WE'RE ALL ALONE
Hidup memang lucu
Saat semuanya berjalan baik, kita merasa punya banyak teman. Grup WhatsApp ramai. Telepon tak pernah sepi. Undangan datang silih berganti. Bahkan orang yang dulu lupa nama kita, tiba-tiba ingat tanggal ulang tahun kita.
Tapi begitu hidup mulai diguyur hujan...
Satu per satu payung itu menghilang.
Yang tersisa hanya suara rintik air di atap rumah, secangkir kopi yang mulai dingin, dan hati yang diam-diam sedang belajar berdamai.
Malam itu hujan turun tanpa permisi.
Aku duduk di dekat jendela, memandang jalan yang mulai kosong. Lampu-lampu kota tampak kabur karena butiran air. Entah kenapa, setiap hujan selalu membawa kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Kenangan tentang orang-orang yang pernah singgah.
Tentang mimpi-mimpi yang pernah diperjuangkan.
Tentang harapan yang ternyata memilih jalan lain.
Lucunya, manusia sering mengira kesepian adalah hukuman.
Padahal kadang, kesepian adalah ruang kelas paling sunyi yang dipakai Tuhan untuk mengajarkan pelajaran paling penting.
Di ruang itulah kita mulai mengenal diri sendiri.
Selama ini kita sibuk mengenal orang lain, sibuk memenuhi ekspektasi siapa saja, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, "Apa kabar hatimu?"
Kalau hati bisa berbicara, mungkin ia akan menjawab pelan,
"Akhirnya kamu pulang juga..."
Aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan selalu datang bersama keramaian.
Ternyata tidak.
Ada orang yang tertawa paling keras di pesta, tetapi menangis paling lama ketika pulang.
Ada yang setiap hari dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Dan ada pula seseorang yang duduk sendirian di beranda rumah, ditemani suara jangkrik dan hujan, tetapi justru merasa damai.
Ternyata ramai belum tentu berarti bersama.
Sepi pun belum tentu berarti sendiri.
Hidup memang sering mengajarkan hal-hal yang paradoks.
Semakin dewasa, semakin kita sadar bahwa tidak semua orang akan berjalan sampai akhir perjalanan.
Ada yang hanya menemani satu tikungan.
Ada yang cukup sampai persimpangan.
Ada yang pamit tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Awalnya sakit.
Lama-lama kita mengerti.
Memiliki bukan berarti selamanya.
Melepaskan bukan berarti kalah.
Karena setiap orang datang membawa pelajaran, bukan jaminan akan tinggal.
Maka jangan terlalu marah ketika musim berubah.
Bunga mawar pun tidak mekar sepanjang tahun.
Daunnya gugur.
Batangnya mengering.
Namun ketika waktunya tiba, ia kembali berbunga dengan lebih indah.
Begitu pula manusia.
Tidak selamanya kita kuat.
Tidak selamanya kita tersenyum.
Kadang kita perlu menangis.
Bukan karena lemah.
Tetapi karena hati juga butuh mandi.
Air mata adalah hujan kecil yang membersihkan debu-debu jiwa.
Dan percaya atau tidak...
Setelah menangis biasanya tidur jadi lebih nyenyak.
Meski bangunnya tetap disuruh bayar listrik.
Begitulah hidup.
Selalu ada ruang untuk tertawa, bahkan di tengah luka.
Sebab Tuhan tidak pernah menciptakan kesedihan tanpa menyelipkan secuil harapan.
Ketika malam terasa terlalu panjang, tutuplah jendelamu sejenak.
Bukan untuk menghindari dunia.
Tetapi untuk memberi kesempatan hatimu beristirahat.
Redupkan cahaya.
Pelankan suara pikiran.
Biarkan semua kekhawatiran keluar satu per satu, seperti daun-daun yang diterbangkan angin.
Tidak semua masalah harus diselesaikan malam ini.
Ada persoalan yang memang hanya bisa dijawab oleh waktu.
Dan waktu selalu bekerja lebih sabar daripada manusia.
Peluklah orang-orang yang masih ada.
Kalau mereka jauh, peluklah doa untuk mereka.
Kalau mereka sudah tiada, peluklah kenangan baik yang mereka tinggalkan.
Karena cinta sejati tidak pernah diukur dari seberapa lama seseorang tinggal.
Tetapi dari seberapa dalam ia mengubah hidup kita.
Pada akhirnya...
Perjalanan ini memang harus kita tempuh dengan kaki kita sendiri.
Tak ada seorang pun yang benar-benar bisa menggantikan langkah kita.
Namun itu bukan berarti kita benar-benar sendirian.
Masih ada doa ibu yang diam-diam terbang setiap selesai salat.
Masih ada ayah yang mungkin tidak pandai berkata sayang, tetapi rela memikul beban tanpa suara.
Masih ada sahabat yang tidak selalu hadir, tetapi selalu mendoakan dari kejauhan.
Dan yang paling penting...
Masih ada Allah yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan ketika seluruh dunia terasa menjauh.
Maka jika suatu hari hujan kembali datang...
Jangan buru-buru mengutuk langit.
Siapa tahu, hujan itu sedang membersihkan jalan agar esok pagi kita bisa melangkah lebih ringan.
Karena hidup bukan tentang seberapa banyak orang yang berjalan di samping kita.
Melainkan tentang keberanian untuk tetap melangkah, meski jalan terasa sunyi.
Dan ketika semua suara dunia perlahan menghilang...
Kita akan menemukan satu suara yang sejak dulu selalu setia menemani.
Suara hati.
Suara harapan.
Dan suara Tuhan yang berbisik lembut,
"Tenang... Aku selalu bersamamu."