TAK SEMUA YANG PERGI HARUS DIKEJAR

 


Dulu, Aku termasuk orang yang percaya bahwa semua hal bisa diperjuangkan. Kalau ada teman menjauh, Aku dekati lagi. Kalau ada hubungan yang mulai renggang, Aku berusaha memperbaiki. Kalau ada orang yang berubah sikap, Aku mencari tahu apa salahku.

Pokoknya, Aku selalu merasa bahwa segala sesuatu harus diselamatkan.

Sampai akhirnya hidup mengajariku satu kenyataan yang cukup menyesakkan dada.

Ternyata tidak semua yang pergi ingin kembali.

Tidak semua yang menjauh sedang menunggu untuk dicari.

Dan tidak semua pintu yang tertutup memang ditakdirkan untuk dibuka lagi.

Awalnya sulit menerima kenyataan itu.

Ada masa ketika Aku sibuk bertanya-tanya.

"Apa kurangku?"

"Apa Aku salah bicara?"

"Apa Aku kurang baik?"

"Apa Aku kurang peduli?"

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala seperti notifikasi grup WhatsApp yang tidak pernah berhenti muncul.

Semakin dipikirkan, semakin lelah.

Semakin dicari jawabannya, semakin tidak ditemukan.

Sampai suatu hari Aku sadar.

Kadang masalahnya bukan karena Aku kurang baik.

Kadang memang mereka hanya tidak ingin tinggal.

Dan itu tidak selalu salah siapa-siapa.

Ada orang yang hadir hanya untuk satu musim.

Ada yang datang membawa pelajaran.

Ada yang datang membawa kebahagiaan.

Ada juga yang datang membawa luka, lalu pergi sambil meninggalkan kebijaksanaan.

Begitulah hidup bekerja.

Tidak semua orang yang datang ditakdirkan menetap.

Sejak saat itu Aku mulai belajar melepaskan.

Bukan menyerah.

Bukan juga tidak peduli.

Tetapi memahami batas antara memperjuangkan dan memaksakan.

Karena memperjuangkan sesuatu yang masih memiliki harapan adalah keberanian.

Sedangkan memaksakan sesuatu yang sudah jelas tidak menginginkan kita hanyalah cara halus menyakiti diri sendiri.

Aku belajar bahwa hubungan yang sehat tidak membutuhkan paksaan.

Persahabatan yang tulus tidak membutuhkan rayuan.

Kasih sayang yang tulus tidak membutuhkan ancaman kehilangan.

Dan cinta yang benar tidak membuat seseorang merasa harus terus membuktikan dirinya layak dicintai.

Kalau harus terus mengejar agar dianggap berharga, mungkin tempat itu memang bukan tempat kita.

Lucunya, manusia sering seperti itu.

Kita rela mengejar orang yang tidak peduli berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Tapi lupa menghargai orang-orang yang diam-diam selalu ada.

Kita sibuk mengetuk pintu yang terkunci.

Padahal ada banyak jendela yang terbuka lebar di sekitar kita.

Kita fokus pada satu orang yang pergi.

Sementara banyak orang lain sedang berusaha masuk ke dalam hidup kita membawa kebaikan.

Hidup memang kadang lucu.

Kita menangis karena kehilangan satu daun yang jatuh.

Padahal pohonnya masih berdiri kokoh.

Yang lebih indah lagi, ketika berhenti memaksa, Aku menemukan ketenangan yang selama ini tidak pernah kurasakan.

Aku tidak lagi sibuk mengatur siapa yang harus bertahan.

Aku tidak lagi lelah mengejar validasi.

Aku tidak lagi memaksa diri untuk diterima oleh semua orang.

Karena ternyata kebahagiaan bukan berasal dari banyaknya orang yang menyukai kita.

Tetapi dari kemampuan menerima diri sendiri apa adanya.

Hari ini Aku percaya, apa yang memang menjadi bagian hidupku tidak akan mudah pergi.

Dan apa yang memang ditakdirkan pergi, sekuat apa pun Aku menahan, akhirnya akan pergi juga.

Maka jika hari ini ada seseorang yang memilih menjauh, lepaskan dengan lapang.

Jika ada yang berubah, terimalah dengan tenang.

Jika ada yang meninggalkanmu, doakan yang baik-baik.

Bukan karena kamu lemah.

Bukan karena kamu kalah.

Tetapi karena hatimu sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa tidak semua hal harus dimiliki agar bisa disyukuri.

Teruslah melangkah.

Teruslah menjadi pribadi yang baik.

Teruslah menebar manfaat.

Karena hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan mengejar orang yang tidak ingin tinggal.

Percayalah.

Ketika kamu berhenti memaksa yang salah untuk bertahan, Allah sedang menyiapkan yang tepat untuk datang.

Dan saat waktunya tiba, kamu akan tersenyum sambil berkata,

"Oh... ternyata selama ini yang Aku anggap kehilangan, hanyalah cara Tuhan membersihkan jalan menuju sesuatu yang lebih baik."

Maka jangan takut ditinggalkan.

Jangan takut kehilangan.

Yang perlu ditakuti hanyalah kehilangan diri sendiri demi mempertahankan seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ingin tinggal.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

SETAHUN SETELAH RETAK, AKU KINI BELAJAR UTUH