Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

CEMAGI, GERBANG TERAKHIR SEBELUM KITA KEHILANGAN RUMAH

Gambar
  Ada sebuah pertanyaan yang kadang muncul diam-diam ketika saya berjalan melewati desa-desa di Bali: Sebenarnya, sampai kapan Bali bisa tetap menjadi Bali? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Sebab Bali bukan benda mati yang bisa kita masukkan ke dalam etalase, diberi label “Authentic Bali” , lalu kita pastikan tidak berubah. Bali adalah manusia. Ia lahir, tumbuh, beradaptasi, tertawa, marah, bekerja, berdoa, mencintai, kehilangan, lalu mencoba bangkit lagi. Karena itu, ketika saya menulis Paradoks Bali , saya tidak sedang ingin mencari siapa yang salah. Saya hanya sedang mencoba mendengar. Mendengar suara tanah yang perlahan kehilangan ruang. Mendengar petani yang masih mencangkul, tetapi anaknya lebih tertarik bekerja di hotel. Mendengar laut yang tetap datang setiap pagi, meskipun manusia semakin sering datang membawa sampah. Mendengar desa yang masih menjalankan adat, tetapi harus berbagi ruang dengan kepentingan ekonomi yang semakin besar. Dan mungkin yang paling sulit dideng...

KETIKA PARA ALUMNI PULANG

Gambar
  Menyambut Munas IKA Unmer Malang dan Merancang Masa Depan Bersama Ada satu masa dalam hidup ketika kita akhirnya mengerti bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah tempat. Kadang pulang adalah kembali kepada sebuah nilai. Kembali kepada orang-orang yang pernah berjalan bersama kita. Kembali kepada sebuah kampus yang mungkin dulu hanya kita kenal sebagai tempat kuliah, tempat mengejar IPK, tempat mencari teman, tempat jatuh cinta, tempat patah hati, bahkan tempat berkali-kali menunggu uang kiriman orang tua. Dan setelah puluhan tahun berlalu, kita baru sadar... Ternyata kampus itu bukan sekadar tempat kita pernah belajar. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Di sanalah sebagian dari kita pertama kali belajar menjadi dewasa. Belajar berdebat. Belajar berbeda pendapat. Belajar memimpin. Belajar menerima kekalahan. Belajar jatuh cinta. Dan yang paling penting, belajar bahwa hidup ternyata tidak pernah sesederhana teori yang tertulis di buku. Kini, para alumni Univer...

WE'RE ALL ALONE

Gambar
  Hidup memang lucu Saat semuanya berjalan baik, kita merasa punya banyak teman. Grup WhatsApp ramai. Telepon tak pernah sepi. Undangan datang silih berganti. Bahkan orang yang dulu lupa nama kita, tiba-tiba ingat tanggal ulang tahun kita. Tapi begitu hidup mulai diguyur hujan... Satu per satu payung itu menghilang. Yang tersisa hanya suara rintik air di atap rumah, secangkir kopi yang mulai dingin, dan hati yang diam-diam sedang belajar berdamai. Malam itu hujan turun tanpa permisi. Aku duduk di dekat jendela, memandang jalan yang mulai kosong. Lampu-lampu kota tampak kabur karena butiran air. Entah kenapa, setiap hujan selalu membawa kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Kenangan tentang orang-orang yang pernah singgah. Tentang mimpi-mimpi yang pernah diperjuangkan. Tentang harapan yang ternyata memilih jalan lain. Lucunya, manusia sering mengira kesepian adalah hukuman. Padahal kadang, kesepian adalah ruang kelas paling sunyi yang dipakai Tuhan untuk mengajarkan pelajaran ...