JANGAN TARUH SELURUH HATI DAN PIKIRANMU DI SATU TITIK MASALAH




Ada satu kebiasaan yang sering kita banggakan: totalitas. Katanya kalau melakukan sesuatu harus sepenuh hati, sepenuh pikiran, bahkan sepenuh hidup. Kalimat itu memang terdengar indah. Tapi setelah usia mengajari banyak hal, saya baru sadar, ada satu pengecualian yang sering terlupakan.

Jangan pernah menaruh hati dan pikiranmu seratus persen hanya pada satu titik masalah.

Karena ketika seluruh perhatianmu hanya tertuju pada satu luka, perlahan kamu akan kehilangan kemampuan melihat begitu banyak nikmat yang masih berdiri di sekelilingmu.

Aku pernah berada di sana.

Rasanya seperti dunia mengecil hanya sebesar persoalan yang sedang dihadapi. Bangun tidur yang terpikir itu lagi. Mau makan, masalah itu ikut duduk di meja. Mau bekerja, masalah itu ikut membuka laptop. Bahkan ketika orang lain mengajak bercanda, yang terdengar tetap suara isi kepala sendiri.

Lucunya, masalahnya tidak bertambah besar.

Yang membesar justru rasa takutnya.

Semakin kita tatap, semakin terlihat mengerikan.

Sampai akhirnya aku mengerti, ternyata fokus yang berlebihan tidak selalu membawa kebaikan. Mata kita memang hanya melihat satu titik, tetapi hidup tidak pernah hanya terdiri dari satu titik.

Di saat itulah aku mendengar sebuah lagu lama. Liriknya sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang dalam.

"A simple touch of your hand, and everything is right..."

Kadang hidup memang tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Cukup ada satu sentuhan kecil. Sebuah pelukan dari ibu. Sapaan sahabat. Tawa anak-anak. Doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua. Bahkan secangkir kopi hangat di pagi hari bisa mengembalikan keyakinan bahwa hidup masih layak diperjuangkan.

Lagu itu kemudian berkata,

"The gentle way you look at me..."

Aku tersenyum sendiri.

Ternyata manusia tidak selalu membutuhkan solusi lebih dulu. Yang sering kita butuhkan adalah seseorang yang tetap memandang kita berharga, bahkan ketika kita sedang merasa gagal.

Bukankah begitu cara Allah mengajarkan kasih sayang-Nya?

Saat kita merasa tidak pantas, Dia masih memberi napas.

Saat kita kecewa pada hidup, matahari tetap terbit.

Saat kita menangis semalaman, pagi tetap datang tanpa meminta bayaran.

Lalu mengapa kita begitu mudah menyerah hanya karena satu bab kehidupan belum selesai?

Bagian yang paling menyentuh hatiku adalah ketika lagu itu berkata,

"I've found a masterpiece in you..."

Awalnya kupikir lagu ini hanya tentang pasangan.

Namun semakin lama kupahami, setiap manusia sebenarnya adalah sebuah masterpiece.

Karya terbaik Sang Pencipta.

Sayangnya kita sering sibuk mencari kekurangan pada diri sendiri sampai lupa bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia sebagai produk gagal.

Yang gagal hanyalah cara kita memandang diri sendiri.

Kita terlalu sering membandingkan lukisan kita dengan galeri milik orang lain.

Padahal setiap kanvas memiliki cerita yang berbeda.

Ada yang dilukis dengan warna cerah.

Ada yang dihiasi hujan.

Ada pula yang dipenuhi goresan-goresan kehidupan.

Dan justru goresan itulah yang membuat sebuah lukisan menjadi bernilai.

Kadang aku membayangkan hidup ini seperti sedang melukis.

Kalau salah satu warna tumpah, masa iya seluruh kanvas dibuang?

Ya tinggal lanjut melukis.

Kalau kuasnya jatuh?

Ya diambil lagi.

Kalau catnya habis?

Ya beli lagi... kalau dompet mengizinkan. Kalau belum, ya tunggu gajian sambil tetap tersenyum. Hidup ini jangan kalah hanya karena catnya habis.

Sedikit humor kadang lebih ampuh daripada seribu nasihat.

Karena hati yang sedang lelah tidak selalu butuh ceramah panjang. Kadang ia hanya perlu diingatkan bahwa masih boleh tertawa.

Lirik berikutnya benar-benar menamparku.

"Sometimes I wonder what I'd be had I not found you..."

Dalam hidup, "you" tidak selalu berarti pasangan.

Bisa jadi itu adalah keluarga.

Guru.

Sahabat.

Seorang mentor.

Atau bahkan sebuah kegagalan.

Ya, kegagalan.

Karena banyak orang hebat justru lahir setelah dipertemukan dengan kegagalan yang paling menyakitkan.

Kalau hidupmu hari ini terasa berat, jangan buru-buru mengutuk keadaan.

Siapa tahu itu sedang memperkenalkanmu pada versi terbaik dirimu sendiri.

Lalu ada kalimat yang menurutku sangat indah,

"Now my life's a canvas painted with your love."

Aku jadi berpikir...

Bukankah hidup kita juga sedang dilukis oleh kasih sayang Allah?

Ada warna bahagia.

Ada warna kehilangan.

Ada warna harapan.

Ada warna air mata.

Semuanya berpadu menjadi lukisan yang mungkin hari ini belum kita mengerti.

Tetapi nanti, ketika kita melihatnya dari kejauhan, kita akan berkata,

"Oh... ternyata semua ini memang harus terjadi."

Dan akhirnya sampailah pada bagian yang paling menguatkan.

"When I'm lost and insecure, you build me up and make me sure that everything will be alright."

Tidak ada manusia yang selalu kuat.

Tidak ada pemimpin yang tidak pernah ragu.

Tidak ada pebisnis yang selalu untung.

Tidak ada rumah tangga tanpa ujian.

Tidak ada pejuang yang tidak pernah ingin berhenti.

Yang membedakan hanyalah siapa yang memilih bangkit lagi.

Maka kalau hari ini kamu sedang menghadapi masalah, izinkan aku menitipkan satu pesan sederhana.

Jangan letakkan seluruh hati dan pikiranmu pada masalah itu.

Sisakan ruang untuk melihat langit.

Sisakan ruang untuk keluarga.

Sisakan ruang untuk ibadah.

Sisakan ruang untuk sahabat.

Sisakan ruang untuk mimpi.

Dan yang paling penting, sisakan ruang untuk berharap kepada Allah.

Karena masalah hanyalah satu halaman.

Sedangkan hidupmu masih memiliki begitu banyak bab yang belum selesai ditulis.

Percayalah, badai tidak selamanya tinggal.

Mendung pun akhirnya bosan.

Dan matahari selalu punya cara untuk kembali menyapa.

Suatu hari nanti, ketika semua ini telah berlalu, mungkin kita akan tersenyum sambil berkata, "Ternyata yang dulu membuatku menangis, justru mengajariku cara tersenyum."

Seperti lagu itu yang akhirnya tidak hanya bercerita tentang cinta kepada seseorang, tetapi juga tentang menemukan sebuah "masterpiece" dalam kehidupan. Dan mungkin, masterpiece terbesar itu bukan orang lain.

Melainkan dirimu sendiri... yang berhasil bertahan melewati semua badai, tanpa kehilangan iman, harapan, dan kemampuan untuk tetap mencintai kehidupan.

Sebab hidup bukan tentang menghindari masalah, melainkan tentang belajar bahwa di balik setiap luka selalu ada ruang untuk bertumbuh. Dan ketika hati tetap bersandar kepada Allah, setiap goresan kehidupan akan berubah menjadi karya yang indah—sebuah masterpiece yang kelak akan kita syukuri.

Postingan populer dari blog ini

56 - SAAT WAKTU ITU TIBA… RENNY PULANG KE PANGKUAN ALLAH

BADAI ITU MEMANG DATANG TANPA PERMISI - 18 DESEMBER 2024.

SETAHUN SETELAH RETAK, AKU KINI BELAJAR UTUH