenti, menatap dirinya sendiri di cermin, dan tertawa kecil: “OTeWe ya… padahal baru mandi. Ah, biarin, orang-orang Indonesia mah ngerti…” Di luar, teman-temannya menunggu. Panitia acara sudah menyesuaikan rundown: start pukul 09.00, walau undangan bilang 08.00. Semua orang tahu, jam karet sudah jadi bagian dari kebiasaan. Tapi uniknya, tidak ada yang marah—justru muncul tawa kecil di antara mereka, sambil meny...