KETIKA PARA ALUMNI PULANG

 


Menyambut Munas IKA Unmer Malang dan Merancang Masa Depan Bersama

Ada satu masa dalam hidup ketika kita akhirnya mengerti bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah tempat.

Kadang pulang adalah kembali kepada sebuah nilai.

Kembali kepada orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.

Kembali kepada sebuah kampus yang mungkin dulu hanya kita kenal sebagai tempat kuliah, tempat mengejar IPK, tempat mencari teman, tempat jatuh cinta, tempat patah hati, bahkan tempat berkali-kali menunggu uang kiriman orang tua.

Dan setelah puluhan tahun berlalu, kita baru sadar...

Ternyata kampus itu bukan sekadar tempat kita pernah belajar.

Ia adalah bagian dari perjalanan hidup kita.

Di sanalah sebagian dari kita pertama kali belajar menjadi dewasa.

Belajar berdebat.

Belajar berbeda pendapat.

Belajar memimpin.

Belajar menerima kekalahan.

Belajar jatuh cinta.

Dan yang paling penting, belajar bahwa hidup ternyata tidak pernah sesederhana teori yang tertulis di buku.

Kini, para alumni Universitas Merdeka Malang kembali dipanggil oleh sebuah momentum besar.

Munas IKA — Ikatan Alumni Universitas Merdeka Malang.

Sebuah pagelaran besar yang sesungguhnya bukan hanya tentang memilih siapa yang menjadi ketua.

Bukan pula sekadar tentang menyusun kepengurusan, membuat program kerja, membagi jabatan, lalu setelah itu kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Munas seharusnya menjadi sebuah ruang untuk merancang masa depan alumni.

Sebab zaman sudah berubah.

Alumni juga berubah.

Dulu kita datang ke kampus membawa buku dan mimpi.

Hari ini kita datang membawa pengalaman.

Ada yang sudah menjadi pengusaha.

Ada yang menjadi profesional.

Ada yang menjadi birokrat.

Ada yang menjadi akademisi.

Ada yang menjadi politisi.

Ada yang menjadi tokoh masyarakat.

Ada yang membangun usaha kecil dari nol.

Ada pula yang mungkin hidupnya biasa-biasa saja, tetapi diam-diam telah membesarkan anak-anaknya dengan penuh perjuangan.

Dan jangan lupa...

Ada juga alumni yang sampai hari ini masih sibuk menjawab pertanyaan:

"Kapan suksesnya?"

Hehehe...

Barangkali kita semua punya ukuran sukses masing-masing.

Tetapi satu hal yang semakin kita pahami setelah usia berjalan:

Kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi posisi yang kita capai, tetapi dari seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena keberadaan kita.

Di titik inilah IKA Unmer seharusnya mengambil peran.

Bukan hanya menjadi rumah nostalgia.

Bukan sekadar tempat reuni dan bertukar cerita tentang masa lalu.

Bukan hanya tempat bertemu teman lama sambil berkata,

"Wah, kamu ternyata masih ingat aku?"

Padahal lima menit kemudian bertanya,

"Dulu kamu angkatan berapa ya?"

Karena yang lebih penting dari sekadar mengingat masa lalu adalah membangun masa depan.

Alumni Harus Lebih Berdaya Guna

Saya membayangkan IKA Unmer sebagai sebuah rumah besar.

Rumah yang pintunya terbuka.

Di dalamnya ada berbagai macam manusia dengan latar belakang yang berbeda.

Berbeda fakultas.

Berbeda angkatan.

Berbeda daerah.

Berbeda profesi.

Berbeda suku.

Berbeda agama.

Berbeda pengalaman hidup.

Bahkan mungkin berbeda pilihan politik.

Tetapi ada satu hal yang menyatukan:

kita pernah memakai almamater yang sama.

Dan mungkin itulah kekuatan terbesar alumni.

Bukan karena kita seragam.

Justru karena kita berbeda.

Perbedaan itulah yang jika dikelola dengan baik akan menjadi energi besar.

Alumni yang kuat bukan alumni yang semuanya berpikir sama.

Alumni yang kuat adalah alumni yang mampu berbeda tanpa harus bermusuhan, berkompetisi tanpa saling menjatuhkan, dan bekerja bersama meskipun tidak selalu memiliki kepentingan yang sama.

Karena pada akhirnya, yang kita bangun bukan kejayaan seseorang.

Yang kita bangun adalah kejayaan bersama.

IKA Unmer harus mampu menjadi jembatan.

Jembatan antara alumni dengan almamater.

Jembatan antara alumni senior dengan alumni muda.

Jembatan antara alumni dengan dunia usaha.

Jembatan antara alumni dengan pemerintah.

Jembatan antara alumni dengan masyarakat.

Dan yang paling penting, menjadi jembatan agar kekuatan-kekuatan kecil yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dapat bertemu menjadi kekuatan besar.

Sebab sering kali masalah kita bukan karena tidak memiliki orang hebat.

Kita punya banyak orang hebat.

Masalahnya, orang-orang hebat itu kadang berjalan sendiri-sendiri.

Padahal jika mereka duduk dalam satu meja, mungkin banyak persoalan bisa selesai sambil minum kopi.

Lalu, Kepemimpinan Seperti Apa yang Dibutuhkan?

Pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting:

Kepemimpinan seperti apa yang ideal untuk IKA Unmer ke depan?

Menurut saya, kita perlu mulai keluar dari cara berpikir bahwa organisasi alumni harus bertumpu pada satu orang.

Karena satu orang, sehebat apa pun dia, tetap manusia.

Ada batas tenaga.

Ada batas waktu.

Ada batas pengetahuan.

Ada batas jaringan.

Dan tentu saja ada batas kemampuan untuk mengurus WhatsApp group yang kadang lebih ramai daripada ruang rapat.

Karena itu, saya melihat pola Presidium sebagai salah satu model yang sangat relevan untuk IKA Unmer.

Bukan karena kita kekurangan pemimpin.

Justru karena kita memiliki terlalu banyak orang yang memiliki kapasitas untuk memimpin.

Presidium: Bukan Membagi Kekuasaan, tetapi Membagi Tanggung Jawab

Presidium bukan berarti menciptakan banyak ketua.

Presidium justru harus dipahami sebagai cara untuk mendistribusikan tanggung jawab, kekuatan, jaringan, sumber daya, dan beban kerja.

Bayangkan misalnya ada tujuh orang anggota Presidium.

Tujuh orang ini bukan sekadar tujuh nama yang duduk di atas struktur organisasi.

Mereka adalah representasi dari kekuatan alumni.

Mereka dapat dijaring dari berbagai basis:

  • wilayah,

  • angkatan,

  • fakultas,

  • gender,

  • profesi,

  • jaringan sosial,

  • serta keberagaman suku dan agama.

Bukan untuk membuat organisasi menjadi rumit.

Tetapi agar sebanyak mungkin unsur alumni merasa:

"Ini rumah kita."

Bukan rumah kelompok tertentu.

Bukan rumah satu angkatan.

Bukan rumah satu fakultas.

Bukan rumah satu wilayah.

Tetapi rumah besar seluruh keluarga alumni Unmer.

Dalam pola ini, Ketua Presidium ditetapkan secara permanen sebagai pemegang mandat utama kepemimpinan organisasi, sementara anggota Presidium berfungsi seperti executive council atau dewan eksekutif yang menjadi mitra strategis Ketua Presidium dalam mengambil keputusan-keputusan penting.

Dengan demikian, ketua tetap memiliki otoritas dan arah kepemimpinan yang jelas.

Tetapi ia tidak berjalan sendirian.

Setiap keputusan strategis dibahas bersama.

Setiap persoalan dapat dilihat dari berbagai perspektif.

Setiap kekurangan dapat ditutup oleh kekuatan anggota lainnya.

Dan setiap kelebihan dapat dioptimalkan untuk kepentingan bersama.

Karena kita semua tahu:

Tidak ada manusia yang sempurna.

Tetapi sebuah tim yang baik bisa membuat kekurangan seseorang menjadi kecil dan kelebihannya menjadi besar.

Itulah esensi Presidium.

Tujuh Orang, Tujuh Kekuatan

Saya membayangkan tujuh anggota Presidium seperti tujuh kaki sebuah meja.

Kalau hanya satu kaki yang kuat, meja itu tetap akan goyang.

Tetapi ketika tujuh kaki bekerja bersama, meja menjadi kokoh.

Satu mungkin kuat dalam bisnis.

Satu kuat dalam pemerintahan.

Satu kuat dalam akademik.

Satu kuat dalam jaringan daerah.

Satu kuat dalam dunia profesional.

Satu kuat dalam komunikasi dan media.

Satu lagi mungkin memiliki kemampuan luar biasa membangun hubungan sosial.

Tidak harus semuanya sama.

Justru jangan dibuat sama.

Karena organisasi yang sehat tidak membutuhkan tujuh orang yang berpikir sama.

Ia membutuhkan tujuh orang yang saling melengkapi.

Dan ini bukan sekadar soal struktur.

Ini juga soal pendanaan.

Beban organisasi tidak seharusnya diletakkan pada satu orang.

Kebutuhan organisasi bisa dibangun melalui gotong royong sumber daya para anggota Presidium, jejaring alumni, kontribusi wilayah, kerja sama dengan dunia usaha, fundraising, program kemitraan, maupun berbagai sumber pendanaan yang sah dan transparan.

Dengan demikian, IKA tidak hidup dari "siapa yang punya uang".

Tetapi hidup dari siapa yang mau mengambil tanggung jawab.

Karena uang memang penting.

Tetapi jaringan, gagasan, waktu, keahlian, akses, pengalaman, bahkan kemauan untuk membuka pintu bagi alumni lain juga merupakan modal.

Tidak semua orang bisa menyumbang dalam bentuk uang.

Ada yang menyumbang dengan jaringan.

Ada yang menyumbang dengan keahlian.

Ada yang menyumbang dengan waktu.

Ada yang menyumbang dengan gagasan.

Ada yang hanya bisa menyumbang dengan doa.

Dan percayalah...

Kadang doa seorang ibu lebih mahal daripada proposal sponsorship setebal 30 halaman.

Kita Tidak Sedang Mencari Orang yang Paling Hebat

Munas ini seharusnya tidak menjadi arena mencari siapa yang paling hebat.

Bukan pertandingan siapa yang paling banyak pengikutnya.

Bukan pula kompetisi siapa yang paling panjang daftar jabatannya.

Kita sedang mencari format kepemimpinan yang paling mampu membawa seluruh alumni bergerak bersama.

Karena tantangan IKA ke depan tidak ringan.

Kita membutuhkan organisasi yang mampu membangun database alumni.

Membuka jejaring ekonomi.

Mendorong kolaborasi bisnis.

Membantu alumni muda mendapatkan mentor.

Membuka akses pekerjaan.

Mengembangkan pendidikan.

Memberikan kontribusi sosial.

Menghubungkan alumni dengan almamater.

Dan yang tidak kalah penting:

mengembalikan kebanggaan menjadi bagian dari keluarga besar Unmer.

Alumni tidak boleh hanya menjadi nama yang tercetak di buku kenangan.

Alumni harus menjadi energi.

Harus menjadi jaringan.

Harus menjadi kekuatan.

Harus menjadi orang-orang yang ketika almamater membutuhkan sesuatu, kita berkata:

"Apa yang bisa kita bantu?"

Bukan:

"Itu urusan kampus."

Pada Akhirnya, Kita Akan Sampai pada Satu Pertanyaan

Setelah semua jabatan selesai.

Setelah struktur organisasi terbentuk.

Setelah palu sidang diketuk.

Setelah foto bersama.

Setelah spanduk diturunkan.

Setelah semua orang pulang ke kota masing-masing...

Apa yang tersisa?

Yang tersisa adalah pekerjaan.

Yang tersisa adalah janji.

Yang tersisa adalah tanggung jawab.

Karena Munas bukan garis akhir.

Munas adalah garis start.

Kita sedang membuka bab baru perjalanan panjang alumni Unmer.

Bab ketika usia tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti berbuat.

Justru semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang seharusnya bisa kita wariskan.

Kita sudah pernah menjadi mahasiswa.

Sekarang saatnya menjadi mentor.

Kita sudah pernah menerima ilmu.

Sekarang saatnya berbagi ilmu.

Kita sudah pernah dibantu orang lain.

Sekarang saatnya membantu.

Kita sudah pernah bermimpi tentang masa depan.

Sekarang saatnya membantu generasi berikutnya mewujudkan mimpi mereka.

Dan mungkin di situlah makna sesungguhnya menjadi alumni.

Bukan tentang seberapa lama kita pernah memakai almamater itu.

Tetapi tentang seberapa lama kita bersedia membawa nama baik almamater itu dalam kehidupan kita.

Mari Pulang, Bukan Sekadar untuk Bernostalgia

Mungkin nanti ketika kita berkumpul dalam Munas IKA Unmer, akan ada rambut yang semakin putih.

Ada perut yang semakin maju.

Ada kacamata yang semakin tebal.

Ada yang berjalan sudah tidak sesigap dulu.

Tetapi semoga semangat kita justru semakin muda.

Karena usia boleh bertambah.

Tetapi cita-cita jangan ikut pensiun.

Kita datang bukan hanya untuk mengenang siapa kita dahulu.

Kita datang untuk bertanya:

"Apa yang bisa kita lakukan setelah ini?"

Untuk almamater.

Untuk sesama alumni.

Untuk masyarakat.

Untuk bangsa.

Dan untuk generasi yang akan datang.

Mari kita bangun IKA Unmer bukan sebagai organisasi yang sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi sebagai organisasi yang berdaya guna.

Organisasi yang mampu menyatukan perbedaan.

Organisasi yang mampu mengubah jaringan menjadi peluang.

Mengubah pengalaman menjadi pengetahuan.

Mengubah pertemuan menjadi kolaborasi.

Mengubah nostalgia menjadi karya.

Dan mengubah rasa memiliki menjadi pengabdian.

Sebab pada akhirnya, hidup manusia bukan hanya tentang apa yang berhasil ia kumpulkan.

Tetapi tentang apa yang berhasil ia tinggalkan.

Nama mungkin akan dilupakan.

Jabatan akan selesai.

Kekuasaan akan berpindah.

Tetapi kebaikan yang pernah kita tanam akan menemukan jalannya sendiri.

Mungkin melalui seorang alumni muda yang kita bantu.

Mungkin melalui seorang teman yang kembali bangkit karena kita ulurkan tangan.

Mungkin melalui sebuah usaha yang lahir dari pertemuan alumni.

Mungkin melalui mahasiswa yang mendapatkan beasiswa.

Atau mungkin melalui sebuah keputusan kecil yang hari ini kita ambil bersama, lalu puluhan tahun kemudian baru terasa manfaatnya.

Itulah warisan.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa kita semua perlu pulang.

Bukan sekadar pulang ke Malang.

Tetapi pulang kepada sebuah cita-cita.

Bahwa pernah menjadi bagian dari Universitas Merdeka Malang bukan hanya sebuah catatan dalam ijazah.

Ia adalah amanah.

Dan kini waktunya kita menjadikan amanah itu lebih berarti.

Munas IKA Unmer bukan hanya tentang siapa yang memimpin.

Tetapi tentang bagaimana kita semua mau mengambil bagian dalam kepemimpinan itu.

Karena masa depan IKA Unmer tidak akan dibangun oleh satu orang.

Ia akan dibangun oleh banyak tangan.

Banyak pikiran.

Banyak hati.

Dan banyak alumni yang masih percaya bahwa:

bersama-sama, kita masih bisa membuat sesuatu yang berarti.

Maka mari kita duduk satu meja.

Kita lepaskan ego.

Kita simpan sementara perbedaan.

Kita buka hati.

Kita satukan pengalaman.

Dan kita mulai satu perjalanan baru.

Karena barangkali...

setelah puluhan tahun kita sibuk mengejar kehidupan, kini saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

"Apa yang bisa saya berikan kembali?"

Dan dari pertanyaan sederhana itulah, mungkin sebuah babak baru IKA Unmer akan lahir.

Bukan untuk kita yang sudah selesai dengan kehidupan.

Tetapi untuk mereka yang masih akan meneruskan perjalanan.

Dan untuk almamater yang dulu pernah mengajarkan kita satu hal paling penting:

bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik, dan setiap perjuangan akan selalu berarti ketika dilakukan bersama.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

SETAHUN SETELAH RETAK, AKU KINI BELAJAR UTUH