Postingan

CINTA ITU SEARAH, MESKI TAK SELANGKAH

Gambar
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT :  — Ketika Cinta Belajar Tunduk kepada Allah Aku pernah mengira cinta itu soal tatapan. Tentang dua pasang mata yang saling menemukan, lalu dunia mendadak sunyi, seperti adegan film yang diperlambat. Hujan turun rapi, musik sendu mengalun, dan hidup terasa selesai di situ. Padahal kenyataannya, setelah tatapan pertama, hidup justru baru dimulai. Tagihan datang tanpa permisi, pekerjaan menumpuk seperti cucian seminggu, mimpi-mimpi minta diperjuangkan, dan ego—ah, ego—datang paling awal dan pulang paling akhir. Suatu malam, entah dari buku siapa atau unggahan siapa, aku membaca kalimat ini: “Cinta bukan saling memandang, tapi melihat ke arah yang sama.” Awalnya terdengar klise. Kalimat yang cocok dipajang di dinding kafe, ditemani kopi pahit dan Wi-Fi gratis. Tapi semakin kupikirkan, semakin terasa dalam. Karena cinta memang bukan soal memastikan wajah siapa yang kita lihat setiap hari, melainkan ke mana kaki ini ...

INDONESIA RUMAH YANG KITA RUSAK SENDIRI PELAN-PELAN SECARA SADAR

Gambar
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Aku menulis ini bukan sebagai orang suci, bukan juga sebagai aktivis paling benar. Aku menulis sebagai manusia biasa. Yang kadang masih buang sampah sembarangan kalau lagi capek. Yang masih naik kendaraan bermotor walau tahu polusinya bikin dada bumi sesak. Yang masih duduk manis di kursi kayu, ngetik di meja kayu, sambil sok marah-marah melihat berita hutan gundul di layar ponsel. Makanya, tulisan ini bukan untuk menyalahkan “mereka”. Ini refleksi buat kita semua. Buat bangs ini —termasuk aku, termasuk kamu. Sadarkah kita, betapa sering kita sibuk menunjuk jari? “Korporasi jahat.” “Pemerintah lalai.” “Penambang rakus.” Semua benar. Tapi sering kita lupa bercermin. Coba cek pelan-pelan, bro. Kursi di rumahmu, mejamu, lemari bajumu—kayu dari mana? Jangan-jangan ia pernah berdiri gagah sebagai pohon tua, sebelum roboh oleh gergaji. Cincin di jarimu, emas di lehermu—indah berkilau, tapi bisa jadi berasal dari peru...

13 - 347 LANGKAH MENUJU PULANG: LIBURAN YANG DIAM-DIAM MENGUBAH HIDUP

Gambar
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Liburan semester selalu datang dengan rasa yang sama: dada terasa longgar, kepala agak kosong, dan hati seperti baru lolos dari medan perang bernama ujian. Soal-soal yang kemarin rasanya dibuat bukan untuk menguji kecerdasan, tapi keikhlasan dan iman. Begitu bel terakhir berbunyi, aku dan Bram saling pandang—pandangan dua prajurit yang baru keluar dari bunker, wajah kusam tapi mata berbinar. “Gas liburan?” tanyaku sok santai. “Wajib,” jawab Bram, dengan ekspresi kalem yang gagal menutupi otaknya yang muter kayak kipas angin Miyako. Tanpa diskusi panjang, tujuan itu muncul dari kenangan lama: Solo . Lebih spesifik lagi, rumah Mas Anin—atlet renang nasional, badan kekar, hati lembut, tinggal di komplek TNI AU Adi Soemarmo. Tempat yang aneh tapi hangat: keras kayak aba-aba baris-berbaris, tapi ramah kayak sayur lodeh nenek di sore hujan. “Gratis seminggu nginep,” kataku. Bram langsung berdiri, “Berangkat. Biar aspal ...

RINDU YANG TAK JADI PULANG

Gambar
  UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Kadang hidup ini memang seperti penggalan lagu yang salah masuk playlist—kita berharap bangun dan menemukan semuanya hanyalah mimpi. Tapi sayangnya, tidak ada tombol skip untuk kenyataan. Termasuk kenyataan bahwa seseorang yang dulu kita genggam erat kini sedang menggenggam tangan orang lain, sementara kita sibuk menggenggam penyesalan sendiri. Dulu, kamu memutuskan dia. Dengan percaya diri, dengan ego yang saat itu terasa tinggi—padahal sebenarnya rapuh. Kamu merasa keputusan itu benar, sampai akhirnya dunia diam-diam berubah arah. Dan ketika ingin mengulang, semuanya sudah telanjur terjadi. Ya, begitulah cinta: kadang kita sadar betapa berharganya sesuatu justru setelah kita melepasnya dengan mudah. Kini kamu masih ingin bertemu. Masih ingin memeluk. Masih ingin berkata satu kalimat sederhana yang dulu terlalu sulit diucapkan: “Maaf, aku bodoh.” Tapi semua itu tinggal “ingin”. Karena dia sudah memilihnya—...

SAAT IKHLAS MENEMUKAN SUNYINYA

Gambar
  UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLIK LINK VIDEO BERIKUT : Kisah Pergi yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang   Ada kalanya hidup mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk dimiliki, bukan untuk digenggam erat, dan bukan pula untuk ditahan mati-matian. Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kita tentang seni melepaskan—dengan cara yang paling lembut, paling sunyi, dan paling menyakitkan sekaligus. Ini adalah kisah tentang itu. Tentang aku, tentang dia, dan tentang takdir yang tidak selalu berpihak pada keinginan, tapi selalu berpihak pada kebaikan.   Saat Tugas Itu Usai Malam itu tiba-tiba terasa lebih lengang dari biasanya. Entah kenapa, suara kipas angin terdengar lebih jelas, doa-doa terdengar lebih pelan, dan hatiku terasa seperti duduk sendirian di sebuah kursi kosong. Di dalam sunyi itu, hati kecilku berbisik: “Aku sudah selesai menjagamu.” Bukan karena aku berhenti sayang. Bukan karena aku lelah. Dan bukan pula karena kamu berubah. ...

CATATAN DARI PANGGUNG SILAKNAS ICMI 2025

Gambar
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLINK LINK VIDEO BERIKUT : Pagi itu, Jimbaran menyambutku dengan angin yang terasa… aneh. Entah kenapa, seperti ada getaran kecil yang membuat langkahku lebih pelan dari biasanya. Mungkin karena semalam aku tidur hanya seperti ayam jago—melek sedikit, tidur sedikit—atau barangkali karena hati ini sedang bersiap menghadapi sesuatu yang besar. Yang jelas, langkahku menuju Four Points Hotel terasa seperti sedang melangkah ke panggung besar kehidupan. Dan jujur saja, rasanya seperti tiba-tiba di- upgrade tanpa pemberitahuan. Mendadak merasa lebih rapi, lebih serius, lebih dewasa—meski sebenarnya sandal jepit masih menggoda dari balik pintu rumah. Tapi sungguh, pagi itu adalah hadiah. Alhamdulillah ya Allah , sebuah keberuntungan kecil yang terasa seperti bisikan lembut dari langit. Ketika Bali Menjadi Rumah Para Cendekia Tanggal 5–7 Desember 2025 bukan sekadar rangkaian angka. Ia terasa seperti perayaan akal, jiwa, dan masa depan. Di Jimbara...

SAAT OTAK BERBICARA PELAN: KISAH SEBUAH PEMULIHAN YANG TIDAK DIPAHAMI BANYAK ORANG

Gambar
UNTUK MENDAPAT SUASANA TERBAIK, SILAHKAN KLINK LINK VIDEO BERIKUT :   Hidup memberi kita ujian yang tidak pernah kita pesan. Tiba-tiba kita terjebak dalam sebuah episode panjang yang membuat kita sadar: ternyata untuk sekadar membuka mata, menarik napas, atau mengatur emosi pun membutuhkan perjuangan yang tidak main-main. Dan di sinilah cerita ini bermula—tentang menjadi penyintas stroke, terutama Stroke Hemoragik , yang bukan hanya menghantam tubuh, tetapi juga menghantam hati, pikiran, dan seluruh cara pandang terhadap hidup.   Awal Dari Segalanya: Ketika Otak Menjerit Tanpa Suara Ada banyak jenis stroke: Stroke Iskemik, penyumbatan. Stroke Hemoragik, pecahnya pembuluh darah. TIA, serangan ringan yang biasanya jadi alarm bahaya. Tapi ketika seseorang mengalami Stroke Hemoragik, itu seperti badai besar yang menerjang rumah tanpa persiapan. Pembuluh darah pecah, darah menekan jaringan otak, kesadaran hilang, kemampuan berkurang, dan hidup berubah tota...